Piala AFF, Momentum Naturalisasi PSSI

Luar biasa.

Cukup dua kata itu yang menggambarkan kekuatan sepakbola Indonesia saat ini. Macan Asia yang telah lama tertidur kini kembali menunjukkan taringnya.Indonesia menutup babak penyisihan dengan poin sempurna, selain itu kemenangan yang diraih pun tidak tanggung-tanggung, diawali dengan mencukur Malaysia dengan skor 5-1, Indonesia semakin percaya diri dengan membantai Laos dengan skor setengah lusin, 6 go, tanpa balas dan menutupnya dengan kemenangan heroik atas Thailand 2-1.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan Cristian El Loco Gonzales dan Irfan Bachim sebagai pemain naturalisasi telah memberikan warna tersendiri di Internal Timnas, tidak hanya menambah tajam ujung tombak Timnas, keberadaan keduanya juga menambah persaingan untuk memperebutkan posisi sebagai starter.

Kesimpulannya, naturalisasi telah membawa perubahan positif bagi sepakbola Indonesia.

Sempat terpikirkan, jika Naturalisasi saja dapat memberikan efek positif pada persepakbolaan Indonesia (Timnas), mengapa Indonesia tidak MENCOBA ME-NATURALISASI PSSI ?? TERUTAMA KETUA UMUMNYA ??

Hhaha..

MAHAsiswa

Bagi sebagian orang “titel” mahasiswa memiliki nilai prestisius tersendiri, hal itu karena mahasiswa dinilai memiliki sebuah paradigma yang lebih baik, memang, begitu seharusnya.

Mahasiswa adalah sosok manusia yang mengenyam pendidikan lebih lama jika dibandingkan golongan masyarakat lain, tak salah maka ketika masyarakat berharap banyak pada mahasiswa,selain itu, ditangan mereka lah nanti amanah kepemimpinan bangsa ini akan dipegang, mahasiswa lah sosok wakil rakyat sejati, sosok yang belum terkontaminasi dengan kepentingan golongan, partai dan sebagainya.

Kematangan mahasiswa semakin di asah dengan dinamika kehidupan kampus yang menjadikan nya menjadi sosok unik, sosok kritis idealis. Perbedaan suku, ras, daerah dalam lingkungan kampus telah membuat mahasiswa menghargai dan mengenal sebuah perbedaan pemikiran dan karakter, yang nantinya akan mengembangkan paradigma kedewasaan berpikir mereka.

Begitu banyak kelebihan yang dimiliki mahasiswa,.

selanjutnya mereka dituntut secara sadar, dengan berbagai kelebihan yang dimiliki, memiliki sebuah beban moral yang besar, dalam lingkup terkecil, seorang mahasiswa dalam konteks mahasiswa perguruan tinggi negri, telah melewati sebuah tes masuk Perguruan tinggi negeri, ketika mereka lulus, mereka telah ‘mengambil’ hak peserta lain. Hal itu mengartikan bahwa harapan calon mahasiswa lain itu kini ada di tangan mahasiswa itu, dalam lingkup yang lebih luas, kita adalah sosok yang nantinya diharapkan memegang amanah negeri ini, harapan 230 juta lebih penduduk negeri ini terdapat di pundak kita, mengapa ?

Karena memang nyatanya seperti itu, sejarah telah membuktikan, dalam roda pergerakan sebuah bangsa, mahasiswa selalu terlibat di dalamnya, mahasiswa selalu berada dalam garda terdepan.

Selain itu, mahasiswa adalah kelompok minoritas istimewa di negeri ini, hanya 2% dari jumlah penduduk Indonesia ini yang dapat merasakan bangku perguruan tinggi dengan status mahasiswa nya. Belum lagi jika skala itu lebih diperkecil, berapa banyak dari 2% itu yang beruntung merasakan pendidikan di ITB, UI, ITS, UNDIP, UGM, dan perguruan tinggi TOP lainnya.

-Potensi Kebaikan yang sangat besar dalam tubuh mahasiswa Indonesia, akankah sia-sia, menguap begitu saja-

 

“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya (Hasan Al-Banna)

Selamat Belanja Masalah Pa’BEYE^^

Di awal kepengurusan nya sebagai  presiden RI, Tsunami menguncang Indonesia, satu tahun kepengurusan period ke-2 nya, demo besar-besaran di gelar dengan tema besar “gagalnya pemerintahan”, beberapa hari setelah itu, berturut-turut bencana menghampiri negeri ini, mulai dari timur hingga ke barat, banjir wasior, meletusnya merapi, hingga tsunami mentawai.

“Selamat belanja masalah pa BEYE” tak salah memang ketika sebuah buku memberikan judul besar seperti itu. Mengesampingkan opini yang berkembang bahwa bencana ini merupakan ujian atau cobaan, nyatanya segala hal itu menuntut reaksi yang cepat dari pemerintah, SBY yang selama ini identik dengan politik pencitraannya, kini dihadapkan dengan sebuah realita, sebuah tantangan besar akan penanggulangan bencana tersebut.

Belum selesai segala penanggulangan bencana, Indonesia kembali disuguhkan kenyataan pahit, rasa keadilan rakyat Indonesia kembali tercoreng. Gayus HT pelakunya, mafia pajak yang seharusnya meringkuk di sel Mako Brimob kelapa dua ‘tertangkap’ kamera salah seorang wartawan surat kabar sedang asik menonton pertandingan tenis Internasional di Bali. Seketika seluruh jajaran kepolisian merasa tertampar, Inilah saatnya kinerja Timur Pradopo sebagai Kapolri baru diuji, Kasus Gayus ini ibarat sebuah panggung besar bagi timur untuk menunjukkan kapabilitasnya yang sempat diragukan oleh khalayak ramai, selain itu kasus gayus juga menjadi momen pembuktian bagi SBY yang selama ini selalu menempatkan pemberantasan korupsi dalam agenda pemerintahannya.

Celoteh seorang MABA..

Ini sebuah cerita sekumpulan anak SMA, 1 tahun lalu, tiba-tiba saya teringat cerita 1 tahun lalu saat saya masih duduk dibangku SMA-masa paling indah-, saya bersama beberapa teman sering mengadakan diskusi ringan, diskusi setelah kami selesai liqo (mentoring), rasanya sulit sekali beranjak dari posisi duduk setelah liqo itu, mungkin karena kami berada di Masjid, tempat pusat aura positif.

Menarik, jika saya ingat apa yang kami diskusikan, memang tidak ada topik yang jelas dalam pembicaraan itu, ngalor-ngidul orang betawi bilang, mulai dari urusan dunia, agama, membicarakan tokoh, dan yang menurut saya topik yang tidak pernah kami lewatkan ialah membicarakan INDONESIA, entah, entah yang siapa yang memulai, secara tidak sengaja tema itu muncul ke permukaan.

Mungkin bagi sebagian orang hal itu aneh, anak SMA kok bicara Indonesia.

Tapi dalam forum inilah kami membangun rasa peduli terhadapa permasalah bangsa, ya, rasa peduli itu yang terpenting.

Hingga puncak dari topik besar INDONESIA itu menyeruak ketika pertemuan kami di Masjid BI Jakarta Ramadhan lalu, seorang teman mengungkapkan sebuah pertanyaan besar yang sangat monumental menurut saya, SEBENARNYA APA YANG MEMBUAT INDONESIA BELUM BISA MAJU ?

Kami yang notabenya adalah mahasiswa baru, membawa sebuah pertanyaan besar dalam diri, mengapa, karena dalam lingkup kampus yang baru kami temui, kami melihat, tiap tahun, perguruan tinggi TOP Indonesia meluluskan mahasiswanya, terpikir dalam benak kami masing-masing, dengan lulusan-lulusan terbaik bangsa yang jumlahnya ribuan tiap tahun, mengapa bangsa ini mengalami stagnansi, atau pertanyaannya kemana para sarjana tersebut ??

***

Beralih dari seorang murid SMA menjadi seorang mahasiswa, seharusnya saya sadar, saya bukan lagi murid SMA yang hanya pandai beretorika.

guardian of value, agent of change, agent of social control, iron stock

dengan sederet label mahasiswa tersebut, kini, secara sadar tidak sadar, suka tidak suka, serius tidak serius, kita dituntut merubah tatanan retorika itu menjadi sebuah amal nyata, kita dituntut melompat dari meja diskusi menuju lapangan AKSI.

MAHASISWA, Ayo kita berkarya !!!

“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya” (Hasan Al-Banna)

-celoteh seorang MABA-

Hanya beberapa kata, tapi semangat nya sangat terasa !!^^

Quote bagus yang saya dapat dari pelantikan kader gamais ITB

4 kekuatan da’I : dzikir, do’a, tilawah dan Qiyamul Lail (Ust. Arif)

Disini kita sama-sama memperbaiki diri dan tak lupa untuk memperbaiki orang lain. Disini kita sama-sama berubah dan tak lupa untuk mengubah orang lain (Kang Aji)

Komitmen ini adalah komitmen suci, komitmen yang tidak mengharapkan balasan dari manusia, bahkan ucapan terima kasih sekalipun (one of BPH Gamais)

Medan berbicara memang lebih mudah daripada medan berbuat, dan medan berbuat lebih mudah daripada medan kesungguhan (Kang Aji)

Dalam gerbong perjuangan ini, kita tidak butuh orang yang suka mengeluh dan hanya membuat keruh, kita butuh orang bersih yang dapat membuat jernih (Kang Aji).

Tarbiyah ini sudah susah payah saya dapatkan, jadi saya tidak akan melepaskan tarbiyah ini (Kang Hafiz)

Kerja dakwah bukan kerja 1 orang, ataupun 1 generasi (Kang Aji)

Apa yang membuat kalian pantas di terima di GAMAIS ?? (BPH Gamais)

Kontribusi tidak butuh posisi. (Unknown)

Karya dan Kontribusi adalah Ambisi (Kang Aji)