Tak Pernah Tawuran dan Bullying, SMA 78 Dapat Penghargaan

Jakarta – Di hari ulang tahunnya, Kementerian Hukum dan HAM memberikan penghargaan khusus pada SMA 78 Jakarta. Sekolah tersebut dianggap sebagai SMA tertib hukum karena tak pernah terlibat tawuran atau bullying.

Penghargaan diberikan langsung oleh Menkum HAM Amir Syamsuddin didampingi Wamenkum HAM Denny Indrayana. Acara digelar di kantor Kemenkum HAM, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Senin (31/10/2011).

“SMA 78 terpilih sebagai sekolah tertib hukum karena tidak ada tawuran, bullying dan kekerasan di sekolah,” kata pembawa acara, Robby, saat menjelaskan alasan pemberian penghargaan.

Rahmat, salah seorang siswa di sekolah yang terletak di Jl Kemanggisan, Jakarta, itu membenarkan bahwa sekolahnya memang relatif bersih dari tawuran dan bullying. Dia pun merasa bangga atas penghargaan yang diberikan.

“Bangga dong, Mas,” ucapnya singkat.

Menkum HAM Amir Syamsuddin berpesan agar sekolah-sekolah meniru SMA 78. Sebab, generasi muda adalah harapan satu-satunya untuk perbaikan hukum ke depan.

“Genarasi muda berperan aktif dalam mewujudkan budaya hukum,” pesan Amir.

Dalam kesempatan tersebut, diberikan juga penghargaan pada artis Melly Goeslaw, Titik Poespa, Rinto Harahap dan Yovie Widianto atas karya-karya mereka.

Tidak lupa, para penemu dan pencipta hak paten yang berkualitas juga diberi penghargaan.

sumber disini

serpihan makna

Hati ini gembira
Langit bahkan tertawa

 

Namun langit tidak dapat menyembunyikan dukanya
Hidup adalah pembuktian makna cinta

 

Aku nelangsa, aku tertawa dalam sakit rasa
Diam seribu bahasa

 

Ada tawa yang meletup dada
Namun, sesal dan sedih tak kalah jua

 

Galau nian hati ini
Ada gembira bercampur kecewa

abstrak, nulis aja lah..

kenapa judulnya abstrak ? karena tulisan ini emang abstrak banget, kalo kalian sudah baca, pasti nyadar, ada lompatan-lompatan antar paragraf (missing link). Saya sendiri lupa kapan tulisan ini saya buat, sudah ada di folder komputer, baca lagi dan nyatanya saya agak males untuk ngebenerinnya, yaudah langsung saya pos aja, harap maklum yak, :)

Pernah terpikir tentang menulis ?
Banyak orang bilang menulis adalah bakat, ahh, rasanya tak sepenuhnya benar, menurut saya menulis lebih urusan biasa atau tidak. “Bisa Karena Biasa” begitu kira-kira kata-kata bijak yang sering kita dengar. Saya pun akhir-akhir ini sedang belajar membiasakan untuk menulis, dan terkadang muncul rasa penyesalan, mengapa saya tidak memulai menuangkan gagasan-gagasan saya dalam bentuk tulisan sejak SMA, padahal banyak inspirator saat itu, mulai dari senior yang sering menulis notes di Facebook, hingga teman-teman yang mempunyai blog sendiri.

 

Yang penting tulis !

Pernah saya bertanya kepada seorang senior di Kampus yang tulisannya sudah malang melintang di ranah Lembaga Dakwah Kampus Indonesia. “kang, gimana sih kang biar bisa buat tulisan bagus kaya akang ?”, dy menjawab “yang penting mulai aja nulis dulu”.
Iya ya, selama ini saya terlalu takut untuk memulai, atau lebih tepatnya saya takut di kritik ketika tulisan yang saya buat jelek. Padahal harusnya saya tau, kritik-kritik itu malah akan membuat saya menjadi lebih baik..

Yap, cukup ya intermezonya…hhehe..

 

 

Bebicara tentang menulis, banyak orang bilang menulis salah satu cara membangun atau mengubah peradaban.
Hal itu memang tidaklah salah, banyak para ulama-ulama, atau pun tokoh-tokoh, yang telah meninggal, namun sampai saat ini kita masih dapat merasakan eksistensi dirinya.

 

Dalam konteks islam, kita memiliki banyak sekali contoh eksistensi para ulama yang secara fisik mereka sudah tidak ada, namun pemikiran nya masih berkembang hingga saat ini. Dalam bidang kedokteran kita memiliki Ibnu Sina dengan Al-Qanun Fi Ath-Thibbi nya.

Dalam ilmu hitung kita memiliki Al-Khawarizmi dengan Al-Jabar nya. Bahkan seorang Ibnu Taimiyah dikatakan pernah menulis 1 judul kitab dalam sekali duduk (wow..)..

 

Dalam konteks kekinian, kita akan banyak belajar dari Habiburahman ElShirazy, bagaimana tulisan-tulisannya dalam bentuk novel yang kemudian popular dan di film kan kembali membangkitkan semangat Keislaman di Indonesia.
Ketika berbicara tradisi menulis dalam islam, pasti tidak akan ada habisnya, membahas produktivitas orang-orang shloeh terdahulu.

 

Bagaimana dengan kita saat ini ?

 

Aah, kita lebih beruntung, teknologi semakin canggih, internet dengan mudah memberikan kita keleluasaan mencari refensi, buku-buku bacaan pun bukan barang langka.
Belum lagi menilik peran dan amanah kita sebagai seorang mahasiswa, dengan pemikiran kritisnya, idealismenya, dan segala kelebihan lainnya.

 

Jika benar-benar dioptimalkan dengan niat yang ikhlas, menulis memang dapat menjadi lumbung amal yang sangat terbuka…
Maka, tunggu apalagi, yuk tuangkan ide-ide konstruktif kita..^^

<strong> 

 

Perubahan adalah keniscayaan
Dengan kemajuan zaman dan arus barat yang kian menggerus.
Yang kita butuhkan adalah orang-orang dengan konsistensi idealisme.
Karena disini kita sama-sama berubah dan tak lupa mengubah orang lain.
Karena disini kita sama-sama memperbaiki diri dan tak lupa memperbaiki orang lain.

Hidup Mahasiswa !!

Totalitas Perjuangan

Kepada Para Mahasiswa…
Yang Merindukan Kejayaan…
Kepada Rakyat Yang Kebingungan…
Di Persimpangan Jalan…

Kepada Pewaris Peradaban…
Yang Telah Menorehkan…
Sebuah Catatan Kemenangan…
Dilembar Sejarah Manusia…

Wahai Kalian Yang Rindu Kemenangan…
Wahai Kalian Yang Turun Kejalan…
Demi Mempersembahkan Jiwa Dan Raga…
Untuk Negeri Tercinta…

Darah Juang

Disini Negeri Kami…
Tempat Padi Terhampar…
Samuderanya Kaya Raya…
Tanah Kami Subur Tuan…

Di Negeri Permai Ini…
Berjuta Rakyat Bersimbah Luka…
Anak Kurus Tak Sekolah…
Pemuda Desa Tak Kerja…

Mereka Dirampas Haknya…
Tergusur dan Lapar…
Bunda Relakan Darah Juang Kami…
Untuk Membebaskan Rakyat…

 

Buruh Tani

Buruh Tani Mahasiswa Rakyat Miskin Kota…
Bersatu Padu Rebut Demokrasi…
Gegap Gempita Dalam Satu Suara…
Demokrasi Sepenuhnya…

Hari-hari Esok Adalah Milik Kita…
Terbebasnya Masyarakat Pekerja…
Terciptanya Tatanan Masyarakat…
Indonesia Baru Tanpa ORBA…

Marilah Kawan Mari Kita Songsongkan…
Ditangan Kita Tergenggam Arah Bangsa…
Marilah Kawan Mari Kita Nyanyikan…
Sebuah Lagu Tentang Pembebasan…

Di Bawah Kuasa Tirani…
Kutelusuri Garis Jalan Ini…
Berjuta Kali Turun Aksi…
Bagiku Itu Langkah Pasti…

Berderap dan Melaju

Berderap dan melaju
Menuju indonesia baru
Singsingkan lengan baju
Singkirkan semua musuh-musuh
Rakyat pasti menang melawan penindasan
Rakyat kita pasti akan menang
Rakyat pasti menang rebut kedaulatan
Rakyat kita pasti akan menang