Hari 4 Turki : Grand Bazar, Pasar dengan 21 Gerbang.

Hari sudah sangat siang, matahari di langit Turki sudah sangat terik, mungkin juga sudah di ubun-ubun, siap tergelincir ke barat. Jam Turki menunjukkan pukul 14.00, meskipun jam tangan saya masih berpatokan jam Indonesia, tidak sulit menebak-nebak jam berapa saat itu, karena memang berbeda 4 jam secara rigid. Sabtu 1 Juni 2013, bertepatan dengan peringatan hari lahir pancasila, 68 Tahun yang lalu saat Bung Karno membacakan sebuah pidato, Lahirnya Pancasila di depan BPUPKI. Dan hari-hari ini, boleh jadi menjadi hari yang pilu bagi rasa kemanusiaan warga turki, 31 Mei 2010, 3 tahun lalu, rombongan kemanusiaan Freedom Flotila harus menghentikan misi kemanusiaannya tanpa hasil, gerombolan tentara Israel menyerangnya dan mengakibatkan tewasnya 9 warga Turki.

Hari ke 4 di negeri 2 benua ini jadi terasa rumit, momentual dan juga aneh, paska kumpul briefing untuk menyelesaikan segala urusan komunal, kami bersiap-siap untuk pergi menuju Grand Bazar, salah satu pusat belanja terkenal istanbul, agenda kami hari ini adalah belanja ! Untuk menuju Grand Bazar, kami harus menggunakan bus dari Durak (Halte bus) Eyub, distrik dimana kami tinggal, menuju Durak Beyazit. Kami harus berjalan kaki selama 10 menit menuju Durak Eyub dari KJRI, tempat dimana kami menginap.

Oiy, sebenarnya diantara KJRI dan Durak Eyub, terdapat 1 tempat bersejarah yang bisa Anda kunjungi, yaitu Eyub Sultan Camii (masjid dalam bahasa Turki disebut camii, dibaca Jamii), salah satu mesjid bersejarah di kota Istanbul ini. Sistem pembayaran Transportasi di istanbul sangat berbeda jauh dengan Indonesia, di kota ini, untuk penggunaan jasa transportasi Anda harus memiliki Istanbul Card Anda dapat membelinya di pedagang-pedagang pinggir jalan seharga 10 TL, tetapi itu hanya kartunya saja. Anda harus mengisi (deposit) uang Anda didalamnya, layaknya pembelian pulsa. Setelah memastikan deposit uang dalam Istanbul Card cukup, kami langsung menunggu kedatangan bus di Durak Eyub.

Siang ini terasa lebih terik dari hari-hari sebelumnya, bahkan saya harus beberapa kali menutup mata karena silaunya pantulan matahari. Bus itu datang, dan kami langsung bergegas masuk kedalam bus. Nampaknya sistem Transportasi Indonesia sedikit banyak harus belajar dari Istanbul. Pengendali dalam bus ini hanya 1, seorang supir, tanpa kenek, sistem pembayaran menggunakan Istanbul Card memastikan tidak akan ada kesalahan dalam pembayaran, karena sebelum duduk dan masuk ke dalam kursi, didepan bus-disamping sopir, setiap penumpang harus men”scan” Istanbul Cardnya untuk pembayaran. Setiap penumpang yang ingin naik bus, tersentral melalui pintu depan ini.

Perjalanan menuju Beyazit Durak memakan waktu cukup lama, kurang lebih 30 menit, jalanan hari ini lebih ramai, sering sekali sopir harus bolak-balik menginjak rem, ternyata di belahan dunia manapun Sabtu memang akan jadi hari yang lebih ramai di jalanan, termasuk Istanbul ini. Seperti hari-hari sebelumnya bus ini selalu ramai, saya pun harus legowo untuk kembali berdiri, tetapi, tidak terlalu buruk, dengan berdiri saya bisa melihat lanskap Istanbul lebih jelas.

30 menit kemudian kami sampai di Beyazit Durak, tetapi untuk mencapai Grand Bazar, saya harus berjalan kaki lagi, tidak jauh ko, hanya cukup berjalan beberapa menit.

 

Lautan Manusia di pelataran Beyazit camii

IMG_3238 IMG_3241

Sesampainya di pelataran Beyazit camii, kami disuguhi lautan manusia, pelataran ini di sulap menjadi pasar. Riweh, ramai dan sangat padat. Menurut seorang warga warga Turki yang saya tanya, pasar ini memang dibuka setiap hari, Senin sampai Jumat dibuka mulai pukul  6 sore dan Sabtu-Minggu dibuka seharian. Tak Ubahnya pasar di Indonesia, pasar ini juga menjual berbagai macam hal, alat elektronik, pakaian, makanan, barang kuno,  sepatu dan sebagainya. Harganya pun bervariasi. Anda bisa menemukan pakaian seharga 5 TL hingga 10 TL, karena memang ini pasar tradisional, jangan ragu untuk menawar, apalagi Anda yang jelas-jelas tidak bertampang warga Turki, pasti mereka akan menaikan harga seenaknya.

Didepan Beyazit camii Anda bisa melihat gerbang Istanbul University yang sangat kokoh, dengan bendera Turki berkibar gagah di depannya. Lokasi ini memang sangat strategis : Beyazit Camii, Istanbul University dan Grand Bazar.

 

Grand Bazar, I am Not Malaysia, I am Indonesian

 

IMG_3205 IMG_3211 IMG_3221

Lokasi Grand Bazar tepat berada di belakang Beyazit Camii cukup ikutin arah keramaian Anda akan dengan mudah menemukan pasar ini. Sesuai namanya, Grand Bazar merupakan pasar yang sangat besar, bayangkan saja, pasar ini memiliki 21 gate. Grand Bazar tak ubahnya Pasar Tanah Abang Jakarta, hanya memang tempat ini memiliki variasi barang dagangan yang sangat bervariasi : gantungan kunci, miniatur, tempelan kulkas, gitar, pakaian, sepatu, baang-barang keramik, spot makanan dan lain-lain, mungkin semuanya ada !

Memasuki grand Bazar, para pedagangan langsung antusias menyapa kami. “ Hai” “Hello”. Ya, sebagain besa pedagangan disini sangat aktif melakukan marketing kepada para calon pembeli dan karena memang banyak sekali Turis Asing yang berkunjung ke tempat ini, wajar para pedagang di sini cukup fasih berbicara bahasa english. Sayang, selama mengelilingi pasar ini, semua pedagang yang menyapa saya berkata “Are you Malaysia?”. Seketika, saya menjawab “No, I am Indonesia”.

1, 2, 3 pedagang bertanya hal sama “Are You Malaysia”, saya masih oke saja, tetapi ketika yang keempat, saya coba inisiatif bertanya, kenapa mereka mengira saya dari Malaysia, apakah bagi mereka Asia hanya Malaysia? Apakah mereka tidak tahu Indonesia? Usut Punya usut ternyata menurut mereka pengunjung yang datang ke Grand Bazar lebih banyak orang Malaysia daripada Indonesia, mungkin perbandingannya sangat timpang, hingga mereka selalu mengira orang Indonesia sebagai Malaysia. Selain karena frekuensi kunjungan, menurut mereka wajah orang Asia rata-rata sama, sehingga mereka sulit untuk membedakannya. Ketika mereka berkata seperti itu, seketika saya katakan hal yang sama “Turkish have same face too”. Sontak mereka tertawa…

Pada kesempatan itu, saya hanya membeli tempelan kulkas dengan harga 3 pieces 10 TL. Dan gantungan kunci seharga 1.6 TL, tetapi khusus gantungan kunci, karena saya dan teman-teman membeli dalam jumlah banyak, 120 pieces, makanya, harganya bisa 1.6 TL. Harga normal penjual akan menghargai 2 TL untuk 1 pieces. Selain itu saya juga membeli peci @ 6 TL, Kartu Pos per 1 paket (12 foto) 1 TL.

 

Jangan Lupa Happy Jump

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore waktu Turki, tetapi pasar-pasar ini masih tetap sangat ramai, maklum memang, kondisi Turki berbeda dengan Indonesia, di Turki, khususnya Istanbul, gelap baru akan mulai datang sekitar pukul 21.00. Sambil menunggu teman-teman yang belum selesai berbelanja, saya menyempatkan diri melakukan ritul Happy Jump :D , berlatar Beyazid Camii dan Istanbul university. Selesai itu, saya mencoba berkeliling pasar tradisional di pelataran Beyazit Camii dan Istanbul University, sayangnya, universitas ini tidak terbuka untuk umum, sehingga tidak semua orang bisa bebas keluar masuk.

 

IMG_3273 IMG_3274

Hari semakin sore, setelah semua selesai berbelanja, kami bersiap kembali menuju KJRI. Tetapi seperti biasa, melihat kokohnya Gerbang Istabul University, jiwa narsis kami kembali hadir, foto dulu! Bergerombol dan Ramai, itulah ciri khas turis indonesia yang harus senantiasa di jaga, hal inilah yang akhirnya membawa Turis asing dan warga Turki mengajak kami berfoto bersama, karena keramaian (kecerian) itu. []

Inspirasi Turki : Indeed, Negeri 1001 Mesjid

Ketika saya mencari referensi tentang turki melalui om google, banyak traveller blogger yang menuliskan Turki sebagai negeri 1001 mesjid, apa maksudnya? Awalnya saya benar-benar tidak mengerti, apakah benar jumlah mesjid di negeri benar-benar sebanyak itu? Apa itu hanya sebuah kiasan saja? Berakhirnya kekhalifahan Turki utsmani di negeri ini memang menjadikan negeri ini kental dengan tradisi islam, tapi apakah hal ini serta merta menjadikan negeri ini memiliki 1001 mesjid? Aah, banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya (lebaii..)

Menghabiskan 9 hari di negeri ini saya baru benar-benar mengerti mengapa negeri ini disebut negeri 1001 mesjid atau masyarakat Turki menyebutnya camii. Turki, khususnya Istanbul benar-benar memiliki banyak sekali mesjid dan yang menarik adalah, sebagaian besar mesjid ini sangat bagus dan dengan arsitektur kuno nan eksotik.

Yang menjadi ciri khas masjid (camii) di Turki adalah masjid-masjid ini menjadikan tower dan dome (kubah) sebagai penandanya dan didalam masjid terdapat kursi-kursi yang sengaja disediakan untuk jamaah yang sudah tidak sanggup shalat berdiri, selain itu, tempat khutbah di Masjid-masjid turki biasanya di sediakan khusus dan di desain lebih tinggi dari jamaah shalat. Hal lain yang unik adalah, saya menemukan di salah satu mesjid, di pinggir-pinggir dinding disediakan gantungan untuk menaruh tasbih, melihat dri jumlahnya yang banyak dan melihat beberapa aktivitas jamaah masjid ini saya menduga masyarakat Turki sangat sering melalukan dzikir dalam aktivitas kesehariannya.Karena bahkan di jalan-jalan sekalipun anda akan sering sekali melihat wargat Turki memegang tasbih di tangannya. Pada masjid-masjid besar yang sering dikunjungi turis, seperti Sultanahmet, Sulayman, Yenii, Sehzade, dan Eyub Sultan dipintu masuk disediakan tempat plastik agar para pengunjung bisa membungkus sepatunya untuk kemudian diletakkan di rak-rak sepatu didalam, selain itu dibeberapa tempat petugas menyediakan semacam penutup kepala yang disediakan bagi turis asing agar lebih sopan ketika memasuki masjid.

Oiy, tentang busana, untuk shalat, laki-laki Turki biasa mengguakan celana panjang, kaos kaki dan peci. Maka mudah sekali bagi anda membedakan mana warga Turki dan mana touris.

Berikut Masjd (camii) yang telah saya temukan di negeri 1001 mesjid ini :

 

Blue Mosque (Sultanahmet camii)

 

Yenni camii

 

Beyazit camii

Masjid ini sedang dalam proses renovasi, jadi tidak banyak gambar interior masjid yang bisa saya ambil :(

Keramaian Pasar Di depan Beyazit Camii

Keramaian Pasar Di depan Beyazit Camii

 

Dugmeciler camii

 

Sulaymen Camii

 

 

Sehzade Camii

 

 

Sultan Murad Camii

 

Eyub Sultan Camii

 

 

Mimar Sinan Camii

 

 

Sebenarnya masih ada beberap masjid lagi yang saya kunjungi, tetapi karena satu dan lain hal tidak saya masukkan kedalam list ini.

Review Buku Haram Keliling Dunia

Jadi ceritanya sejak beberapa bulan lalu, tepatnya setelah maret 2012, (ini mah setahun yang lalu den..:D). Saya jadi suka beli atau sekedar nongkrong di toko buku buat Baca Buku-Buku Traveling. Orang bilang traveling itu candu, bikin nagih, bener banget. Gara-gara setahun lalu gak sengaja berangkat ke China (cuma karena saya punya passport) akhirnya setelah nya saya jadi searching-searching tulisan traveling para blogger traveler, gabung di grup backpacker, termasuk baca dan beli buku traveling.

 

6 April 2013 , saya ke salah satu toko buku favorit saya, tempatnya cozy banget enak buat baca buku, loh ko jadi promosi toko buku?! (ngarep yaang punya toko baca :D ). Di salah satu rak bagian buku travelingnya, saya menemukan sebuah benda unik, antik, baru dan cerah (lebaiii). Yoi, saya menemukan sebuah buku traveling terbitan baru, judulnya HARAM KELILING DUNIA. Aneh banget ! itu pandangan pertama saya. Aneh banget nih judul woiii ! haha. Dont judge a book by its cover, tapi tiba-tiba saya teringat kata bijak itu, plus berbekal tingkat kepo saya yang sangat tinggi, akhirnya saya baca sedikit buku itu (untung di toko buku itu ada yang gak dibungkus plastik, jadi saya bisa baca..:D). Wow…wow, ternyata menarik nih buku, akhirnya saya beli dah.

IMG_3957

Sampai di kosan, saya baca langsung buku ini dan tahukah Anda ? Saya hanya menghabiskan beberapa jam untuk melahap habis buku ini, cepet banget kan?! Emang buku itu tentang apa den? Menarik ya? Kok bisa cepet gitu bacanya? Apa bukunya cuma 20 halaman -_-?

 

Judul buku ini emang beda dari yang lain, meskipun bergenre traveling. Buku ini seperti kebanyakan buku-buku yang udah saya beli yang lebih menekankan tips trik gimana traveling murah, hingga ngejelasin gimana kondisi tempat-tempat wisata di tempat tujuan, gak ada yang salah, semua punya selera masing-masing.

 

Buku karangan Nur Febriani Wardi ini bercerita bagaimana petualangan sang pengarang keliling 13 negara Eropa + Malaysia dan Arab Saudi. Cerita bermula dari hal sederhana, dan ini berhubungan banget sama judulnya, ternyata kata Haram dalam judul buku ini berasal dari tanah Suci Mekkah. Jadi ceritanya Mbak Febriani yang memiliki akun twitter @enefwe (wuoo, saya promosiin nih mbak :D ) paska lulus S1 FKM UI, sang ayah memberikan uang warisan sebesar 20 juta kepada mbak Febriani, di tengah banyak pilihan mbak Febriani lebih memilih untuk menemani sang Ayah beribadah Haji ke Tanah Suci Mekkah. Mekkah memang terkenal sebagai tempat makbul dan di ijabahnya doa, di tempat itu, ada 2 doa utama mbak Febriani, melanjutkan studi ke Luar negeri dan Keliling Dunia. Tanpa disangka, Allah benar-benar mengabulkan doa mbak Febriani, diterima di Eramundus University Rotterdam sekaligus nyambi keliling Eropa. Kalo kata mbak Febriani, “dari awal misiku ke Belanda bukan menjadi pelajar terbaik, cukup menjadi pelajar oke. Belajar oke, kerja oke, jalan-jalan oke, party oke”..

 

Wanita asal Sambas Kalimantan Barat ini nampaknya benar-benar meng-eksekusi motonya itu. Buku setebal 296 halaman ini dibagi menjadi beberapa bagian, tiap bagian bercerita bagaimana kisah mbak Febriani di negara-negara tempatnya singgah. Mulai dari bagian pertama berisi kisahnya menjelajahi Spanyol, yang unik dari kisah ini adalah beliau melakukan traveling ketika tugas kampus sedang numpuk, alias bejubel alias banyak, jadi Ia harus melakukan traveling plus menyelesaikan tugas kuliahnya, ckckck. Niat banget mbak ! Bagian kedua berisi kehidupannya di Belanda, tempat beliau melanjutkan kuliah. Bagaimana kehidupan di belanda, bagaimana kisahnya tinggal dengan keluarga angkat, dibahas di bagian belanda ini.

 

Eropa memang terkenal dengan romantismenya, kisah cinta dan barat entah mengapa begitu terasa kental. Itu yang semakin saya rasa dari cerita mbak Febriani ini, Kisah Gembok dan Eropa menjadi salah satu kisah unik tersendiri dalam buku ini, bagaimana masyarakat Eropa (Prancis, Hungaria, Italia, Jerman) ternyata percaya kekuatan gembok dan Cinta, aneh ! :D

 

Masih banyak kisah perjalanan ke beberapa negara yang dijelajahi mbak Febriani dalam buku ini : berkunjung ke Republik Czech dan merasakan ketegangan di periksa polisi dan anjing, mengujungi Gereja tyn, Jam Astronomi yang berdentang sesuai jumlah angka pada jarum panjang hingga merasakan keindahan arsitektur Charles Bridge.Merasakan orkestra di Viena Austria hingga bertemu Paus di Roma Italia, wow !

 

Sebagai seorang muslimah traveler, mbak Febriani tak lupa memberikan tips bagi seorang muslim ketika melakukan traveling, baik itu tentang shalat, makanan, hingga hubungan dengan masyarakat Eropa yang notabene minoritas muslim.

 

Well, Mbak Febriani sudah membuktikan, nyatanya keliling dunia bagi anak muda bukan hal yang tidak mungkin, apalagi bagi seorang muslimah, beliau sudah membuktikan, semua bisa, bermodal mimpi, dan doa tanah di tanah Mekkah. Ayo keliling dunia !

3 Kunci Atasi Kegalauan Memilih Jurusan

BAGI kalangan siswa SMA kelas 3 dan sederajat, hari-hari ini adalah hari yang paling menentukan dalam hidupnya, karena paska selesai dengan ‘ritual’ Ujian Nasional, para siswa ini kembali harus bergulat dengan Ujian Masuk Perguruan Tinggi.

Belum selesai kegalauan menunggu hasil Ujian Nasional, kegalauan kembali muncul akibat bingung memilih jurusan apa yang akan dipilih dalam tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi nanti. Tidak dapat dipungkiri, pemilihan jurusan ini akan menjadi kunci penentu masa depan siswa. Oleh karena itu, siswa harus memecahkan kegalauan ini dengan berbagai pertimbangan yang matang.

Menurut saya setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan untuk menentukan jurusan di Perguruan Tinggi. Pertama adalah passion, kegemaran atau kecintaan pada sesuatu. Bagaimana cara mengetahuipassion? Sederhana, coba ingat, apa aktivitas yang Anda sukai dan sering lakukan, hingga Anda lupa makan karena keasikkan mengerjakannya, itu lah passion.

Jika passion Anda menggambar, jurusan Seni Rupa atau Arsitek bisa menjadi pilihan. Berpassion berpetualang di alam, Perminyakan, Pertambangan atau Geologi bisa jadi cocok untuk Anda. Atau Anda suka dengan hal-hal berbau komputer, maka pilih jurusan informatika atau sistem informasi.

Passion menjadi pertimbangan pertama dan utama karena passion lah yang akan menentukan bagaimana Anda enjoy menjalani perkuliahan nanti. Seorang bijak pernah berkata, Hal yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Menyenangkan bukan, ketika kegemaran kita melakukan sesuatu jadi income pada kehidupan kita nantinya.

Kedua adalah Kemampuan, setelah melihat bagaimana passion Anda, bandingkan passion itu dengan kemampuan. Salah satu cara mengetahui apakah kemampun Anda sesuai dengan jurusan yang Anda minati adalah dengan mengikuti try out skala nasional yang sering diadakan Bimbingan Belajar.

Dari hasi try out ini, Anda dapat melihat apakah score Anda sesuai dengan passing grade (nilai masuk) jurusan yang Anda minati. Selain itu, dari hasil try out itu, Anda bisa membandingkan kemampuan Anda dengan siswa lain yang akan memilih jurusan yang sama dengan Anda.

Yang terakhir adalah prospek jurusan. Lihat dan coba analisis bagaimana prospek perkembangan jurusan Anda di masa datang. Bagaimana caranya? Anda bisa mengetahuinya dengan mencari referensi melalui bahan bacaan, baik itu buku maupun internet.

Selain itu, Anda juga bisa menambah pengetahuan dengan berdiskusi dengan tokoh atau kenalan Anda yang Anda nilai punya wawasan dalam hal ini. Prospek jurusan menjadi pertimbangan terakhir karena pada dasarnya yang paling penting adalah bagaimana Anda menikmati proses perkuliahan di Perguruan Tinggi nanti. Meskipun jurusan yang Anda dapatkan nanti berprospek cerah, tetapi Anda tidak menikmatinya, tentu sangat tidak menyenangkan.

Pastinya menyenangkan, ketika jurusan yang Anda dapatkan sesuai passion, pas dengan kemampuan dan memiliki prospek perkembangan yang baik dimasa datang. Selama berjuang!

Denny Reza Kamarullah
Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Bandung (ITB)

di sadur dari okezone.com