..Pendidikan Untuk Semua..

Pendidikan Untuk Semua.

Ting…tong

Sore itu Hp ku kembali berdering, bunyi yang menandakan sebuah pesan singkat menyambangi HP Nokia 5610 itu, sebuah berita dari seorang senior, “Aslm. Sis n Bro, udh liat site usm.itb.ac.id? Ktnya jalur masuk itb cm snmptn aj loh..!”

Keesokkan harinya memang kami dari alumni SMA 78-ITB akan mempromosikan ITB di SMA 78, kebetulan aku diamanahi membuat Power point nya.

Seketika setelah membaca pesan singkat itu, ku hidupkan laptop dan ku buka file Presentasi 78-ITB lalu ku edit slide bagian Ujian, sehari sebelumnya, pada slide ujian, kutuliskan “ USM ITB dan SNMPTN”. Yap, akhirnya dengan datangnya kabar itu, kuhapus kalimat bertuliskan USM ITB.

Yap kini ada hanya SNMPTN. 100 % SNMPTN.

***

Tidak dapat dipungkiri, Pendidikan memang menjadi salah satu pilar pokok majunya suatu peradaban bangsa. Negara maju adalah Negara yang memprioritaskan pendidikan diatas segalanya. Mari kita belajar dari negeri tetangga, Malaysia, mereka memang bukan Negara maju, tapi mari belajar dari usaha dan perjuangan mereka, siapa Malaysia tanpa guru-guru Indonesia. Mereka akan tetap di bawah Indonesia jika saja guru-guru mereka tidak belajar dari guru-guru Indonesia. Lebih jauh kita akan belajar dari negeri sakura, Jepang, negeri yang sempat porak-poranda karena 2 bom atom itu kini menjadi terdepan dalam teknologi, 210 ribu penduduknya tewas akibat bom dahsyat itu, Jepang sempat luluh latah, Negara itu lumpuh, kita belajar dari apa yang dilakukan Jepang setelah itu, mereka memang marah akibat kejadian tersebut, tapi mereka tidak membalas perlakuan Amerika dengan mengirim bom lagi, mereka membalasnya dengan mengirim pelajar-pelajarnya untuk ‘mencuri’ ilmu dari Amerika, Pelajar-pelajar itu belajar disana, lalu setelah berhasil mendapatkan ilmunya, mereka kembali ke Negara nya untuk menerapkan dan mengembangkan ilmu itu. Hasilnya, kini Jepang telah melebihi Amerika dalam hal teknologi.

Itu semua karena mereka tahu bagaimana penting nya pendidikan, dan mereka tahu bagaimana bagaimana mengelola system pendidikan.

Pendidikan untuk Semua, memang bukan sebuah judul yang dapat diterapkan di negeri jamrud khatulistiwa untuk saat ini. Pendidikan masih teramat mahal, pendidikan masih hanya di dominasi kaum menengah keatas. Pada tahun 2003 saja, jumlah mahasiswa miskin di seluruh Indonesia hanya 0,98 persen, sedangkan 2008 sebesar 3 persen dan 2009 meningkat menjadi enam persen.

Tak jarang sering sekali kita dengar berita seorang anak putus sekolah karena masalah biaya.

Memang sudah banyak beasiswa, namun terkadang birokrasi dan persyaratan yang terlalu bertele-tele membuat keberjalanan nya belum optimal, malah terkadang tak jarang malah salah sasaran. Belum lagi masalah publikasi yang belum bisa sepenuhnya menyentuh masyarakat grass root (akar rumput).

Namun, itu semua hanyalah cerita lama, kini pemerintah sudah mempunyai itikad baik, alokasi 20% APBN untuk pendidikan, Dana BOS, beasiswa Bidik Misi, dan yang terbaru pemerintah menghimbau PTN untuk tidak mengadakan ujian mandiri. Ujian PTN cukuplah SNMPTN saja.

Memang tidak dapat dipungkiri, kemandirian perguruan tinggi lewat legitimasi UU BHP malah menjadi PTN terkesan komersil, PTN-PTN seolah memanfaatkan nya sebagai sebuah peluang untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara mengadakan berbagai Ujian Mandiri.

Pendidikan Untuk Semua. ITB  sudah memulainya, memulai efek bola salju, Institut yang terkenal mahal itu kini mulai berbenah. Di tahun 2011 ini, ITB melakukan sebuah manuver berbeda dalam menjaring mahasiswanya, setelah beberapa tahun sebelumnya ITB mengandalkan USM (Ujian Saringan Masuk) Daerah, USM Terpusat dan SNMPTN. Di tahun 2011 ini ITB hanya menjaring mahasiswa nya dari jalur SNMPTN, meskipun dengan format sedikit berbeda (Jalur Undangan dan Jalur Tertulis). Tapi sebagai mahasiswa nya, aku cukup berbangga, karena ITB menghilangkan USM, sebuah tes yang terkenal kemahalannya dan hanya mengandalkan SNMPTN, sebuah ujian dengan biaya cukup terjangkau dengan persaingan yang amat ketat.

Pendidikan Untuk Semua


Aku percaya, suatu saat spanduk-spanduk, baliho-baliho, iklan media bertuliskan Pendidikan Untuk Semua, akan menghiasi sudut-sudut nusantara. Bukan sebagai iklan belaka, bukan sebagai motto belaka, apalagi hanya menjadi janji kampanye.

Tapi karena itu semua sudah terealisasi, pendidikan bukan lagi menjadi barang langka di negeri ini, tidak kulihat lagi berita “Seorang anak putus Sekolah karena masalah biaya”, tidak kulihat lagi anak-anak jalanan berkerumun meminta-minta, yang ada kumpulan anak yang sedang bercengkrama berangkat kesekolah.

Sungguh, Pendidikan Untuk Semua bukan mimpi.

Sungguh Indonesia Sejahtera bukan Mimpi.

Sungguh Indonesia Madani Bukan Mimpi.

“bangsa ini tidak sedang sakit, tidak juga sedang lumpuh

dia hanya tertidur dan menunggu seseorang untuk menggugah dan memapahnya untuk bangkit” (Ridwansyah Yusuf Achmad).

*sumber gambar : sosbud.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s