Catatan Perjalanan : Inspirasi Hatta

Jum’at 29 Maret 2013

jalur kereta rapimnas

Hari ini saya kembali memulai sebuah perjalanan baru, tujuannya adalah Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur sekaligus kota terbesar kedua setelah Jakarta. Sebuah kota yang penamaannya berasal dari mitos pertempuran sura (ikan hiu) dan baya (buaya).

 

Seorang bijak pernah berkata, buku adalah kawan perjalanan terbaik. Ya, dalam perjalanan yang akan saya habiskan dalam ular besi Mutiara Selatan selama 13 jam ini, saya insaf, harus mengikutsertakan kawan terbaik itu. Tentu, agar perjalanan ini tidak membosankan.

 

Pergi mengulik rak buku, sebenarnya berharap Meraba Indonesia ada disana, buku itu adalah catatan petualangan 2 orang wartawan Tempo berkeliling Indonesia. Dengan segala diksi-deskriptif-imajinatif nya, saya menganggap buku itulah yang paling cocok menemani perjalanan ini, sekaligus menambah khazanah penulisan saya. Naas, buku itu itu masih dipinjam teman, praktis saya harus mencari alternatif lain. Pilihan kedua jatuh pada Hatta Jejak yang melampaui Zaman. Salah satu buku Seri Buku Tempo edisi Bapak Bangsa. Sejujurnya sudah lebih dari 3 kali saya membaca buku ini, tapi entah mengapa mendalami Hatta adalah candu, semakin kau baca semakin akan ingin kau perdalam. Itu bagi saya.

Kehidupannya, sikap politiknya, kepemimpinannya, karier organisasinya, pemikirannya, konfrontasinya dengan Soekarno, keunikan hubungannya dengan wanita, semuanya. Hatta sebagai politikus sekaligus negarawan amat mempesona saya.

 

Pada tulisan ini saya ingin berbagi kisah potongan hidup sang proklamator ini, kisah pertama bercerita bagaimana Ia yang sangat berpegang pada prinsip islamnya, dalam hal hubungan dengan wanita. Pada suatu hari, dalam sebuah perjalanan, di tempat yang sepi dan terasing, ban mobil yang di tumpangi Hatta pecah, dalam mobil itu hanya terdapat 3 penumpang; sang sopir, Hatta dan seorang gadis cantik. Alkisah karena pecahnya ban itu, sang sopir harus pergi mencari bantuan. Praktis, didalam mobil tersebut hanya tertinggal Hatta dan sang gadis cantik. Namun, apa yang terjadi, 2 jam kemudian ketika sang sopir kembali dengan bantuan, Ia mendapati gadis itu terbaring di sudut yang jauh dalam kendaraan, dan Hatta mendengkur disudut lainnya.

 

Kisah lain bercerita bagaimana Ia yang sangat mecintai buku. Anda tahu, Ia pernah berjanji bahwa Ia baru akan menikah setelah Indonesia merdeka? Ya, Ia menepati janjinya, Ia menikah pada 18 November 1945, sebulan setelah Indonesia merdeka, dengan seorang gadis bernama Rahmi Rachim. Selain factor perbedaan usia yang terpaut jauh, keunikan lain dari pernikahan ini adalah hadiah pengantin yang diberikan Hatta. Tahukah Anda apa yang diberikan ? Ya, sebuah buku hasil karangannya sendiri berjudul Alam Pikiran Yunani, bayangkan, seorang gadis berusia 19 tahun dihadiahi buku seperti itu? Dasar Hatta !

 

Begitulah, ini hanya inspirasi singkat hasil menguliti lagi kehidupan Bung Kecil ini. Dalam banyak hal  saya sangat mengagumi sosok satu ini, tapi dalam hal menikah, tentu tidak..hehe
Oh iya, ini baru pertama, semoga perjalanan menuju Surabaya ini menghasilkan banyak inspirasi dari Bung Hatta.

 

Salam

Pengagum Hatta

Mempertemukan Pertumbuhan Ekonomi & Pembangunan Manusia

Okezone 8 januari

SEBAGAI sebuah bangsa,dan negara, saat ini kita pantas untuk percaya diri dan bangga. pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menunjukan angka-angka positif di atas enam persen.Di tengah tidak menentunya kondisi perekonomian Eropa dan Amerika, angka ini merupakan angka pertumbuhan yang fantastis. Hasilnya Deutsche Bank bahkan memprediksi pada 2015 rata-rata pendapatan per kapita Indonesia meningkat dua kali lipat dari USD3.000 menjadi USD6.000. Sementara itu,  Standard Chartered Bank meramalkan Indonesia akan memiliki ekonomi terbesar ke 10 pada 2020 dan naik lagi menjadi kekuatan keenam ekonomi dunia pada 2030.

Tentu hal itu merupakan sebuah kebanggan bagi kita. Namun yang harus menjadi fokus utama di tengah gegap gempita awal tahun ini adalah bagaimana peningkatan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan linier dengan pembangunan (karakter) manusia Indonesia. Sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang penting, tetapi hal itu sama sekali tidak berguna ketika watak manusia Indonesia tidak turut serta menyertainya. Hal ini seperti yang tersirat disampaikan di dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“..Bangunlah Jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya…..”
 
Hal pertama yang harus dibangun adalah jiwa (karakter) sebelum berbicara pembangunan badan (fisik). Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan seorang pakar ekonomi, Todaro, bahwa sebagian besar pakar pembangunan sepakat, sumber daya manusia dari suatu bangsa bukan modal fisik atau sumber daya material merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan.Pernyataan Todaro itu jelas menafsirkan bahwa untuk mencapai pembangunan sosial dan ekonomi yang optimal yang paling utama adalah melakukan pembangunan SDM.

Hal ini semakin dipertegas oleh pernyataan Kishore Mahbubani, Dekan National University of Singapore (NUS) sekaligus pengarang buku Asia Hemisfer Baru Dunia. Dia menjelaskan bahwa dua kunci kokohnya peradaban Barat adalah education dan science and technology. Objek pada kedua kondisi ini  adalah manusia. Kemajuan barat bukan ditopang karena megah dan mewahnya infrastruktur kota yang mereka miliki, namun karena pendidikan manusianya sangat baik.

Maka menjadi sebuah pekerjaan rumah besar di tahun 2013 ini bagaimana pemerintah dapat mengawinkan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan karakter, sehingga Indonesia tidak hanya kuat secara ekonomi tetapi juga berstatus negara timur dengan karakter yang kuat. Di tengah arus pusaran globalisasi yang memungkinkan budaya begitu mudahnya masuk dan mempengaruhi identitas nasional, maka menjadi penting sekali menggerakkan pembangunan  karakter ini.

Selain itu, kita pun harus sadar, pertumbuhan ekonomi tanpa moral dan karakter sama saja kehancuran. Kita sepatutnya berkaca pada runtuhnya imperium-imperium besar dalam sejarah global. Runtuhnya kekaisaran Romawi yang disebabkan perilaku  korupsi, perilaku hedonis dan pembunuhan politik pada para penguasanya saat itu. Sebut saja bagaimana bagaimana Brutus membunuh Julius Caesar, demi mengejar kekuasaan dan kehidupan yang hedonis. Dan hal yang sama, sebelumnya dilakukan oleh Julius Caesar terhadap Antonius yang merupakan sahabatnya sendiri. Ini adalah buah pembangunan fisik yang tidak dibarengi pembangunan karakter.

Sejarah bangsa ini pun mengajarkan betapa pentingnya pembangunan manusia itu. Di era orde baru, pembangunan infrastruktur dan ekonomi Indonesia sangat baik. Kita mengenal istilah Trilogi Pembangunan yang terdiri dari: Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dan Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

Namun berbekal minimnya integritas penguasa dan terlalu sentralistiknya kekuasaan saat ini, Indonesia hampir saja berjalan menuju jurang kehancuran, hingga terjadilah peristiwa reformasi dengan semangat mengubah tatanan pemerintahan yang korup dan tak berintegritas.

Berkaca dari itu semua, maka di tahun 2013 ini, pemerintah selain terus menjaga pertumbuhan ekonomi, juga harus mengikutinya dengan program pembangunan manusia Indonesia.

Tulisan ini di Muat di Kampus.okezone.com 8 Januari 2013, klik disini.

Surat kepada Pemimpin Indonesia Masa Depan

Jakarta, 9 July 2012

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan

Di manapun Anda berada

Di dunia yang semakin global

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya?

Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya kehilangan kemampuan untuk berjalan.  Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda.  Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal.

Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan.

Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima kenyataan.  Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites” kata orang.  Betul itu.  Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru.   Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terus-menerus dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya.  Tidak! Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup.  Ketika keterbatasan dan ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan hilang.  Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya  terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini.  Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… melawannya!.  Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul,  yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita dihempaskan ke tanah.  Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu bekerja.  Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini.  Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh.  Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal,  yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan saya.  Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya jalani, saya nikmati.  Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.  Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya.  Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri.  Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai.  Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut.  Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun.  Sekitar 40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada ranking 46.  Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah.  Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda untuk berperang.

Salam,

Handry Satriago