Materi diklat ke -6 PROKM ITB 2011 ala Denny

Calon Panitia PROKM ITB 2011 kembali melanjutkan ‘daily activities’ nya, diklat terpusat. Pukul 10.00 (tepat gak yah ??), panitia di arahkan berbaris di lapangan Basket CC barat, Alhamdulillah hari ini saya kembali baris di belakang -adem euy-. Aneh tapi nyata, awal diklat kali ini panitia tidak melakukan cek spek, entah memang karena mepet nya waktu denagn shalat Jum’at atau panitia husnuzhan (berbaik sangka) dengan peserta. Peserta langsung di mobilisasi ke tempat masing-masing, lagi-lagi (untuk kesekian kalinya) kelompok saya (98) kebagian di Taman Ganesha.

Mengembangbiakkan budaya diskusi diantara mahasiswa, mungkin itu yang diinginkan oleh para pendiklat PROKM 2011, maka tak heran diskusi –yang termanifestasi dalam lingkar wacana- menjadi menu yang dominan dalam keberjanan diklat. Begitu pun diklat hari itu, menu awal kami adalah Lingkar wacana dengan tema gerakan mahasiswa. Tema ini seolah menjadi pelengkap dari diklat-diklat sebelumnya, di awal kami di hadapkan pada pengenalan internal diri ( Visi Hidup dan POPOP) kemudian pengenalan lingkungan (Realitas Bangsa, Budaya dan Sejarah Mahasiswa ITB, Seluk Beluk ITB) maka inilah pelengkapnya SEMANGAT dan KESADARAN BERGERAK (gerakan mahasiswa).

# GERAKAN MAHASISWA

Pada dasarnya gerakan mahasiswa di bagi atas 2 bagian besar, yaitu Gerakan horizontal dan gerakan vertikal.

1. Gerakan horizontal berarti gerakan yang berbasis kepada rakyat. Manifestasi dari gerakan horizontal adalah Comdev (Community Development), Bakti Sosial dll. Inti dari gerakan horizontal ini termaktub dalam salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Masyarakat. Kelebihan gerakan ini adalah jika dilakukan dengan kondisi ideal, perubahan yang diinginkan akan tercapai, karena disini mahasiswa secara langsung berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, kontrol dan evaluasinya. Kelebihan lain adalah tepat sasaran. Kekurangan, siapa yang berperan sebagai oposisi pemerintah?

2. Gerakan vertikal berarti gerakan yang berbasis gerakan ke arah pemerintah. Pada pola vertikal ini, mahasiswa bertugas mengadvokasi dan berperan sebagai grup penekan (pressure group) atas kebijakan pemerintah yang bertentangan dan tidak pro rakyat. Wujud dari gerakan vertikal adalah Aksi turun ke jalan atau versi lainnya adalah demo atau unjuk rasa, meskipun yang kedua dan ketiga menurut saya berkonotasi negatif. Kelebihan , menjadi penekan bagi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, jika berhasil, dampak nya luas. Kekurangan, kadang tidak tepat sasaran, manajemen aksi yang harus lebih terorganisir.

Lalu bagaimana seharusnya mahasiswa bergerak, cukup horizontal sajakah ? atau cukup focus pada kebijakan pemerintah (vertikal)? Pada kenyataannya mahasiswa tidak bisa melakukan gerakan secara parsial saja, harus ada kolaborasi antara keduanya, agar di hasilkan gerakan yang utuh, integral dan komprehensif. Disaat ada isu regional atau nasional yang sedang hangat tentu mahasiswa harus memikirkan perlu tidaknya aksi turun ke jalan. Aksi ini tentunya diikuti dengan kajian yang mendalam terhadapa masalah yang ada, selain itu di perlukan manajemen aksi yang baik agar aksi yang di jalankan tidak merugikan orang lain (macet) atau malah berbuntut anarkis. Dan tentunya gerakan horizontal harus terus dikembangkan.

#Debat Realitas Bangsa

Debat lagi, debat lagi, untuk kedua kalinya bagi saya melakukan debat dalam diklat PROKM ini, meskipun tidak lagi berhadapan dengan kelompok 97..^^ Dalam debat ini, saya dan teman-teman kelompok 99 dan 100, yang sejak awal berada dalam satu lingkaran diskusi, dibagi menjadi 4 peran, yaitu :

1. Rakyat (ibu rumah tangga dan sopir),

2. Mahasiwa,

3. Pertamina,

4.Pemerintah.

Tema besarnya adalah kenaikkan harga BBM.

Mengapa perlu ada pembagian peran seperti itu ? jika ada yang bertanya demikian, apa jawaban Anda ? Pembagian peran dimaksud kan agar kami dapat melihat dari sudut pandang dari masing-masing peran kami, karena pada dasarnya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu yang dilihatnya, contohnya saja, jika kita mendeskripsikan sebuah botol, satu orang melihat nya dari bagian depan, sementara yang lain melihatnya dari bagian belakang, tentu deskripsi botol yang dihasilkan akan berbeda.

Back to topic, kesimpulan dari debat ini, Pemerintah dalam keadaan bingung, disatu sisi di harus menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia terus melambung, disisi lain kenaikkan BBM merupakan keputusan tidak populer, dan akan mengakibatkan Pro-Kontra dan akan membuat citra pemerintah turun dihadapan rakyat.

Bagi Pertamina, mereka merasa sudah berusaha semaksimal mungkin dalam lifting minyak dalam negeri, tapi prilaku konsumtif masyarakat Indonesia menjadikan itu sama sekali tidak berarti.

Bagi Mahasiswa, posisi mereka sebagai agen perubahan mengharuskan mereka terus menekan pemerintah untuk mencari solusi lain, dan mereka merasa sudah melakukan berbagai upaya dalam mengurangi konsumsi BBM, mulai dari konsep EcoLifestyle, Bike to campus, mematikan lampu yang tidak terpakai dsb. Selain itu mereka menyesali, kelinglungan pemerintah, beberapa bulan lalu pemerintah sudah membentuk tim yang terdiri dari para pakar di ITB, UI dan UGM, dan tim itu sudah merumuskan hasil musyawarah mereka, namun, hal itu seolah hilang begitu saja.

Bagi Rakyat (ibu rumah tangga dan sopir), keputusan ini sungguh sangat memukul mereka, bagi sopir hal ini tentu memaksa mereka untuk menaikkan tarif, dan imbasnya mungkin akan terjadi reduksi jumlah penumpang, karena mereka akan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Bagi ibu rumah tangga, kenaikkan BBM –seperti sebelum-sebelumnya- pastinya akan berdampak terhadap naiknya harga bahan-bahan pokok.

Setelah acara debat itu, kami di mobilisasi lagi ke Lapangan basket CC Barat –sebelumnya ada pengumuman tugas besar-,” tutup Mata tutup telinga tundukkan kepala”, tanda akan ada seseorang yang berorasi itu dimulai dan memang seperti itu. Gerakan Mahasiswa, itu tema kali ini, disaat yang sama kelelawar-kelelawar itu keluar dari tempat peristirahatannya, hewan nokturnal itu memulai kehidupannya. Jika dianalogikan, kelelawar itu seperti calon panitia PROKM ITB 2011, setelah 2 minggu menerima materi, kini harusnya kami merekonstruksi paradigma berpikir kami terkait posisi kami kini sebagai seorang mahasiswa. Itu hanya analogi saya, Anda boleh setuju boleh tidak.Silahkan.

“SEMANGAT BERKEMAHASISWAAN UNTUK INDONESIA”

One thought on “Materi diklat ke -6 PROKM ITB 2011 ala Denny

  1. mas itu kata”nya ada yang salah, bahaya kalo banyak yang baca… di bagian pergerakan horizontal ada kata yang salah ketik nampaknya.. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s