Catatan Seorang Mahasiswa : Jam itu masih mulur

Akhirnya hari ini saya kembali balik ke Bandung, tanah hunian saya selama kurang lebih 1, 5 tahun ini, setelah sebelumnya selama 1 minggu berlibur di rumah. Sebenarnya kalau di lihat berdasarkan jadwal, harusnnya saya baru akan kembali ke Bandung minggu depan, tapi karena jum’at besok ada panggilan mendadak, mau tak mau saya harus mempercepat jadwal mudik ini.

 
Bagi seorang manusia nomaden Jakarta-Bandung seperti saya, ada beberapa alternatif untuk melakukan perjalanannya, dengan Travel, Kereta, Bus, dan Motor. Yang ketiga dan keempat adalah pilihan terakhir bagi saya (dan mungkin juga Anda :)). Ketika berangkat dari Jakarta seperti sekarang ini, pilihan saya jatuh pada Kereta Api, karena menurut saya ada beberapa keuntungan yang akan Anda dapatkan ketimbang dengan travel (meskipun pada dasarnya masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri).

 

Kepulangan hari itu awalnya saya memutuskan untuk menaiki kereta pukul 15.50, tapi berhubung ketika saya ingin berangkat hujan, saya menunggu beberapa saat sambil menonton sebuah film berjudul “The lost of Atlantis Island” yang ditayangkan salah satu televisi Swasta. Setelah Hujan reda saya akhirnya memutuskan untuk berangkat menuju stasiun Gambir. 1 kali naik angkot, 1 kali naik busway baru saya tiba di Gambir. Disana saya memesan kereta pukul 17.50, sambil menunggu kereta datang saya membaca sebuah buku yang beberapa hari lalu saya beli, “Asia Hemisfer Baru Dunia”, begitu judul Indonesianya, karena pengarangnya adalah orang Singapura dan buku ini sudah di terbitkan di 12 bahasa.(wow).

 

Waktu semakin mendekati pukul 17.50, tetapi kereta argo parahyangan yang akan saya naiki belum juga datang, menunggu, menunggu dan terus menunggu kereta itu baru datang pukul 18.20. Padahal sejak terakhir menggunakan jasa kereta api ini, saya sudah menaruh respect, karena selalu on time, bahkan tidak jarang saya yang harus berlari-lari agar tidak tertinggal kereta. Ah, kenapa ngaret lagi..


Negara kita memang masih sangat kental, dengan budaya “ngaret” ini , salah satu penyebabnya adalah karakter era agraris yang masih amat kental melekat. Era agraris adalah era dimana yang kaya adalah yang memiliki perkebunan dan peternakan yang banyak. Untuk berpindah dari satu kelas social ke kelas social yang lebih tinggi praktis sulit, karena di era ini teknologi belum berkembang. Artinya di era ini kita terbiasa malas. Menjalani hidup dengan santai dan dan datar.

 

Jasmerah (jangan Sekali-kali melupakan Sejarah)

 

Itulah salah satu adagium yang terkenal dari Sukarno, dan mari menelisik sejarah, kita memiliki seorang pemimpin dan dikenal sangat disiplin dalam hal waktu.

Lahir sebagai warga minang dengan Karakter keislaman yang kuat, dengan pengalamannya tinggal di Benua Biru Eropa, menghasilkan karakter yang berbeda dari kebanyakan orang di negeri nya, ya dialah Muhammad Hatta, atau yang lebih akrab dipanggil Bung Hatta.
Salah satu kisahnya adalah ketika beliau di buang di Banda Neira, para pekerja kebun pala disana sampai menjadikan Bung Hatta jam hidup. Ketika di banda Neira bung Hatta memiliki kebiasaan berjalan-jalan keliling pulau di sore hari. Seketika ketika Bung Hatta melintasi kebun pala, para pekerja akan menghentikan pekerjaannya, karena mereka tahu Bung Hatta selalun melintasi kebun itu pukul 5 sore.

 

Maka tak salah Emil Salim (Guru Besar UI), pernah mengatakan “Tepat waktu adalah cirri khas kecil Bung Hatta wariskan pada bangsa kita”. Meskipun seperti nya warisan itu belum bisa diterima seluruh anak bangsanya.

 

Dan dengarlah apa yang dikatakan Taufik Ismail dalam sajaknya.

 

Aku Mengenang negarawan jenius itu dengan rasa penuh hormat karena
Rangkaian panjang mutiara, sifat tepat waktu, tunai janji,
Ringkas bicara, lulus jujur, hemat, serta bersahaja,.

 

Memang tidak fair rasanya ketika kita hanya mengutuk kegelapan, menyalahkan pihak-pihak tertentu, akan lebih baik jika kita menyalakan lilin, memulai menghilangkan budaya ngaret itu dari diri kita, lalu perubahan itu akan dengan sendirinya merangsek kedalam lingkungan yang lebih besar dan terus lebih besar.

 

Karena sejatinya pola perubahan itu adalah di mulai dari diri sendiri, berlajut ke keluarga, menular ke lingkungan sekitar, menyebar ke ranah Negara dan dengan sendirinya akan mengubah dunia ini.

 

-Actions speak louder than words-

 

*tulisan ini insyaAllah jadi pengingat bagi saya pribadi, AYO HARGAI WAKTU !!🙂

5 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s