Improve our self : Toward a prosperous state, Indonesia.

Sejak masa Sekolah Dasar kita telah disuguhi banyak fakta-fakta tentang Indonesia, salah satu yang sering sekali diungkapkan adalah kenyataan Negara kita masih tertahan sebagai sebuah Negara Dunia Ketiga atau lebih sering disebut sebagai Negara berkembang. Saya tidak ingin lagi menyentuh fakta potensi yang kita miliki dan fakta posisi kita saat ini, karena saya yakin sudah terlalu sering kita mendengar potensi-potensi Negara kita. Lupakan sejenak hal itu, mari coba kita sama-sama pelajari (khususnya untuk saya pribadi), sebenarnya karakteristik apa yang mengklasifikasikan sebuah Negara dibedakan menjadi Negara berkembang dan Negara maju, atau bahkan Negara miskin.

Mari coba kita ambil sampel, Indonesia dan Amerika, Negara berkembang dan Negara maju, apa yang membedakan Negara kita dengan Amerika ? apakah karena berdiri lebih awal maka Amerika menjadi Negara maju. Tapi faktanya menyatakan Mesir yang sudah puluhan tahun merdeka (1922) masih saja tertatih sebagai Negara berkembang, bahkan pendapatan perkapitanya pada tahun 2002 masih $ 3000 dan ditahun yang sama pendapatan kita adalah $ 2000. Coba kita perhatikan  Singapura, Negara yang baru merdeka tahun 1965, pendapatan perkapitanya disaat yang sama sudah menginjak $ 27800. Fakta-fakta itu setidaknya menjadi gambaran bagi kita bahwa waktu terbentuknya suatu Negara tidak menjamin posisi Negara tersebut.

Jika kita liha sejenak saja, secara kasat mata dapat kita lihat perbedaan Indonesia dan Amerika adalah Perekonomian dan IPTEK, setuju ? -ini hanya versi saya saja, jika Anda memiliki pendapat lain, yuk diskusikan-.

Sampai saat ini saya pun belum mengetahui, sebenarnya ada aturan bakukah yang menyatakan suatu Negara sebagai negara berkembang atau negara maju, apakah PBB sebagai organisasi yang mengkoordinasi negara-negara seluruh dunia , memiliki karakteristik tertentu. Namun, menurut salah satu tokoh, yaitu De Blij, ada beberapa karakteristik yang membedakan Negara maju dan Negara berkembang.

Yaitu :

  1. Pendapatan Nasional Perkapita (Gross National Product/GNP)
  2. Struktur mata pencaharian dari angkatan kerja.
  3. Produktifitas per-tenaga kerja.
  4. Pengunaan energi per-orang.
  5. Penduduk melek huruf, tingkat penggunaan kalori perorang, prosentase pendapatan keluarga

yang digunakan untuk membeli bahan makanan, ataupun jumlah tabungan perkapita.

Coba kita tarik benang merah dari beberapa karakteristik yang diajukan De Blij tersebut, semuanya bermula dari individu, artinya faktor-faktor itu adalah akumulasi dari individu-individu yang kemudian bertransformasi menjadi kekuatan kolektif.

Saya sangat setuju dengan pemikiran Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina sekaligus intelektual muda Indonesia, beliau selalu menyinggung bahwa kekayaan sebenarnya Indonesia bukanlah pada Sumber Daya Alamnya, tetapi ada pada Sumber Daya Manusianya, ya SDM nya, kita semua adalah potensi bagi Indonesia. Maka implikasinya adalah wajah Indonesia adalah wajah anak bangsanya. Wajah kita, bagaimana kita adalah bagaimana Indonesia, ahh Anda pasti bercanda, bagaimana mungkin 1 orang seperti saya bisa menjadi gambaran 250 juta penduduk negeri ini. Jika mayoritas masyarakat kita bersikap apriori seperti itu, maka gambaran itu akan semakin jelas.

Maka yang harus kita lakukan adalah memperbaiki dan mengakselerasi diri kita, agar seminimal-minimalnya kita tidak menjadi beban bagi kemajuan bangsa ini dan akan lebih baik jika kita menjadi faktor pendorong bagi kebaikan negeri ini.

Bukankah manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Khairun naas anfa’uhum linnas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s