Mengembangbiakkan Kaum Revivalis

Dunia mulai memasuki era barunya, sebuah era di mana perubahan berlangsung begitu cepat dan tidak pandang bulu, bergerak atau tergantikan, pilihannya hanya itu. Perubahan-perubahan besar ini ditandai dengan munculnya para pengubah-pengubah ulung, menciptakan perubahan-perubahan drastis dan menciptakan zona baru, cracking zone, begitu Rhenald Kasali mempopulerkannya, cracking zone di tandai dengan munculnya para crackers. Yaitu orang-orang yang tidak hanya merubah wajah organisasi atau perusahaan, tapi juga mengubah peta kehidupan di bidangnya masing-masing. Hansul Suhaimi sebagai CEO XL berhasil membawa dunia telekomunikasi Indonesia ke ranah barunya, tarif minimalis, sinyal premium hingga lonjakan yang signifikan pada internal perusahaannya. Emirsyah Satar sebagai CEO Garuda Indonesia berhasil menarik perusahaannya itu dari jurang kebangkrutan ke alam kejayaan.

 
Perubahan dunia ini berlangsung begitu cepat, muncul jejaring sosial beberapa tahun terakhir berhasil mengubah daily activities sebagi besar orang, minum kopi dan membaca koran di pagi hari kini tergantikan dengan cek email, buka Facebook dan Twitter. Perubahan ini begitu cepat, drastis dan instan.

 

Lalu bagaimana dengan dakwah ? dalam beberapa tahun terakhir dakwah kampus khususnya pun mengalami perubahan yang signifikan, indicator nya dapat dilihat dengan munculnya para crackers atau Arya Sandhiyuda dalam sebuah epilog di dalam buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus menyebutnya sebagai kaum revivalis (pembangkit). Kaum revivalis ini berhasil membawa dakwah kampus –dalam hal ini LDK- menjadi lebih segar , lincah dan genit. Para aktivis dakwah kampus kini tidak lagi hanya sebagai spesialis pembaca do’a di akhir acara atau ruqyah pada acara camping, tutur Arya. Kaum revivalis berhasil membawa LDK lebih segar dengan tampilan acara-acaranya yang up to date, lebih lincah dengan pergerakan nya yang massif dan lebih genit karena acara-acara nya kini mampu menarik pangsa pasar, yaitu massa kampus. Selain itu, kaum revivalis itu juga berhasil melakukan eskalasi dakwah kampus, dari sekedar merambah ranah kultural kearah ranah struktural.

 

Efek bola salju kaum revivalis atau crackers ITB itu kini sedang kita nikmati hasilnya, namun yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah akankah kita hanya sebagai penonton saja? Meliat dari kejauhan kaum revivalis itu bergerak dan tanpa kita sadari mereka akan menghilang, karena generasi berganti. Maka yang harus dilakukan kedepannya adalah bagaimana kaum revivalis atau crackers itu bisa “berkembangbiak”. Lalu bagaimana agar kaum revivalis itu bisa berkembangbiak ?
Dari pada mengutuk kegelapan lebih baik nyalakan lilinnya (pepatah).

 

Pepatah itu bisa menjadi landasan dalam menjawabnya, “dari pada menunggu orang lain, lebih baik kita yang bergerak”, begitu kira-kira inti sarinya. Atau kita lebih sering mendengarnya dalam bahasa Aa Gym, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil. Maka kitalah yang harus menjadi suksesor kaum revivalis itu.

 

Ada beberapa langkah yang menurut saya dapat dilakukan dalam proses “mengembangbiakkan” kaum revivalis ini.

 

Yang pertama adalah niat, tentu segalanya diawali dengan kebenaran niat ini, niat adalah tonggak awal pergerakan kita, mengapa kita harus menjadi bagian dari kaum revivalis itu ? pertanyaan semacam itu patut untuk kita cari jawabannya. Dan tentu jawabannya adalah kontribusi, menjadi seorang revivalis adalah menjadi kontributor ulung. Intinya adalah kebermanfaatan pribadi kita terhadap lingkungan disekitar kita. selanjutnya dari kebenaran niat ini, akan muncul tekad yang kuat dan jelas.

Yang kedua adalah mencari tahu kebiasaan-kebiasaan para revivalis
Seorang bijak pernah mengatakan, ketika ingin menjadi orang sukses, maka bacalah biografi ornag-orang sukses tersebut, maka begitu pula tentang kaum revivalis, cari tahu kebiasaan para reviva tersebut. Memang tidak harus saklek mencontoh segalanya, karena masing-masing dari kita memiliki ciri khas tersendiri.

 

Saya sedang mencoba nya, kamu ?🙂

 

“Mungkin memang begitu, zaman ini mengharuskan para pemudanya berakselerasi lebih cepat dari pergerakan zaman itu sendiri. Berubah dari sekedar seekor kucing menjadi seekor cheetah, berpindah dari sekedar manager atau leader menjadi seorang crackers.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s