Ciparay, Sebuah Realita

Namanya Yusuf, siswa SMA di sebuah daerah bernama Ciparay, Kabupaten Bandung. 1 tahun lalu Ia berbicara kepada kedua orangtuannya “bu, pak, insyaAllah tinggal 1 tahun lagi Yusuf akan membebani ibu bapak, setelah SMA Yusuf mau langsung kerja”.

 

Satu tahu kemudian ketika sudah di penghujung masa SMA nya, Yusuf kembali berbicara kepada kedua orangtuanya, “Bu, pak, Yusuf mau melanjutkan ke kuliah, tidak jadi kerja”. Sontak pernyataan itu membuat ibu bapak serta kakaknya kaget, “Kamu tidak tahu diri, uang darimana?! Bentak kedua orangtuanya.
“UANG DARIMANA ?!” Mau bagaimana lagi, cita-cita republik ini untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsanya masih terganjal biaya, pendidikan di negeri ini masih menjadi barang langka bagi sebagian kalangan, pendidikan masih MAHAL.

Kisah Yusuf adalah contoh kisah nyata salah satu anak Ciparay, kisah miris yang saya rasa harus saya bagikan ke khalayak.

Lain Yusuf lain Juju, baginya lulus SMP adalah sebuah prestasi besar. Sang ayah menderita gangguan kejiwaan, hingga hampir setiap akan berangkat kesekolah, sang ayah pasti melarangnya, dan akan mengejar Juju sambil membawa golok. Edan !

IMG_2109

 

Kisah miris anak-anak desa Bumisari Ciparay tidak berhenti sampai disitu, hampir semua anak-anak disini berstatus yatim, piatu bahkan yatim piatu. Mereka sudah lama tidak merasakan kasih sayang orang tuanya. Belum lagi kondisi ekonomi desa ini yang sangat miris. Bagi mereka melanjutkan pendidikan adalah persoalan pelik yang harus dipikirkan dengan sangat berat. Mulanya Ekonomi, ekonomi yang akhirnya menggurita menjadi berbagai persoalan : pendidikan, akses informasi, paradigma dan lain sebagainya.

 

Kondisi Desa ini mungkin hanya merupakan 1 dari sekian banyak kondisi miris pendidikan-sosial-ekonomi rakyat Indonesia, mengingatkan faktanya desa ini hanya berjarak 1.5 jam dari pusat kota Jawa Barat, Bandung. Pun jaraknya sangat dekat dengan jalan utama. Hati saya ngilu, bagaimana membayangkan kondisi mereka di pelosok sana, Papua, Kalimantan, Sulawesi. Kita sama-sama tahu, pembangunan dinegeri ini sangat Jawasentris, atau mungkin Jakartasentris. Awalnya saya tidak ingin menulis ini, karena saya insyaf, media kita (sudah) terlalu banyak mengabarkan kekurangan negeri ini dan minim berita baik. Tapi saya pun sadar, hal ini perlu saya kabarkan ke khalayak, bukan untuk menyebarkan pesimisme akan bangsa ini, tetapi saya ingin membangun kesadaran-melek sosial kita.

Semoga !

 

-Bandung, Ketika mendengar pemaparan pak Tatang di Pusdai-

 

Mau Bantu-bantu anak Ciparay ? bisa hubungi saya atau anak PPSDMS Bandung lain. Yuk !

Malam Tahun Baru: Momen Perayaan Vs Momen Perubahan

DALAM beberapa jam, kita akan menjelang momen tahun baru. Tidak terasa, 365 hari di 2012 akan segera kita lalui. Seperti pada momen menjelang tahun baru di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun hiruk pikuk pergantian tahun disambut dengan berbagai macam cara, karena memang setiap orang melihat momen ini dari sudut pandang yang berbeda.
Kota-kota besar di Indonesia pun ikut berhias mernyemarakan malam pergantian tahun ini. Bandung dengan Car Free Night, Jakarta siap menyambut tahun baru dengan Jakarta Night Festival, Semarang menyambutnya dengan Pesta Kembang Api dan pesta hiburan.

Berkaca pada esensi sebenarnya, pada dasarnya momen pergantian tahun ini harus kita lihat secara bijak sebagai momentum untuk mengubah diri, berkaca pada kehidupan setahun belakang, Sudahkah target-target hidup yang kita resolusikan diawal tahun 2012 terlaksana dengan baik? Sudahkah kita menjadi orang yang lebih baik dari tahun 2011 lalu? Atau pertanyaan sederhana, apakah kita sudah siap mengarungi pergantian tahun ini dengan target-target baru, semangat baru dan tentunya resolusi hidup yang akan menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa lebih baik? Seperti yang dikatakan Rasulullah,“Barang siapa memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, dia tergolong orang yang beruntung; bila masa sekarangnya sama dengan masa lalunya, dia termasuk orang yang merugi; bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa lampaunya, dia tergolong orang yang bangkrut.”
 
Maka berkaca pada hal itu semua, sudah seharusnya kita lebih mempersiapkan malam pergantian tahun ini dengan hal yang lebih fundamental, lebih dari sekedar sebuah perayaan atau pesta kembang api. Lebih jauh lagi, jika dikalkulasi, berapa banyak akhirnya uang yang terbuang sia-sia dari perayaan dan pesta kembang api ini sementara di bawah jembatan sana, di pojok sudut kota hingga di belantara bumi Indonesia masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik, bahkan untuk makan sehari-hari saja sulit.

Mari kita ambil contoh sederhana, jika harga satu buah kembang api adalah Rp10 ribu dan di malam pergantian tahun ini terdapat sepuluh ribu kembang api yang dibakar, maka sudah Rp100 juta uang melayang sia-sia. Belum lagi biaya untuk beragam atribut perayaan lainnya.

Sebagai sebuah bangsa, sudah seharusnya Indonesia menjaga identitasnya. Globalisasi baik secara langsung maupun tidak langsung memang menawarkan akulturasi budaya, namun kita sebagai sebuah bangsa harus cermat, mana seharusnya hal-hal yang patut kita contoh dan mana yang tidak. Sepakat bahwa kita harus berkaca pada Eropa dan Amerika ketika berbicara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tetapi ketika sudah memasuki budaya, mari cermati secara jelas, apakah hal itu sesuai dengan kondisi keberadaan kita.

Momen awal tahun yang baik ini seharusnya kita jadikan sebagai momentum refleksi-evaluasi, baik sebagai individu maupun komunal sebagai sebuah bangsa. Mari sama-sama mengevaluasi diri, sudahkah setahun ke belakang kita menjadi pribadi yang lebih baik, atau justru kita menjadi golongan yang bangkrut seperti apa yang dikatakan Rasulullah. Kita yang menentukan, apakah momen pergantian tahun ini sekedar momen perayaan atau momen perubahan. Pilihan itu akan menentukan apakah kita termasuk orang yang berhasil mengambil pelajaran dari sejarah atau tidak. Seperti yang dikatakan George Santaya, seorang Filosof Spanyol, “Those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat them (mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah itu).” 

Denny Reza Kamarullah
Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Bandung (ITB)

 

dikutip dari kampus.okezone.com, klik disini

Masih Adakah Alasan untuk Tidak Mendukung Palestina?

LEDAKAN-ledakan itu terus bendentum. Langit ramai lalu lalang pesawat pembawa kebencian yang terus melepaskan misil-misilnyatanpa dosa. Sementara di bawah sana korban terus berguguran. Anak-anak Palestina tanpa dosa itu harus menghadapi kenyataan kebiadaban zionisme. Sudah lebih dari 100 korban jiwa pascaserangan Israel itu. Jakarta, Berlin, Den Haag, New York, hingga Paris menyuarakan kecaman. Tapi Israel bergeming. Bagi mereka, pembantaian warga Palestina adalah tujuan utama. Visi keserakahan mendirikan negara Israel di atas tanah Palestina setahap demi setahap mereka lakukan, dengan dalih apa pun. Serangan itu jelas tidak seimbang. Infanteri Israel yang disokong Washington tentu tidak sebanding dengan kondisi Gaza yang dikurung tembok raksasa. Jangankan peralatan militer, kebutuhan harian saja sangat minim. Akhirnya pesawat tempur itu hanya dilawan dengan batu.

Hati saya ngilu, masih saja ada yang bertanya, “Ngapain sih dukung Palestina?” Sebagai sebuah bangsa (Indonesia) maupun individu manusia, menurut saya setidaknya terdapat lima poin mengapa kita harus mendukung Palestina.

Pertama, amanat konstitusi. Sejak sekolah dasar, kita hafal di luar kepala, potongan awal pembukaan UUD 1945 menyatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Konstitusi adalah landasan dasar bangsa Indonesia, maka pernyataan itu secara tidak langsung adalah pernyataan bangsa secara komunal yang menolak penjajahan di dunia, pun begitu dengan penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kedua, rasa kemanusiaan. Ini terkait nurani, bagaimana kita tergerak melihat sebuah kejahatan kemanusiaan, harusnya semua manusia merasakannya. Merasakan kepedihan masyarakat Gaza, kehilangan anak, istri, suami dan segenap kerabat mereka. Tidakkah kita miris melihat darah bertebaran di kota Gaza, anak-anak tak berdosa meninggal dengan luka yang menganga di sekujur tubuhnya? Rasa kemanusiaan adalah rasa yang tidak tersekat batas negara. Siapa pun mereka, apa pun latar belakangnya, jika rasa kemanusiaan itu terkoyak, jiwa dan raga akan tergerak melawannya.

Ketiga, ukhuwah islamiyah. Banyak sekali aspek penting dari Palestina yang berhubungan dengan perkembangan Islam. Dua di antaranya adalah keberadaan Masjidil Aqsa dan tanah kelahiran Imam Syafii. Masjidil Aqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam, dan Palestina adalah tanah kelahiran Imam Syafii, seorang imam mahzab yang pemikirannya digunakan oleh mayoritas muslim di Indonesia. Maka sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia membela Palestina, karena persaudaraan aqidah tidak pandang teritori negara.

Keempat, politik luar negeri. Dalam pergaulan internasional, sejak awal fase kemerdekaan, Indonesia sudah mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bebas berarti Indonesia bebas menyatakan sikap tanpa intervensi negara mana pun, aktif bermakna Indonesia senantiasa aktif dalam menyelesaikan permasalahan global. Maka demikian pula dengan konflik Israel-Palestina ini, Indonesia harus aktif dalam mencari solusi. Bukan hanya berpaku tangan.

Kelima, fakta sejarah. Secara de facto, 17 Agustus 1945 Indonesia sudah resmi merdeka. Namun untuk mewujudkan kemerdekaan secara de jure, setidaknya Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara lain. Dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, M. Zein Hassan Lc, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia sekaligus pengarang buku tersebut menyebutkan bahwa dukungan untuk kemerdekaan Indonesia pertama kali disampaikan oleh Mesir dan Palestina. Dukungan Palestina itu diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina. Dahulu Palestina pernah berjasa ketika kukungan kolonialisme berusaha kembali mencengkram negeri ini. Meminjam kata-kata Soekarno “Jasmerah (Jangan Sekali-sekali meninggalkan Sejarah)”, maka bukankah kita belajar dari sejarah itu? Di mana kita ketika Palestina terguncang hari-hari ini?

Dengan lima poin yang sudah saya paparkan di atas, masih adakah alasan untuk tidak mendukung Palestina? Di mana rasa kemanusiaan kita? Di mana rasa nasionalisme kita? Di mana ukhuwah islamiyah kita dan lupakah kita pada jasa Palestina di awal kemerdekaan bangsa ini?