Indonesia Mengajar (Review Buku)

Buku ini langsung menarik hati saya ketika pertama kali melihatnya di etalase salah satu Gramedia Kota Bandung, malam itu niat saya hanya sekedar jalan-jalan, refreshing, baca-baca buku, setelah hari-hari sebelumnya penuh dengan kegiatan, penat dan jenuh.

 

Niat Tachiyomi itu ternyata berubah ketika saya melihat beberapa buku menarik, Habis Gelap terbitlah terang (buku tentang Dahlan Iskan), Indonesia Mengajar, Asia Hemisfer Baru Dunia dan beberapa buku lagi. Tachiyomi ini berubah menjadi belanja buku, entah, kapan terakhir saya begitu banyak membeli buku seperti hari ini, dan entah mengapa ketika bisa membeli buku, hati saya senang, membuncah, ada rasa gembira ketika bisa membawa keluar tentengan buku dari sebuah toko buku.

Tulisan ini akan sedikit berbagi gambaran mengenai salah satu buku itu, yaitu Indonesia Mengajar, buku dengan warna utama hijau dengan cover salah satu pengajar muda dengan anak didiknya.

***

 

Pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam kemajuan suatu bangsa, Human Development Index atau yang kadang dikenal juga sebagai Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang notabene salah satu indikator dalam menilai tingkat kemajuan suatu Negara merupakan pengejawantahan  dari tingkat pendidikan manusia, karena 2 dari 4 faktor dalam IPM ini adalah melek huruf dan pendidikan itu sendiri.
Berawal dari latar belakang dari hal itu, Mei 2010 Anies Baswedan menggagas konsep sebuah gerakan bernama Indonesia mengajar. Semangatnya adalah melunasi janji kemerdekaan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Dengan 2 poin output yang diharapkan : menginspirasi anak-anak pelosok serta menumbuhkan calon-calon pemimpin Indonesia dengan karakter world class competence and grass root understanding.

 

Selama setahun ini deretan kisah para Pengajar Muda ini seakan tak berujung. Setiap hari ada yang baru. Setiap persaudaraan adalah kebaruan penuh nuansa ikhlas. Ada terlalu banyak kisah mereka, kisah yang akan selalu menempel dalam kenangan para Pengajar Muda. Di buku ini sebagian dari kisah, pengalaman, dan pengamatan Pengajar Muda dituliskan. (Anies Baswedan, dalam Pengantar buku IM)

 

Sesuai apa yang di sampaikan Anies dalam kata pengantarnya, buku ini menceritakan kisah, inspirasi, cerita, harapan dan ide para Pengajar Muda dalam tugasnya di pelosok. Buku dengan tebal 322 halaman ini dibagi menjadi 4 bagian Utama, bagian pertama yang berjudul Anak-anak didik pengajar Muda, bercerita tentang anak-anak didik para Pengajar Muda, ada yang bercerita tentang kecerdasan anak didiknya, ada yang jatuh cinta hingga ada yang malah di cintai anak didiknya..:). Dimulai dengan tulisan Erwin Puspaningtyas yang berjudul Rizki, My Genius Student

 

Bagian kedua berjudul Memupuk Optimisme. Sesuai judulnya, bagian ini bercerita tentang harapan para Pengajar Muda untuk pendidikan bangsa ini yang lebih baik. Salah satu tulisan dalam bagian kedua ini adalah kisah Bayu Adi Persada, seorang Pengajar Muda yang ditempatkan di daerah Halmahera Selatan. “Makna Pendidikan untuk kebanyakan masyarakat disini hanya sebatas membaca dan menulis”, tutur Bayu.

Diakhir tulisannya yang berjudul Free Education, Bayu menuliskan

I think the conclusion is, somehow, clear as the sky above Bibinoi right now. Every Stakeholder, parents, society, or whoever concerns about education (maybe it’s you too, dear readers) needs to encourage quality education in every close environment.
I see that the bright future’s ahead of us. How beautiful our country is when someday, our children could access education, not just free, but always surrounded with qualities.

 

Lain Bayu, lain lagi Bagus, Pengajar Muda daerah Bengkalis ini memberi judul tulisannya Keberanian untuk mencoba. Berkisah tentang ketakutan anak-anak didiknya dalam melakukan kesalahan. Berikut quotes menarik dari tulisan Bagus.

“Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya berhasil menemukan 999 cara yang salah” (Thomas Alva Edison)

It begins with one small step to make giant leap

 

Belajar rendah hati, itulah judul bagian ketiga, semangat yang di bawa adalah agar para pengajar muda memiliki profil sesuai program ini, yaitu World Class Competence and Grass Root understanding.

 

Ketulusan itu menular, Bagian keempat ini banyak bercerita tentang hubungan Pengajar Muda dengan anak didiknya, ada yang merasa sangat senang bahkan hingga menulis it feels like heaven, ketika sebagian besar muridnya memilihnya sebagai guru favorit hingga ada seorang pengajar muda yang justru terinspirasi oleh ketulusan seorang guru di sekolahnya yang rela meninggalkan hiruk pikuk kota besar demi membantu anak-anak di daerah Paser. Ketulusan itu Menular.

 

Diakhir buku ini, di cantumkan profil singkat para pengajar muda, mereka pemuda-pemuda terbaik Indonesia yang rela meninggalkan kampung halaman, hiruk-pinguk sekaligus ingar-bingar metropolitan, begitu kata M. Arsjad Rasjid

 

*Tachiyomi adalah istilah dalam masyarakat Jepang, seseorang datang ke toko buku sekedar berlama-lama  membaca buku di toko tersebut tanpa membeli buku.

 

———-Mulai dari ngajar anak ngaji dikosan ya den———–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s