[Serial hikmah] beratnya amanah kepemimpinan

Muka nya memerah, terlihat ia pun sedikit shock, bulir air mata terlihat samar-samar membasahi wajahnya,dan tubuhnya pun gontai.

Itulah ekspresinya ketika namanya disebut kan, mengartikan dalam setahun kedepan ia harus kembali memegang amanah kepemimpinan.

 

“Aah, indahnya hal ini”, seketika aku bergumam.

Bukan, bukan tentang perasaan sedihnya, bukan tentang rasa shock nya, bukan pula tentang ketakutannya. Tapi ini tentang sesuatu didalam itu semua.

 

Ia mungkin tahu, ketika nama nya disebut untuk memegang amanah itu, ada konsekuensi atas kepemimpinannya kelak. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Ia mungkin mengerti, betapa beratnya memegang amanah kepemimpinan. Ia mungkin belajar dari kisah Abu Dzar Al-Ghifari,

 

Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah.

Mendengar pertanyaan itu Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar dan berkata

Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim).

 

Memegang amanah kepemimpinan memang bisa menjadi sebaik-baiknya perkara, atau bisa juga menjadi seburuk-buruknya perkara. Menjadi sebaik-baiknya perkara ketika ditunaikan dengan amanah dan menjadi seburuk-buruknya perkara ketika ditunaikan dengan tidak amanah.

Ia memulai langkahnya, memberikan sambutan atas keterpilihan dirinya atas amanah itu, satu-persatu kata-kata itu terucap, sambil sesekali menahan dan menghentikan ucapannya, mengusap air matanya.

 

“ah sungguh indah, sungguh sering sekali aku melihat dan mendengar seseorang mengatakan betapa beratnya amanah kepemimpinan, tapi ini pertama kalinya aku melihat seseorang begitu shock ketika dirinya terpilih menjadi pemimpin” aku kembali bergumam.

“andai semua orang seperti ini, mengerti betapa beratnya amanah kepemimpinan itu” harapan itu seketika terpancar dari pikiran ku.

“tidak pantas rasanya ketika kita menolak sebuah amanah yang diberikan kepada kita, karena Allah lah yang lebih tahu kapasitas diri kita”

Sepotong kata itu yang paling ku ingat dari kata-katanya. Yap, rasanya kita memang hanya perlu husnuzhon kepada Allah.

 

“Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong {oleh Allah dgn diberi taufik kepada kebenaran}. Namun jika diserahkan kepadamu krn permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu . (HR. Bukhari)

Mungkin ia tahu dan percaya, ketika saudara-saudaranya mempercayainya memegang amanah itu, Allah akan menolongnya.

 

 

-19 januari 2011^^-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s