abstrak, nulis aja lah..

kenapa judulnya abstrak ? karena tulisan ini emang abstrak banget, kalo kalian sudah baca, pasti nyadar, ada lompatan-lompatan antar paragraf (missing link). Saya sendiri lupa kapan tulisan ini saya buat, sudah ada di folder komputer, baca lagi dan nyatanya saya agak males untuk ngebenerinnya, yaudah langsung saya pos aja, harap maklum yak,🙂

Pernah terpikir tentang menulis ?
Banyak orang bilang menulis adalah bakat, ahh, rasanya tak sepenuhnya benar, menurut saya menulis lebih urusan biasa atau tidak. “Bisa Karena Biasa” begitu kira-kira kata-kata bijak yang sering kita dengar. Saya pun akhir-akhir ini sedang belajar membiasakan untuk menulis, dan terkadang muncul rasa penyesalan, mengapa saya tidak memulai menuangkan gagasan-gagasan saya dalam bentuk tulisan sejak SMA, padahal banyak inspirator saat itu, mulai dari senior yang sering menulis notes di Facebook, hingga teman-teman yang mempunyai blog sendiri.

 

Yang penting tulis !

Pernah saya bertanya kepada seorang senior di Kampus yang tulisannya sudah malang melintang di ranah Lembaga Dakwah Kampus Indonesia. “kang, gimana sih kang biar bisa buat tulisan bagus kaya akang ?”, dy menjawab “yang penting mulai aja nulis dulu”.
Iya ya, selama ini saya terlalu takut untuk memulai, atau lebih tepatnya saya takut di kritik ketika tulisan yang saya buat jelek. Padahal harusnya saya tau, kritik-kritik itu malah akan membuat saya menjadi lebih baik..

Yap, cukup ya intermezonya…hhehe..

 

 

Bebicara tentang menulis, banyak orang bilang menulis salah satu cara membangun atau mengubah peradaban.
Hal itu memang tidaklah salah, banyak para ulama-ulama, atau pun tokoh-tokoh, yang telah meninggal, namun sampai saat ini kita masih dapat merasakan eksistensi dirinya.

 

Dalam konteks islam, kita memiliki banyak sekali contoh eksistensi para ulama yang secara fisik mereka sudah tidak ada, namun pemikiran nya masih berkembang hingga saat ini. Dalam bidang kedokteran kita memiliki Ibnu Sina dengan Al-Qanun Fi Ath-Thibbi nya.

Dalam ilmu hitung kita memiliki Al-Khawarizmi dengan Al-Jabar nya. Bahkan seorang Ibnu Taimiyah dikatakan pernah menulis 1 judul kitab dalam sekali duduk (wow..)..

 

Dalam konteks kekinian, kita akan banyak belajar dari Habiburahman ElShirazy, bagaimana tulisan-tulisannya dalam bentuk novel yang kemudian popular dan di film kan kembali membangkitkan semangat Keislaman di Indonesia.
Ketika berbicara tradisi menulis dalam islam, pasti tidak akan ada habisnya, membahas produktivitas orang-orang shloeh terdahulu.

 

Bagaimana dengan kita saat ini ?

 

Aah, kita lebih beruntung, teknologi semakin canggih, internet dengan mudah memberikan kita keleluasaan mencari refensi, buku-buku bacaan pun bukan barang langka.
Belum lagi menilik peran dan amanah kita sebagai seorang mahasiswa, dengan pemikiran kritisnya, idealismenya, dan segala kelebihan lainnya.

 

Jika benar-benar dioptimalkan dengan niat yang ikhlas, menulis memang dapat menjadi lumbung amal yang sangat terbuka…
Maka, tunggu apalagi, yuk tuangkan ide-ide konstruktif kita..^^

<strong> 

 

Perubahan adalah keniscayaan
Dengan kemajuan zaman dan arus barat yang kian menggerus.
Yang kita butuhkan adalah orang-orang dengan konsistensi idealisme.
Karena disini kita sama-sama berubah dan tak lupa mengubah orang lain.
Karena disini kita sama-sama memperbaiki diri dan tak lupa memperbaiki orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s