Road to Super Great FLSDKN Bandung 2012

Rabu, 23 Maret 2011

Sesuai hasil Fs NAS 2010 Universitas Pattimura Ambon, GAMAIS ITB diamanahkan sebagai penyelenggaran Fs NAS 2012. Dan mulai beberapa minggu lalu dibentuklah tim kecil yang berfungsi sebagai tim inti yang akan menjadi inisator acara ini.

Setelah terbentuk tim inti ini, tugas tim ini adalah menentukan ketua pelaksana acara Fs NAS / FSLDKN 2012 ini.

Mungkin banyak orang yang akan berpikir terlalu cepat membentuk kepanitiaan ini, mengingat acara baru akan berlangsung 1 tahun mendatang.

Tapi target mendatangkan minimal  5000 ikhwah dalam acara ini, dan mengingat urgensi lain dari event besar LDK ini, maka GAMAIS memutuskan membentuk kepanitian lebih awal, mematangkan konsep acara, serta menyiapkan acara dengan segala pernak-perniknya.

Setelah melalui beberapa syuro yang cukup panjang dan cukup alot -karena calon-calon yang ada merasa tidak sanggup memegang amanah besar ini- akhirnya tepilihlah Azwar Achmad Badawi, Teknik Sipil 2009 sebagai ketua pelaksana FSLDKN 2012.

Semoga dengan terbentuknya kepanitian ini lebih awal, acara yang diselenggarakan benar-benar matang dan target mendatangkan minimal 5000 ikhwah ini bisa tercapai, dan tentunya target acara ini sebagai salah satu trigger perubahan Indonesia yang lebih baik akan benar-benar terwujud.

satu keluarga menjadi model LDK nasional berbasis pembinaan dan kompetensi melingkupi seluruh sayap dakwah menuju Indonesia Islami. (Visi GAMAIS ITB)

entah acara ini kebetulan atau tidak, tapi sebagai seorang muslim, saya yakin segala terjadi di dunia ini adalah ketetapan dan kehendak Allah SWT, dan mungkin Fs NAS 2012 ini adalah tarbiyah dari Allah bagi GAMAIS ITB untuk dapat merealisasikan visi besarnya itu.

Perjalanan ini baru akan dimulai.

Menapakinya butuh perjuangan.

Tidak butuh keluh dan kesahmu.

Yang kami butuh semangat dan keikhlasanmu.

Merubah Indonesia.

Merubah dunia.

Ini momentumnya.

Siapkan jasadiyah, fikriyah dan ruhaniyah


ALLAHUAKBAR !!!!

Road to Super Great FSLDKN XVI Bandung 2012…

Kadwil (Kaderisasi Wilayah) FTTM

Minggu 27 maret 2011.

 

Kaderisasi wilayah FTTM kembali dimulai, dengan membawa teman Po-Po-P (Posisi-Potensi-Peran) Mahasiswa, Kaderisasi Wilayah ini memasuki fasa ketiganya.

Setelah pertemuan perdana mengenalkan kami (mahasiswa tingkat 1 FTTM) tentang jurusan-jurusan yang ada dalam FTTM, dan pertemuan kedua mengingatkan akan pentingnya organisasi dalam kehidupan kemahasiswaan, Kadwil ketiga ini seolah menjadi pelengkap keduanya.

Posisi, Potensi dan Peran mahasiswa, sebagai seorang MABA (Mahasiswa Baru), rasanya hal itu sangat penting untuk terus didiskusikan, agar kami sadar dan mengerti bahwa kami telah bermetamorfosis, dari seorang abu-abuers menjadi seorang tanpa seragam, dari seorang siswa menjadi seorang MAHAsiswa.

Abang-abang dan kaka FTTM ingin menyadarkan kami, “kalian bukan anak SMA lagi loh, kalian mahasiswa loh, posisi, potensi dan peran kalian sekarang ini loh”.

Yang sangat menarik dari pertemuaan ketiga ini adalah kami harus terjun langsung kelapangan, menemui masyarakat sekitar ITB berdialog dengan mereka terkait permasalahan mereka dan kontribusi apa yang dapat diberikan mahasiswa ITB dengan kompetensi keilmuan yang dimilikinya dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Inti materi Po-Po-P Kaderisasi Wilayah FTTM part 3 ini adalah sebagai berikut :

 

Posisi Mahasiswa: Civil Intellectual

Dalam tatanan kehidupan masyarakat, secara garis kelompok-kelompok masyarakat dibagi ada 3 bagian, yaitu :

  1. Masyarakat Ekonomi
  2. Masyarakat Sipil
  3. Masyarakat Politik

 

Dalam bagan alur kehidupan masyarakat ini, mahasiswa berada dalam kelompok kedua, yaitu masyarakat sipil, terlebih lagi dalam hal ini mahasiswa terspesialisasi lagi menjadi masyarakat sipil yang terdidik (Civil Intellectual), artinya mahasiswa adalah sekumpul orang-orang terpilih dari yang terpilih. Best Of the best…

 

Peran Mahasiswa

  1. Agent of change

Arah perubahan suatu bangsa, pasti selalu lekat dengan dinamika kehidupan mahasiswanya, begitu pun Indonesia. Momentum sejarah terdekat yang dapat dijadikan patokan peran mahasiswa sebagai agent of change adalah reformasi ’98. Calon dokter, calon engineer, calon birokrat, calon sosiolog, calon politisi. Semua ada dalam momentum sejarah itu, mahasiswa menunjukkan peran nya sebagai agent of change (agen pembawa perubahan), menumbangkan rezim tirani saat itu dan membawa platform demokrasi dalam dinamikan bangsa ini.

 

2. Guardian of value (Penjaga nilai-nilai)

Dengan keintelektualannya, mahasiswa diharapkan menjadi sosok-sosok yang dapat menjaga nilai-nilai luhur bangsa ini, nilai-nilai kejujuran, kesopanan dan nilai-nilai luhur lainnya yang telah lama berkembang dan menjadi jati diri bangsa ini.

Dengan semakin derasnya arus globalisasi, peran mahasiswa menjadi semakin penting dalam penjaga nilai-nilai luhur ini.

 

3.Iron Stock

Fakta sejarah mengatakan, dengan status orang-orang tepilih, minoritas terpelajar, di masa yang akan datang mahasiswa akan mengisi pos-pos strategis kehidupan bangsa dan negara ini. itulah peran mahasiswa sebagai iron stock. Stock pengganti pemegang amanah-amanah penting dalam kehidupan Indonesia nantinya. Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa iron, mengapa tidak wood, nickel dan sebagainya. Karena mahasiswa adalah manusia biasa, yang akan menjalani kehidupan sesuai fitrahya, ada waktu dimana mahasiswa akan memasuki usia senja dan kemudian digantikan sama seperti iron (besi) yang akan berkarat.

 

4. Role Model

Berlabel seorang terpilih, kelompok minoritas, kelompok yang beruntung dapat merasakan pendidikan sampai tingkat tertinggi. Sudah seharusnya mahasiswa menjadi role model (contoh) bagi jutaan penduduk Indonesia lainnya.

 

Potensi :

  1. Kritis
  2. Idealis
  3. Masih Muda

Ini hanya sebagian dari sekian banyak potensi terpendam mahasiswa, tentunya 3 kata diatas sudah tidak asing di telinga kita.

 

Awal mendengar Kadwil, saya mengira acara ini akan useless (tidak berguna), perploncoan, maen fisik, dsb.

Namun, kenyataannya berbeda, kadwil memberikan beragam wawasan baru bagi kami mahasiswa tingkat 1 FTTM terkait dunia kemahasiswaan kami. Mantap !!

 

Demi Allah, Untuk Bangsa dan Almamater,,,,MERDEKA !!!

Panggung Rakyat KM ITB 2011

Mahasiswa selalu identik dengan kata perubahan, hal itu karena nilai historis mahasiswa 13 tahun silam yang sangat sentral dalam mengawal perubahan bangsa ini, menumbangkan rezim tirani dan membawa flatform demokrasi. Maka tak heran dalam dinamika kehidupan bangsa ini khususnya paska reformasi, masyarakat berharap banyak pada peran dan kontribusi mahasiswa.

Namun, dalam keberjalanannya, harapan masyarakat itu hanya tinggal harapan, pada kenyataan nya mahasiswa seolah kehilangan orientasi gerakannya, alih-alih berkarya dan berkontribusi untuk bangsa. Image mahasiswa di mata masyarakat justru lebih lekat dengan isu-isu destruktif. Aksi turun ke jalan yang lebih banyak menghasilkan keributan, tawuran antar mahasiswa, pergaulan bebas, hingga keapatisan dan hedonisme.

Dalam lingkup ITB, mahasiswa ITB yang digadang-gadang akan menjadi pemimpin bangsa dimasa datang, malah terkesan tidak peduli dengan permasalahan bangsa. Berlatarbelakang hal itu, Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) ITB 2010/2011, didalam koridor Kementrian Sosial Politik menginisiasi sebuah acara yang diharapkan akan kembali mengingatkan mahasiswa akan perannya, dan berusaha menyadarkan mahasiswa akan kontribusi dan posisinya.

Panggung Rakyat ITB 2011, Dengan tema “Membumikan Gerakan, Berkarya untuk Indonesia”,  ingin mengajak mahasiswa berkarya dan berkotribusi untuk menyelesaikan masalah bangsa Indonesia melalui seni dan budaya.

Acara utama Panggung Rakyat diadakan pada tanggal 19 Maret 2011. Dimulai dengan naiknya MC , tepat pukul 12.30 acara pun dimulai. Seharusnya acara ini dimulai dengan sambutan dari ketua panitia, Ichsan Marta Teknik Pertambangan 2009, namun berhubung Ichsan sedang kurang sehat, maka sambutan diwakilkan oleh, Wildan, Teknik Perminyakan 2009 sebagai wakil ketua acara. Setelah sambutan dari panitia, acara selanjutnya adalah penampilan yang diisi oleh para peserta sayembara penampilan, yaitu : Orkes dari Himpunan Mahasiswa Tambang ITB, grup Musik dari Geologi ITB, grup dari Himpunan Mahasiswa “TERRA” ITB, hingga perwakilan dari mahasiswa TPB. Sesuai dengan peraturan lomba yang diajukan, para peserta sayembara ini membawa tema permasalahan bangsa.

Acara Panggung Rakyat ini bukanlah acara yang berlangsung hanya satu hari, namun ini adalah rentetan acara, karena sebulan lebih sebelum berlangsungmnya acara puncak pada hari sabtu itu, seluruh mahasiswa S1 ITB di ajak untuk turut berperan aktif dalam acara ini dengan mengikuti berbagai lomba yang diselenggarakan, yaitu Lomba Esai, Surat Cinta Untuk Indonesia, Fotografi dan Sayembara Penampilan itu sendiri. Sesuai dengan tema besar acara ini dalam lomba pre event ini mahasiswa ITB diajak untuk lebih mengetahui permasalahan bangsa dan berusaha memberikan solusi dari sudut pandang mahasiswa.

Untuk lebih menghidupkan suasana, di sela-sela acara penonton juga disuguhi penampilan guest star, guest star pertama ialah dari Teater Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Teater UI membawakan sebuah pertunjukkan teater yang menggambarkan kondisi kekinian bangsa, mulai dari korupsi yang merajalela, hingga penegakan hukum yang tebang pilih. Tampilnya Teater UI ini semakin menambah semarak acara ini, selain itu, dengan penampilan yang sangat menarik ini,  jumlah penonton yang hadirpun semakin ramai.

Selain Teater Mahasiswa UI, Panitia juga menghadirkan guest star dari dalam ITB sendiri, yaitu penampilan dari Unit-Unit Kebudayaan ITB, tepat pukul 15.30 WIB unit kebudayaan yang terdiri dari Lingkar Seni Sunda, Unit Kesenian Betawi, Unit Kebudayaan Aceh, Unit Kesenian Sulawesi Selatan dll memulai pertunjukkannya, pertunjukkan semakin ramai, karena masing-masing unit membawa pendukungnya.

Dalam acara ini, penonton tidak hanya disuguhi penampilan diatas panggung, karena panitia juga membuka stand-stand jajanan rakyat, periksa gigi, donor darah yang terletak tidak jauh dari panggung acara. Selain itu, panitia juga membuka stand pameran hasil karya lomba pre event dalam stand galeri yang terletak disamping panggung acara.

Setelah penampilan dari unit-unit Kebudayaan, tibalah acara yang dinanti-nanti seluruh penonton, yaitu pembacaan pemenang lomba pre event Panggung Rakyat ini. Namun, berhubung banyak pemenang yang tidak hadir dalam pengumuman ini, akhirnya penyerahan hadiah lebih banyak diwakilkan oleh panitia.

Menjelang akhir acara, dengan tujuan untuk lebih menghadirkan esensi acara ini yaitu interaksi antara mahasiswa ITB dengan masyarakat, panitia menghadirkan sebuah grup musik masyarakat sekitar, yaitu bernama “Iwan Fals” Gelap Nyawang, dengan gaya sangat mirip Iwan Fals, grup musik ini menjadi sajian unik tersendiri bagi penonton.

Sebagai penutup, Herry Darmawan sebagai Presiden Kabinet KM ITB dan Hatsby sebagai Menteri Koordinator Sosial Politik Kabinet KM ITB membacakan selembar puisi tentang kondisi kekinian bangsa dengan diikuti oleh lantunan melodi dari grup “Iwan Fals” Gelap Nyawang.

ehm, tenyata menulis itu tidak semudah berbicara..

Ternyata tak mudah dan tak segampang kelihatannya, namun juga tak sesulit yang diduga.

Yap, menulis memang tak semudah keliatannya, mentransformasikan untaian ucapan dalam rangkaian kata penuh rasa, bermutu, dan bermakna ini dibutuhkan sebuah keahlian tersendiri. Meskipun bukan berarti menulis adalah bakat (inborn), menulis ‘hanya’ membutuhkan kemauan dan kekontinuan.

Awalnya memang ragu, takut ketika tulisan ini tidak bermutu, tidak bermakna, atau malah tidak berguna, tapi rasanya jika terus ragu, dan takut untuk memulai, kita (saya) tidak akan pernah belajar untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan dalam tulis menulis.

Bukannya karena tahu akan ada perbaikkan makanya kita tidak ragu mebuat kesalahan ? ^^

Pernah saya bertanya seorang kaka kelas saya tentang bagaimana dia bisa menulis dengan sangat lihai seperti sekarang. Jawabannya simple yang penting mulai dulu, tulis apa aja.

Kalo kita (saya) terus berpikir kualitas dan takut memulai, kapan saya takut titik lemah itu ?

Menurut saya, yang penting kuantitas, dengan semakin banyak menulis kita akan semakin tahu kelemahan dan kekurangan tulisan kita, selanjutnya Insya Allah kualitas akan terus mengikuti.

Mengutip kata-kata Fachmi Casofa, if not me who, if not now when ?..