Intropeksi Ketergantungan Terhadap Minyak Bumi

Berbicara tentang energi tentunya kita tidak lepas dari kehidupan ekonomi suatu bangsa, begitu pun dengan Indonesia, energi mengambil peran yang sangat vital dalam keberjalanan kehidupan masyarakat dan ekonomi bangsa ini. Tak jarang isu energi pun menjadi isu sensitif yang dapat mengendalikan naik turunnya reputasi pemerintahan. Masih hangat dalam memori kita ketika pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I menaikkan harga BBM, kebijakan itu dianggap tidak memihak rakyat dan efeknya menurunkan citra pemerintahan itu.

Energi pun memiliki peran yang sangat sentral karena sektor inilah yang memberikan sepertiga dari APBN Negara. Selain itu, energi memang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat, kelas bawah hingga eksekutif. Dalam kehidupannya sangat bergantung akan energi, mulai dari urusan dapur yang bergantung dengan LPG atau minyak tanah, hingga transportasi yang menggunakan premium, solar, hingga pertamax.

Isu energi memang menjadi sesuatu hal yang menarik jika dibenturkan dengan potensi Indonesia, kekayaan bangsa ini akan sumber buminya menjadi salah satu pemicu tersendiri.

Namun, dalam implementasinya Indonesia harus intropeksi diri, ketergantungan penggunaan Energi Fosil yang notabene tak terbarukan seperti minyak bumi, batubara dan gas bumi dapat memberikan dampak yang buruk.

Keberadaan Energi Fosil yang tidak terbarukan ini harus segera dikurangi, terutama pada penggunaan minyak bumi, cadangan yang semakin menipis dan produksi yang tidak berbanding lurus dengan konsumsi dalam negeri menjadi penyebab utamanya. Alih-alih memenuhi pasokan minyak dalam negeri, dalam beberapa tahun terakhir lifting minyak mentah Indonesia terus mengalami penyusutan. Tak pelak Indonesia harus menjadi pengimpor emas hitam ini dan keluar dari OPEC ( Organization of the Petroleum Exporting Countries).

Maka sudah seharusnya seluruh stake holder yang ada memikirkan alternatif lain untuk memenuhi konsumsi energi dalam negeri. Salah satunya adalah dengan melakukan program diversifikasi energi, beralih dari kebergantungan energi Fosil tak terbarukan menuju pengembangan Energi Baru dan Terbarukan.

Melihat potensi Indonesia yang sangat besar akan Energi Baru dan Terbarukan ini, sudah seharusnya Indonesia benar-benar serius memikirkan perkembangannya.

Geothermal (Panas Bumi), Coal Bed Methane, Nuklir, Energi Panas Matahari (Surya) dan Biofuel merupakan sebagian dari sekian banyak energi terbarukan yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

 

Geothermal (Panas Bumi)

Dengan potensi 40 % dari potensi dunia, dan kini Indonesia baru mengembangkannya 4 % saja, Indonesia sudah berada di posisi ketiga dunia. Selain potensi nya yang sangat besar. Panas Bumi juga sangat ramah lingkungan, dengan semakin santer nya isu climate change (perubahan iklim), geothermal memiliki keunggulan tersendiri untuk terus dikembangkan. Berkaca pada romantika sejarah masa lalu, Indonesia telah memulai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) nya hampir 90 tahun lalu, yaitu pada tahun 1926 sampai 1928, dibawah Pemerintah Hindia Belanda. Romantika sejarah ini seharusnya menjadi acuan, bahwa Indonesia sebenarnya telah memahami seluk beluk pengembangan energi Panas Bumi ini.

 

Nuklir

Dewasa ini isu climate change (perubahan iklim) semakin di dengung-dengungkan, maka diperlukan energi yang ramah lingkungan, salah satu alternatif itu adalah energi Nuklir. Dibandingkan energi Fosil yang menghasilkan emisi gas yang mencemari lingkungan, Nuklir tergolong sangat ramah lingkungan, bahkan dibandingkan alternatif energi lain, emisi  nya tergolong paling rendah.

Dari segi infrastruktur dan suprastruktur untuk mengembangkan Nuklir ini, banyak pihak meyakinkan kesiapan Indonesia, salah satunya adalah Taswanda Taryo perwakilan dari BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) ini menilai Indonesia telah siap dari sumberdaya manusia, pemangku kepentingan, industri, dan regulasi.Ia menambahkan,  jika diperhatikan, dari sistem regulasi dan kepakaran, sampai ketersediaan bahan baku dan kajian keselamatan, Indonesia memang seharusnya pantas memiliki PLTN. Namun, dalam aplikasi lapangannya, isu Nuklir memang selalu lekat dengan opini-opini desktruktif, ingatan masyarakat masih amat kental dengan kejadiaan kerusakan yang diakibatkan oleh pengembangan Nuklir, contohnya seperti pemboman Hiroshima dan Nagasaki puluhan tahun silam. Maka menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kita bersama untuk membangun paradigma konstruktif dalam diri masyarakat kita, memberikan pencerdasan akan keberadaan Nuklir yang sangat potensial untuk dikemnbangkan dan tentunya keamanan yang terjamin.

 

CBM (Coal Bed Methane)

Coal Bed Methane adalah gas yang dihasilkan dari perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman tanah. Gas itu kemudian terperangkap dalam pori-pori barubara, dan sebagian besar gas ini adalah gas Metan, sehingga disebut Coal Bed Methane.  Hubungan Coal Bed Methane yang “sangat dekat” dengan batubara menjadikan nilai plus tersendiri bagi pengembangan energi ini, karena eksplorasi energi akan mempermudah penambang bawah tanah dalam melakukan eksplorasi tambang bawah tanah (underground). Keunggulan lain dari Coal Bed Methane adalah lokasinya yang berada dekat infrastruktur kegiatan migas yang sudah ada. Potensi pasarnya pun terus meningkat.  Potensi CBM yang berada pada 5 besar dunia menjadi tambahan “semangat” untuk mengembangkan energi ini seoptimal dan sesegera mungkin.

 

Energi Surya

Rhenald Kasali pernah berkata, Find the brightest spot. Sebuah pola pikir bagaimana menemukan “titik terterang” dalam mencari solusi sebuah masalah atau kita juga mengenalnya dengan win win solution. Memanfaatkan peluang yang ada, sebagai Negara Tropis, harusnya kita sadar akan “titik terang” geografis kita ini, bagaimana kemudian letak geografis ini harus kita manfaatkan. Potensi Energi Surya negeri ini sangatlah besar. Intensitas matahari yang hampir merata di setiap daerah harus menjadi peluang untuk di optimalkan pengembangannya, selain itu geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau kecil dan daerah-daerah terpencil sangat sulit jika mengandalkan jaringan listrik terpusat. Pengadaan listrik didaerah-daerah dengan memanfaatkan potensi Energi Surya ini menjadi alternatif yang bisa dilakukan.

 

Biofuel

Sampai saat ini alternatif Energi Baru dan Terbarukan yang ada lebih cenderung untuk pemenuhan kebutuhan industri dan pembangkit listrik. Biofuel, merupakan salah satu energi alternatif yang telah terbukti penggunaannya. Brasil salah satu negara yang telah memanfaatkan. Mengurangi gas emisi rumah kaca, mengurangi emisi racun seperti hidrokarbon dan karbonmonoksida, biodegrabilitas lebih cepat dari bahan bakar minyak. Itulah sebagian –yang penulis tahu- dari sekian banyak keuntungan yang akan dihasilkan jika Indonesia mengaplikasikan penggunaan Biofuel ini.

Itu  hanya sebagian kecil kelebihan-kelebihan dari Energi Baru Terbarukan yang ada di Indonesia, melihat banyak kelemahan-kelemahan dalam peng-anakemasan energi fosil, maka pengembangan energi terbarukan mutlak segera dilakukan.

 

Belajar dari Negeri Samba

Orang bijak pernah berkata, “belajarlah hingga ke negeri Cina”. Mari belajar pengembangan energi terbarukan dari Brasil, negeri yang secara struktural memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia itu, kini telah lepas dari belenggu energi fosil. Kini Brasil tidak lagi ambil pusing dengan kenaikkan harga minyak mentah dunia, hal itu karena Brasil telah beralih dari penggunaan minyak bumi ke Biofuel. Tapi, tentunya diversifikasi energi itu tidak berjalan dengan mudah. Dalam melakukan program diversifikasi energi, kita akan dihadapkan pada persoalan jangka panjang dengan program-program kecil yang sustainable, itu pulalah pelajaran yang harus diambil oleh bangsa Indonesia dari kesuksesan program diversifikasi energi yang dilakukan Brasil . Diawali atas kesadaran untuk menghilangkan ketergantungan terhadap minyak mentah dunia yang harganya semakin melonjak pada tahun 70an, pemerintah Brasil yang berkuasa saat itu mulai mengurangi subsidi BBM 5-10% setiap tahunnya.

Yang membedakan program Pengurangan Subsidi BBM Brasil dengan Program yang akan di jalankan pemerintah Juli nanti adalah pemerintah Brasil menjalankan Program pembatasan subsidi itu dengan turut mengembangkan energi lain, sehingga masyarakat brasil saat itu memiliki alternatif bahan bakar lain selain minyak. Sementara program pembatasan subsidi yang akan dijalankan Pemerintah Indonesia hanya berkutat pada minyak bumi. Ketepatan kebijakan yang diambil pemerintah Brasil saat itu, kini telah dirasakan rakyat nya, dengan mandiri nya energi Brasil.

 

Kurangnya Peran Pemerintah

Dalam keberjalanan nya, pemerintah memang telah memiliki itikad baik dengan adanya visi 25/25, yaitu penggunaaan Energi Baru dan Terbarukan 25% dari penggunaan energi keseluruhan Indonesia pada tahun 2025. Namun, itu saja belum cukup, dibutuhkan effort lebih.  Titik dasar peran pemerintah adalah bagaimana pemerintah melakukan manajemen yang baik terhadap energi ini, salah satunya dengan mencabut UU Migas, UU Migas yang “membawa” tema liberalisasi ini tentunya sangat bertentangan dengan asas kemakmuran rakyat yang terkandung dalam UUD 45.

Selain itu, sosialisasi pengembangan Energi Baru dan Terbarukan ini sangat kurang sekali terutama ke masyarakar grass root (akar rumput). Padahal dalam penerapan program Energi Mix ini, pasti akan berbenturan dengan kepentingan masyarakat sebagai penggunanya. Contoh : salah satu masalah utama pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ialah adanya penolakan dalam masyarakat, baik itu individu maupun berkelompok dalam naungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maka peran pemerintah ada lebih mensosialisasikan pengembangan PLTN ini, dengan cara memberikan lebih banyak ruang diskusi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat ini.

 

Peran Mahasiswa

Dalam membangun Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional tentu dibutuhkan peran semua lapisan masyarakat Indonesia, entah pemerintah sebagai pengambil kebijakan, industri sebagai aplikasi lapangan, masyarakat sebagai komponen yang terkena dampak kebijakan maupun mahasiswa sebagai iron stock. Dengan idealisme dan sifat kritisnya mahasiswa dihadapkan kepada pilihan untuk tidak hanya sebatas menuntut dan mengkritik kebijakan-kebijakan yang dibuat, tapi  harus terjun langsung dalam membangun visi Kemandirian Energi Indonesia itu sejak dini.

Lalu kontribusi riil apa yang dapat diberikan mahasiswa ?

Penulis akan mengaitkan peran mahasiswa ini dengan konsep perubahan yang sering didengungkan oleh Aa gym, yaitu memulainya dari diri sendiri, dari hal kecil dan dari sekarang

Memulai dari diri sendiri, sebagai seorang agent of change sudah seharusnya mahasiswa turut andil memikirkan masalah bangsa ini, banyak cara dan peran-peran strategis yang dapat mahasiswa jalankan, salah satu nya memberikan masukan sekaligus pencerdasan kepada pemerintah dan masyarakat dengan cara menuliskan dan berusaha mengirimkan pikiran-pikiran kita sebagai mahasiswa ke media massa, karena lingkup media massa yang tidak hanya regional tapi juga nasional memberikan celah tersendiri untuk kontribusi mahasiswa, baik itu kontribusi vertikal (ke pemerintah) maupun horizontal (ke masyarakat). Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri, dengan memulainya dari diri sendiri, diharapkan banyak orang yang akan terinspirasi dari “aksi” yang kita lakukan.

Mulai dari hal kecil, banyak ruang kontribusi yang dapat kita lakukan untuk turut terlibat membangun Kemandirian Energi Indonesia, meskipun terkadang hal itu luput dari penglihatan kita. Salah satunya adalah memberikan pencerdasan dan meluangkan waktu lebih banyak untuk berdiskusi terkait permasalah energi bangsa dengan keluarga atau pun teman-teman terdekat kita.

Mulai dari sekarang, imajinasi Ketahanan dan Kemandirian Energi Indonesia di masa depan tidak akan terwujud jika kita tidak berkontribusi dari sekarang.

Dalam bukunya yang berjudul The Extreme Future: the Top Trends that Will Reshape the World in the Next  5, 10, and 20 Years, James Canton membeberkan 10 tren yang akan mengubah wajah dunia masa depan. Salah satu poin yang di tuangkan Canton dalam bukunya itu ialah masalah krisis Energi.

Canton meramalkan, pada tahun 2015, krisis minyak bumi makin memuncak. Singkat kata, jika tak bisa mengurangi penggunaan minyak bumi, manusia harus mencari sumber energi baru.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sama-sama intropeksi diri, mengurangi ketergantungan akan energi fosil dan mulai mengembangkan segala potensi Energi Baru dan Terbarukan yang ada di Negeri ini.[]

 

*Esai KENMI (KONFERENSI ENERGI NASIONAL MAHASISWA INDONESIA) II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s