Membangun peradaban membaca

Dalam keberjalanan suatu negara, pendidikan merupakan salah satu pilar utamanya, bahkan menjadi pondasi dasar untuk mengokohkan keberjalanan bangsa itu.

Dalam konteks kekinian, kita dapat melihat hegemoni eropa disebabkan majunya pendidikan mereka.

Sejarah Islam pun menunjukkan hal yang selaras, masa-masa kejayaan islam di bangun diatas pondasi dasar keilmuan yang kental, maka tak heran dimasa emasnya, islam memiliki ilmuan-ilmuan yang sangat hebat. Mungkin memang seperti itu, kemajuan peradaban tak akan pernah lepas dari ilmu.

Melihat dalam perspektif Indonesia, kita memang perlu merefleksi, pendidikan masih sarat kelangkaan. Jangankan berbicara lingkup pedesaan, dalam masyarakat kota-kota besar yang notabene dekat dengan pusat pemerintahan pun masih terlihat kesenjangan.

Berbicara pendidikan, tentu kita tidak lepas dari budaya membaca, dan mungkin budaya membaca ini lah yang harus dikembangan untuk lebih jauh membangun karakter pendidikan di Indonesia.

Berkaca dari negeri sakura, Jepang,  kita akan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara budaya Indonesia dan Jepang dalam pemanfaatan waktu luang. Mungkin kita akan terheran ketika memasuki transportasi umum mereka, semua orang memegang buku bacaan, seolah tak ingin melewatkan sedikit pun waktu mereka dengan hal sia-sia, bagaimana dengan kita ?

Lalu bagaimana kita membangun peradaban membaca dalam lingkup Indonesia.

Dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil dan dari sekarang.

Agaknya kata-kata Aa gym itu sangat tepat untuk menentukan gerak langkah kita membangun peradaban membaca. Mulai dari diri sendiri, saat ini saya pun sedang belajar untuk terus menambah wawasan dengan membaca, baik itu terkait core competence saya di bidang energi maupun pengembangan diri.

Memulai dari hal kecil, setelah memulai nya dari diri sendiri, mengajak teman terdekat untuk aktif membaca merupakan salah satu jalan untuk meretas budaya membaca itu, atau memulainya dari

keluarga.

 

Gambar diatas menggambarkan bagaimana tahap-tahap mengentaskan budaya membaca. Memulai dari diri sendiri, kemudian mengajak orang lain / keluarga, dari keluarga kemudian masyarakat dari kumpulan masyarakat akan saling menyatu menjadi negara dan kemudian akan terbentuk lah peradaban membaca.

Memulai nya dari sekarang, yuk kita mulai membiasakan membaca dari sekarang.

 

Mimpiku

Terkait budaya membaca ini, saya memiliki sebuah impian, yaitu membangun taman bacaan di rumah saya, karena melihat budaya membaca ini di lingkungan rumah saya sudah sangat tergerus oleh budaya menonton televise (TV), belum lagi isi tayangan TV Indonesia yang jauh dari nilai-nilai pendidikan.

Apalagi, 2 hari terakhir ini saya banyak sekali mendapat inspirasi untuk mewujudkan salah satu mimpi saya itu menjadi kenyataan .  Beberapa hari lalu saya membaca di sebuah surat kabar, sebuah perusahaan makanan membangun taman bacaan sebagai bentuk kepedulian sosialnya, dan satu hari setelahnya, saya membaca biografi singkat seorang Rhenald Kasali, Guru Besar Managemen Universitas Indonesia ini pun melakukan hal yang sama, Ia membangun taman bacaan di rumahnya, sebagai bentuk kepedulian sosialnya.

Yap, semoga mimpi ini bisa segera terwujud…[]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s