Sebuah Narasi Besar tentang Visi Hidup

-Tulisan ini adalah tugas yang dibuat dalam rangka diklat PROKM ITB 2011, dibacakan saat diklat kedua, rabu 15 Juni 2011-

“Sebaik-baiknya Manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”.

    Aritoteles pernah menjabarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial atau zoon politicon, yang mengartikan bahwa untuk menunjukkan eksistensi nya manusia harus berinteraksi dengan manusia lain. Maka dalam hubungan interaksi ini, akan terbentuk simbiosis (pola hubungan) antara satu manusia dengan manusia lainnya dalam interaksi tersebut.

    Lalu dalam interaksi itu, dimanakah kita menempatkan diri ? sebagai objek yang terus-menerus diuntungkankah, sebagai objek seimbang antara keuntungan dan kerugian kah, atau malah menjadi objek yang terus memberi keuntungan.
    Interaksi antar manusia memang terlalu materialistik jika hanya diukur berdasarkan untung rugi, akan lebih tepat jika kita mengkurnya berdasarkan kontribusi. Sejauh apa kontribusi dan kebermanfaatan kita terhadap orang lain.

    Visi Hidup

    Kalau sudah besar mau jadi apa ?

    Cita-cita kamu apa ?

    Dua pertanyaan pasti pernah menghampiri kehidupan kita, sejak kecil pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah akrab dalam kehidupan kita. lalu, mengapa pertanyaan itu seolah menjadi menu wajib dalam keberjalanan seseorang dimasa kecilnya. Jawabannya adalah karena kita diharapkan memiliki tujuan atau visi hidup, dengan adanya visi hidup ini diharapkan kehidupan kita akan lebih terarah dan fokus, selain itu adanya visi hidup ini menjadikan kita lebih dini dalam mempersiapkan diri dalam mencapai visi itu. Tidak hanya sebagai individu, dalam sebuah oragnisasi atau perusahaan atau bahkan sebuah Negara harus memiliki sebuah visi. Maka kita pun tahu, sebuah perusahaan atau Negara Maju adalah mereka yang memiliki visi hidup yang jelas.

    Visi Hidup Ku

    Menjadi Manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

    Dalam satu kalimat besar itulah visi hidup saya termaktub, namun, tentunya visi itu terlalu abstrak, perlu spesifikasi dalam misi-misi atau target hidup. Atau kontibusi apa yang dapat menggambarkan kesungguhan dalam menjalankan visi tersebut. Untuk itu saya memiliki beberapa impian untuk merealisasikan visi tersebut.

    1.Membuat Perusahaan di bidang energi yang kemudian akan membuat program beasiswa untuk mereka yang kurang mampu.

    Core Competence (kompetensi inti) saya yang berurusan di bidang energi dan keinginan untuk meningkatkan jumlah entrepreneur Indonesia, menjadikan saya memiliki sebuah impian untuk membangun sebuah perusahaan dibidang energy, untuk selanjutnya dengan sebauh program beasiswanya akan membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikannya.

    2.Membuat taman bacaan

    Fakta mengatakan pendidikan menjadi salah satu indicator utama kemajuan sebuah bangsa, dan jika ditelaah lebih jauh, inti dari pendidikan adalah membaca, dan realita mengatakan tingkat budaya membaca bangsa Indonesia sangat rendah, entah itu karena kita sendiri yang malas membaca atau kurangnya fasilitas yang ada. dengan membangun taman bacaan ini saya ingin meningkatkan tingkat minat baca masyarakat kita, dan dengan begitu saya berharap ini menjadi trigger lebih baiknya pendidikan Indonesia pada umumnya dan kondisi Indonesia pada khususnya.

    3.Membangun sebuah program pembinaan manusia strategis.

    Jangan tanyakan tentang Sumber Daya Alam kepada bangsa ini, tapi tanyakanlah keadaan Seumber Daya Manusianya, karena sudah jelas, sejak kecil, kita sering sekali di ‘dongengkan’ kekayaan Alam bangsa ini, mulai dari sabang sampai merauke. Tapi mengapa kita masih saja stagnan sebagai bangsa yang berkembang, jawabannnya ada pada keadaan Sumber Daya Manusia kita yang masih rendah, dengan membangun sebuah program pengembangan Manusia strategis ini saya berharap akan muncul anak bangsa yang dengan segala kompetensi dan integritasnya, siap membawa Indonesia kearah yang lebih baik.

    Itulah visi saya, sebuah visi sederhana namun saya berharap melalui beberapa impian itu visi itu dapat terwujud.

    saya Ingin

    Saya ingin menjadi seperti Muhammad Yunus, dengan Grameen Bank nya berhasil membantu ekonomi kaum papa.

    Saya ingin seperti seorang Soekarno, yang berhasil menaikkan harkat dan martabat bangsanya.

    Saya ingin seperti Erdogan, dengan gagah berani mengatakan kebiadaaban Israel dan Amerika terhadap Palestina.

    Saya ingin seperti Soe Hok Gie, dengan lantang berani mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

    Saya ingin seperti Bung Tomo, dengan Orasi dan Pidatonya dapat membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia.

    Saya ingin seperti Ibu Sri Mulyani, Ia tetap tegar, meskipun rakyat terus mencercanya, melupakan kontribusinya, melecehkannya, padahal dunia mengakuinya sebagai salah satu yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s