Resume Materi Diklat Hari ke-3 PROKM ITB 2011

Visualisasi Mimpi

Setelah pertemuan sebelumnya diminta membuat visi hidup, hari ketiga ini semua calon panitia PROKM ITB 2011 diminta membawa visualisasi dari visi tersebut, baik berupa karya 2 dimensi (gambar) maupun 3 dimensi (produk). Banyak pertanyaan yang berkembang, mengapa visi itu harus di visualisasikan, untuk apa ? pentingkah ?

Ada sebuah quote yang sangat saya ingat dari senior saya, yaitu “Alasan bergerak selalu lebih penting dari bergerak itu sendiri” atau dalam versi lain kita mengenal nya dengan “ilmu diatas amal”. Intinya kita harus mempertanyakan mengapa kita harus melakukan hal tersebut, lalu meyakini kebaikan akan hal itu. Karena apapun yang kita lakukan, tanpa pengetahuan dan keyakinan, hasil yang didapat tidak akan maksimal atau malah tidak terselesaikan.

# Mengapa harus divisualisasikan ?

Cuplikan tulisan Arief Munandar (Trainer young leaders) dibawah ini saya rasa cukup untuk menjawab kegelisahan kita.

Bermimpi adalah kompetensi yang mutlak dimiliki seorang leader. Bukan sekedar bermimpi, namun melakukan visualisasi dalam pikiran sedemikian rupa sehingga mencapai titik disosiasi. Disosiasi adalah sebuah kondisi di mana kita seolah-olah melihat rekaman video tentang mimpi kita – lengkap dengan gambar, suara, dan sensasi rasa (visual, auditory, kinesthetic) – di mana kita melihat diri kita sendiri dalam film itu sebagai aktor utamanya. Disosiasilah yang membuat otak dan pikiran kita “tertipu”, merekam imajinasi itu, mimpi kita, sebagai realita, sehingga menjadi referensi yang sangat kuat, dan pada gilirannya mampu menciptakan sense of certainty, rasa pasti, yang membangun keyakinan kita, belief, terhadap visi itu. Dan jangan lupa,sense of certainty, belief, merupakan perintah mutlak, unquestioned command, terhadap sistem saraf dan proses-proses biokimia dalam tubuh kita, yang pada gilirannya akan membangunkan seluruh potensi tak terbatas yang sebelumnya lelap tertidur.

# Beralih dari unjuk rasa ke unjuk rasio

Sudah bukan zaman nya lagi gerakan mahasiswa bertumpu pada pola turun ke jalan saja, karena kenyataannya, aksi turun ke jalan yang seharusnya membawa ‘nama’ rakyat, justru lebih banyak merugikan rakyat , meskipun tidak semua aksi mahasiswa seperti itu, Karena saya percaya masih banyak mahasiswa yang dapat mengorganisasikan sistem Aksi nya dengan baik.
Mungkin itulah yang diinginkan Pendiklat calon Panitia PROKM ITB 2011 kepada kami calon Panitia PROKM ITB 2011, mengubah paradigma tentang kontribusi mahasiswa dari sekadar unjuk rasa menjadi unjuk intelektualitas (rasio).

Pada pertemuan ketiga ini, kami diminta terjun langsung ke masyarakat, setiap kelompok di arahkan ke sebuah daerah untuk kemudian melakukan wawancara / diskusi kepada masyarakat di daerah itu, mencoba menggali masalah yang ada di daerah itu dan tentunya mencari solusi nya.

Wawancara ini dilakukan sampai sebelum shalat jum’at, setelah shalat jum’at kami diminta berkumpul di tempat kami berkumpul sebelumnya, kebetulan saya (kelompok 98) sebelumnya berkumpul di taman ganesha, kemudian disana kami menshare, hasil wawancara kami dengan kelompok lain, apa yang kami dapat.

Daerah yang jelajahi adalah cisitu, inti masalah yang ada disana Minimnya Pribumi karena perbandingan antara kos-kosan dan rumah penduduk sangat timpang, kemacetan, Kesemrawutan bangunan, Keamanan (banyak Maling), dan banyaknya Sampah. Selain menyimpan masalah keberadaan mahasiswa disana ternyata juga membawa sisi positif, karena dengan banyaknya mahasiswa, perekonomian didaerah itu meningkat, baik melalui kos-kosan, warung makan, laundry, maupun hal lainnya. Harapan warga sekitar, mahasiswa ITB kedepannya harus lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan soSial didaerah cisitu.

Seperti biasa, setelah itu kami kembali berkumpul di lapangan basket CC barat, mendengar sedikit orasi dari salah seorang pendiklat, Realitas bangsa, itulah tema pertemuan ketiga ini, maka tak heran orasi penutup ini menekankan pada keadaan kekinian Indonesia.

Salam Ganesha menjadi penutup diklat hari ketiga ini, salam itu membahana di langit kampus Gajah duduk itu, sebuah salam yang sangat berat, karena menilik isinya, akan kita dapati bahwa itu adalah sebuah Janji.

“SEMANGAT BERKEMAHASISWAAN UNTUK INDONESIA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s