GAMAIS INTEGRATED TRAINING

GIT is coming !!! 25-27 Desember 2012 ;D
[GIT]

Start your “ACTION!” here!

Suksesi GAMAIS ITB telah tiba. Bersiaplah para pengganti.

Bismillahirrahmanirrahim

GAMAIS ITB proudly present

GIT (GAMAIS INTEGRATED TRAINING)
Sebuah agenda puncak GAMAIS ITB (Pusat dan Wilayah)
Peserta : Seluruh kader GAMAIS ITB 2010-2011

Agenda : 

Berbagai training dan pembinaan
FGD GAMAIS ITB 2013
Pelantikan Kepala dan Annisaa GAMAIS ITB 2013
Pelantikan Kepala-kepala LDW GAMAIS ITB 2013
Konsolidasi GAMAIS ITB Pusat dan Wilayah
GAMAIS Award for LDW!

25-27 Desember 2013 di Nagreg

Konfirmasi kehadiran ke CP

CP :

IKHWAN (081541360505)
AKHWAT (085721570552)
GIT 2012

Aktivis Dakwah Kampus Ideal Seperti Apa? #Progresif2

Aktivis Dakwah Kampus Ideal setidaknya memiliki 2 karakter :

  1. Ulama
  2. Umara

 

Ulama berarti dia memiliki ilmu yang mendasari segala amal perbuatannya, yang menyelesaikan masalah berdasarkan ilmu, ilmu yang dimaksud minimal Al-Qur’an dan Hadits.

Umara berarti dia memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi dan manajemen yang baik. Selain itu Ia juga harus berbaur dengan siapapun tanpa melebur. Berani berkata yang benar didepan orang-orang yang mungkin akan membencinya. Bersifat penyanyang dan lemah lembut, tidak mudah marah dan pundung, mudah memaafkan

 

Oleh : Bambang Tressando

Masih Adakah Alasan untuk Tidak Mendukung Palestina?

LEDAKAN-ledakan itu terus bendentum. Langit ramai lalu lalang pesawat pembawa kebencian yang terus melepaskan misil-misilnyatanpa dosa. Sementara di bawah sana korban terus berguguran. Anak-anak Palestina tanpa dosa itu harus menghadapi kenyataan kebiadaban zionisme. Sudah lebih dari 100 korban jiwa pascaserangan Israel itu. Jakarta, Berlin, Den Haag, New York, hingga Paris menyuarakan kecaman. Tapi Israel bergeming. Bagi mereka, pembantaian warga Palestina adalah tujuan utama. Visi keserakahan mendirikan negara Israel di atas tanah Palestina setahap demi setahap mereka lakukan, dengan dalih apa pun. Serangan itu jelas tidak seimbang. Infanteri Israel yang disokong Washington tentu tidak sebanding dengan kondisi Gaza yang dikurung tembok raksasa. Jangankan peralatan militer, kebutuhan harian saja sangat minim. Akhirnya pesawat tempur itu hanya dilawan dengan batu.

Hati saya ngilu, masih saja ada yang bertanya, “Ngapain sih dukung Palestina?” Sebagai sebuah bangsa (Indonesia) maupun individu manusia, menurut saya setidaknya terdapat lima poin mengapa kita harus mendukung Palestina.

Pertama, amanat konstitusi. Sejak sekolah dasar, kita hafal di luar kepala, potongan awal pembukaan UUD 1945 menyatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Konstitusi adalah landasan dasar bangsa Indonesia, maka pernyataan itu secara tidak langsung adalah pernyataan bangsa secara komunal yang menolak penjajahan di dunia, pun begitu dengan penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kedua, rasa kemanusiaan. Ini terkait nurani, bagaimana kita tergerak melihat sebuah kejahatan kemanusiaan, harusnya semua manusia merasakannya. Merasakan kepedihan masyarakat Gaza, kehilangan anak, istri, suami dan segenap kerabat mereka. Tidakkah kita miris melihat darah bertebaran di kota Gaza, anak-anak tak berdosa meninggal dengan luka yang menganga di sekujur tubuhnya? Rasa kemanusiaan adalah rasa yang tidak tersekat batas negara. Siapa pun mereka, apa pun latar belakangnya, jika rasa kemanusiaan itu terkoyak, jiwa dan raga akan tergerak melawannya.

Ketiga, ukhuwah islamiyah. Banyak sekali aspek penting dari Palestina yang berhubungan dengan perkembangan Islam. Dua di antaranya adalah keberadaan Masjidil Aqsa dan tanah kelahiran Imam Syafii. Masjidil Aqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam, dan Palestina adalah tanah kelahiran Imam Syafii, seorang imam mahzab yang pemikirannya digunakan oleh mayoritas muslim di Indonesia. Maka sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia membela Palestina, karena persaudaraan aqidah tidak pandang teritori negara.

Keempat, politik luar negeri. Dalam pergaulan internasional, sejak awal fase kemerdekaan, Indonesia sudah mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bebas berarti Indonesia bebas menyatakan sikap tanpa intervensi negara mana pun, aktif bermakna Indonesia senantiasa aktif dalam menyelesaikan permasalahan global. Maka demikian pula dengan konflik Israel-Palestina ini, Indonesia harus aktif dalam mencari solusi. Bukan hanya berpaku tangan.

Kelima, fakta sejarah. Secara de facto, 17 Agustus 1945 Indonesia sudah resmi merdeka. Namun untuk mewujudkan kemerdekaan secara de jure, setidaknya Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara lain. Dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, M. Zein Hassan Lc, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia sekaligus pengarang buku tersebut menyebutkan bahwa dukungan untuk kemerdekaan Indonesia pertama kali disampaikan oleh Mesir dan Palestina. Dukungan Palestina itu diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina. Dahulu Palestina pernah berjasa ketika kukungan kolonialisme berusaha kembali mencengkram negeri ini. Meminjam kata-kata Soekarno “Jasmerah (Jangan Sekali-sekali meninggalkan Sejarah)”, maka bukankah kita belajar dari sejarah itu? Di mana kita ketika Palestina terguncang hari-hari ini?

Dengan lima poin yang sudah saya paparkan di atas, masih adakah alasan untuk tidak mendukung Palestina? Di mana rasa kemanusiaan kita? Di mana rasa nasionalisme kita? Di mana ukhuwah islamiyah kita dan lupakah kita pada jasa Palestina di awal kemerdekaan bangsa ini?

Hikayat Medan Badar

Tidak ada sama sekali niat awal Rasulullah untuk berperang, maka tak heran hanya 314 kaum Anshar dan Muhajirin yang berangkat menuju Badar, niat hanya sekedar menghadang dan mengambil barang bawaan kau kafir Quraisy musyrikin yang hendak menuju Mekkah ternyata berbuntut peperangan yang secara kuantitas sungguh timpang. Berita keberangkatan Rasulullah dan Sahabat untuk menghadang Kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan ternyata ditengah jalan diketahui oleh mereka, diutuslah Dhamdham bin Amer al-Ghifari, kurir kaum Quraisy yang bertugas mengabarkan meminta bala bantuan kaum Quraisy Mekkah. Seketika seluruh kaum Quraisy yang sejak awal sudah sangat membenci kaum muslimin bergerak, tidak tanggung tanggung, 1000 lebih kaum Quraisy berangkat menuju medan Badar.

 

Disinilah kebijaksaaan Rasulullah terlihat, meskipun bertitel seorang utusan Allah, Rasulullah tidak semena-mena mengambil keputusan tanpa berdialog dengan kaum muslimin yang lain. Seketika mendengar keberangkatan bala bantuan kaum Quraisy musyrikin Mekkah menuju Badar, Rasulullah meminta pendapat para Sahabat. Kaum Muhajirin yang sejak awal mengikuti Rasulullah hijrah dan sangat percaya kepada Rasulullah seketika sepakat untuk melanjutkan penghadangan. Disisi lain, Disinilah ukhuwah islamiyah Kaum Anshar diuji, apakah kembali menuju Madinah dan menghindari bentrok fisik dengan kaum Quraisy yang berjumalh 3 kali lipat lebih banyak atau terus maju ke medan laga menghadap kaum Quraisy dan menjemput janji Surga Allah swt.

 

“Wahai Rasulullah, sepertinya engkau berbicara kepada kami. Mungkin  engkau khawatir bahwa kaum anshar merasa tidak wajib menolongmu kecuali engkau berada diwilayah mereka saja, sesungguhnya aku akan berkata atas nama kaum Anshar dan aku akan menjawab atas nama mereka

 

Sa’ad Bin Mu’adz membuka pembicaraan, mewakili Anshar. Kemudian Ia melanjutkan. 

 

“Teruskanlah wahai Rasulullah apa yang engkau inginkan. Sambunglah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki dan putuslah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki. Musuhilah siapa yang engkau kehendaki dan berdamailah dengan siapapun yang engkau kehendaki. Ambilah dari harta kami apa yang engaku kehendaki dan berilah kami apa yang engkau kehendaki. Apapun yang engkau ambil dari kami lebih sukai daripada apa yang engkau tinggalkan. Perintahkan apa saja kepada kami, maka urusan kami hanya mengikuti perintahmu. Demi Allah seandainya engkau berjalan hingga sampai ke Barak Ghamdan, niscaya kami akan berjalan bersamamu. Demi Allah seandainya engkau membawa kami ke lautan dan menyelam. Niscaya kami akan menyelam bersamamu”.

 

Pernyataan Saad Bin Muadz itu menjadi pertanda betapa ukhuwah kaum Anshar tidak diragukan lagi, sekaligus menjadi tanda berlanjutnya misi penghadangan tersebut.

 

Kaum Muslimin sudah siap siaga, Panji Perang dipegang Mushab bin Umair, bendera kaum Muhajirin dipegang Ali Bin Abi Tahlib dan bendera kaum anshar dipegang Sa’ad Bin Mu’adz.

 

Perang insidental tersebut pun terjadi dan sejarah mencatatkan kualitas mengalahkan kuantitas. Jumlah kaum muslimin yang hanya sepertiga kaum kafir Quraisy nyatanya tidak menghalangi kemenangan Kaum Muslimin, karena pertolongan Allah bersama kaum Muslimin.

 

Rasulullah pun bersabda “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang sungguh terbukti janji-Nya, Dia menolong hamba-Nya dan dia telah menghancurkan sendiri tentara-tentara musuh.”

 

Allah pun mengabadikan kemenangan kaum muslimin itu dalam firmannya.

 

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukurinya” (QS. Ali Imran 123)

 

Sejarah mencatatkan Kaum Muslimin dengan jumlah 314 orang dapat mengalahkan kaum kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang.Kemenangan ini tidak saja sebagai bukti kualitas kaum Muslimin, kemenangan ini juga sebagai peningkatan Bargaining Position Kaum Muslimin di mata kabilah lain. Kemenangan Badar ini pula yang mempermudah ekspansi dakwah Rasulullah. Semoga kita terus dapat mengambil hikmah dari Kisah perang Badar ini.

 

Tulisan ini dimuat dalam Fimadani.com 14 Agustus 2012, disini.