dilema pembatasan Subsidi BBM Indonesia

Hiruk pikuk dunia energi Indonesia kembali ramai, pemicunya adalah kebijakan pemerintah untuk melarang mobil berplat hitam menggunakan BBM Bersubsidi mulai april 2011. Membengkak nya anggaran Subsidi BBM menjadi latar belakang utamanya.

Isu BBM yang menjadi bagian dari energi memang menjadi isu yang sangat sensitive jika dibicarakan, karena keberadaanya yang menyangkut hajat khalayak ramai. Belum lagi melihat peran yang sangat sentral dari BBM itu sendiri.

Kebijakan pemerintah membatasi pengguna BBM bersubsidi dinilai banyak kalangan tidak menyentuh substansi masalah yang ada. Akan banyak dampak negatif yang muncul akibat pembatasan subsidi ini, karena sejatinya tidak semua mobil berplat hitam adalah mobil pribadi dengan penggunanya berkategori kelas menengah keatas.

Dampak negatif yang pertama ialah tidak semua  mobil berflat hitam adalah milik pribadi, banyak Industri yang menggunakan jasa roda empat ini untuk melakukan proses perdagangannya. Tentunya dengan semakin besarnya biaya operasional industri tersebut, pengusaha itu akan menaikkan harga produknya agar Ia tidak mengalami kerugian, dan dampaknya akan seketika dirasakan masyarakat luas. Contohnya, jika pengguna mobil itu adalah pengusaha cabai yang menggunakan mobil sebagai alat distribusi nya maka pengusaha cabai itu akan menaikkan harga cabai nya, akibat meningkatkan biaya operasional perusahaannya.

Masalah kedua yang timbul adalah akan meningkatnya pengguna kendaraan bermotor. Inilah salah satu celah lemah nya aturan pembatasan subsidi BBM ini yang akan dimanfaatkan masyarakat. Dengan dilarangnya pengguna mobil berflat hitam mengkonsumsi BBM bersubsidi, maka tak pelak masyarakat akan berbondong-bondong beralih ke sepeda motor yang notabe nya tidak dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Padahal dengan pertumbuhan sepeda motor seperti sekarang ini saja, dalam beberapa tahun  kedepan Kota Jakarta dinilai akan lumpuh total, karena tidak seimbangnya pertumbuhan jalan dengan pertambahan sepeda motor. Maka kebijakan  ini tentu akan semakin mempercepat kelumpuhan Jakarta.

Masalah ketiga, banyak orang berfikir dalam hal intelektualitas masyarakat Indonesia dinilai kurang baik. Namun, menurut saya tidak demikian, dengan kelemahan-kelemahan dalam aturan ini, kemungkinan banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan “intelektualitasnya” untuk memanfaatkan celah yang ada. Boleh jadi akan ada pengguna sepeda motor yang membeli BBM bersubsidi untuk di jual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Atau malah sopir angkutan umum yang akan melakukannya.

Masalah-masalah yang akan timbul itu semakin menegaskan pendapat banyak kalangan yang menilai pemerintah belum bisa menyentuh substasi masalah sesungguhnya.

Dalam sebuah di harian Seputar Indonesia pada 13 January 2011 Renald Kasali menuliskan sebuah artikel dengan konsep yang menurut saya seharusnya menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan bagi pemerintah dalam menangani masalah pembengkakkan anggaran BBM bersubsidi ini.

Artikel itu berjudul Find the bright spot, “setiap orang harus mampu melihat the brightest spot” begitu Rhenald Kasali memulainya.

Dalam artikel ini Rhenald mengambil contoh dari rekannya yang menangani masalah anak kurang gizi di Kamboja.

Begini Ceritanya :

“Di Kamboja, saat pembangunan mulai dipacu, anak-anak berbdan kurus menjadi pemandangan sehari-hari.Selain anak-anak yang kakinya hilang dihantam ranjauranjau darat semasa perang, sehari- hari juga ditemui kasus anak-anak mati kelaparan dan kurang gizi. Pemerintah Kamboja sudah turun membantu dengan memberi 250 gram beras per anak setiap hari. Bagi para orang tua yang punya anak-anak, jumlah sebesar itu hanya cukup untuk makan anak kecil dua kali sehari.

Pemerintah tak punya cukup uang untuk bisa memberi lebih.Demikian pula dengan lembaga internasional yang menugaskan rekan saya.Tetapi,apa yang ia lakukan sangat menarik.Di tengah-tengah harapan besar untuk menghasilkan perubahan, para aktivis sosial di Kamboja rela melakukan kerja sosial apa saja asalkan ada sedikit saja cahaya yang menerangi langkah mereka.Kehadiran rekan saya, bagi mereka,adalah cahaya. Setelah seminggu berinteraksi ia pun mulai memberi instruksi.

”Apakah di antara rakyat biasa ada ditemui anak-anak yang sehat dan relatif lebih gemuk dari yang lain?” Tanpa menunggu lama, ibu-ibu aktivis sosial di Kamboja segera menjawab yang bunyinya kurang lebih: co-co-co.Belakangan kalimat itu dipahami sebagai yes, yes, yes atau ada, ada, ada. Ia kembali menegaskan maksudnya.”Maksud saya rakyat biasa.Bukan anak lurah atau camat yang punya akses terhadap jatah kupon yang lebih besar sehingga dapat lebih banyak jatah makan.”

Mereka kembali menganggukangguk: co-co-co. Rekan saya meminta agar anak seperti itu dicari dan dibawa pada pertemuan berikutnya. Esoknya anak-anak itu dibawa. Ternyata selalu ada anomali. Anak itu begitu ceria dan segar. Padahal jatah makanannya sama. Inilah yang saya sebut “the bright spot.” Sebuah titik anomali yang terang-benderang,namun tak ada orang yang menaruh perhatian.

Temukan dan pelajarilah,apa yang membuatnya tampak berbeda. Setelah berkali-kali dialog akhirnya ditemukan apa yang membuat anak ini menjadi tampak berbeda meski mereka hidup dengan jatah dari negara yang sama dengan yang lain dan tingkat kehidupan yang sama. Miskinnya sama, tetapi mengapa hasilnya berbeda? Rupanya ibu si bayi yang sehat ini membagi jatah beras itu menjadi tiga, sedangkan anakanak yang lain hanya dibagi dua.

Jadi, kala anak-anak bayi lain makan beras jatah untuk dua kali sehari,anak yang ini diberi makan ibunya tiga kali.Cukup masuk akal karena perut anak-anak bayi tidak dapat menyerap gizi lebih dari kemampuannya yang terbatas. Lantas apa yang membedakannya? Rekan saya memutuskan untuk datang bertamu ke rumah keluarga bayi sehat ini. Di situ ia menemukan pemandangan yang berbeda. Keluarga itu ternyata sebuah keluarga yang berpengetahuan, menghargai ilmu,dan lebih kreatif dalam membangun masa depan.

Setiap pagi ibu anak ini pergi ke ladang mengumpulkan ubi-ubi merah, dan suaminya mencari udangudang kecil di sungai. Ubi, udang, dan ikan-ikan halus, dikumpulkan dan dijadikan menu tambahan anak. Setelah dimasak lalu dihaluskan, ditumbuk, dan disaring. Upaya ini memerlukan kerja keras dan kebiasaan. Jadi anak mendapat volume makan sedikit lebih banyak dengan menu lebih bergizi.

Selebihnya Anda bisa mengerti dengan sendirinya.Rekan saya menggunakan metode yang diterapkan di keluarga sehat ini pada keluarga-keluarga lain. Ia membentuk kelompok ibu-ibu yang terdiri atas 10 orang dan mereka dilatih mencari ubi,menangkap ikan di sungai,menumbuk, dan menyaring makanan.

Mereka juga dilatih memasak dan menyuapi anak. Waktu berjalan, hasilnya bisa diduga.Tanpa biaya tambahan dari negara, masalah kurang gizi teratasi. Satu per satu anak yang dilahirkan terselamatkan,bukan dengan uang santunan yang lebih besar, tetapi dengan cara yang berbeda. Perubahan terjadi karena seseorang mampu melihat “the brightest spot”.

Dalam masalah yang sedang dihadapi saat ini seharusnya pemerintah mencari the brightest spot. Substansi dari masalah yang ada.

Mengapa masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, yang implikasinya menambah macet dan juga menambah beban pemerintah dalam  menanggung anggaran SUBSIDI BBM.

Salah satu jawabannya akan kita temukan ketika kita menaiki moda transportasi umum kita. Kenyamanan, alokasi waktu, pelayanan masih menjadi barang langka dalam moda angkutan umum Indonesia.

Maka, bagaimana menyelesaikan masalah yang ada adalah dengan memperbaiki angkutan umum yang ada. Memang penulis pun menyadari hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi jika seluruh stake holder memiliki kemauan yang kuat, pasti hal hal itu akan dapat tercapai.

Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater..

MERDEKA !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s