ehm, tenyata menulis itu tidak semudah berbicara..

Ternyata tak mudah dan tak segampang kelihatannya, namun juga tak sesulit yang diduga.

Yap, menulis memang tak semudah keliatannya, mentransformasikan untaian ucapan dalam rangkaian kata penuh rasa, bermutu, dan bermakna ini dibutuhkan sebuah keahlian tersendiri. Meskipun bukan berarti menulis adalah bakat (inborn), menulis ‘hanya’ membutuhkan kemauan dan kekontinuan.

Awalnya memang ragu, takut ketika tulisan ini tidak bermutu, tidak bermakna, atau malah tidak berguna, tapi rasanya jika terus ragu, dan takut untuk memulai, kita (saya) tidak akan pernah belajar untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan dalam tulis menulis.

Bukannya karena tahu akan ada perbaikkan makanya kita tidak ragu mebuat kesalahan ? ^^

Pernah saya bertanya seorang kaka kelas saya tentang bagaimana dia bisa menulis dengan sangat lihai seperti sekarang. Jawabannya simple yang penting mulai dulu, tulis apa aja.

Kalo kita (saya) terus berpikir kualitas dan takut memulai, kapan saya takut titik lemah itu ?

Menurut saya, yang penting kuantitas, dengan semakin banyak menulis kita akan semakin tahu kelemahan dan kekurangan tulisan kita, selanjutnya Insya Allah kualitas akan terus mengikuti.

Mengutip kata-kata Fachmi Casofa, if not me who, if not now when ?..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s