Demokrasi Indonesia, Dulu, Kini dan Nanti

2 Tahun lagi Indonesia akan kembali melangsungkan pesta demokrasi ke 3 nya dalam alam reformasi, banyak pengamat berharap di pesta 5 tahunan kali ini, akan terjadi perubahan besar, karena nyatanya momentum reformasi 14 tahun silam adalah sebuah manifestasi kegerahan akan rezim yang didasari semangat pembaharuan, namun hingga menginjak usia 12 tahun, reformasi masih saja berkutat pada masalah-masalah klasik rezim orba yang hanya berubah bentuk.

 

Berkaca pada sejarah, umur Negara kita dalam konstelasi global memang belum terlalu matang, namun dalam urusan demokrasi, kita dapat dikatakan sudah cukup banyak memakan asam garam. Mari sedikit menelisik perjalan panjang sejarah demokrasi kita.

 

1. periode 1945-1959 (Masa Demokrasi Parlementer)

Pasca proklamasi kemerdekaan, kita memulai demokrasi dengan sistem Demokrasi parlementer pada fase demokrasi ini, peran parlementer serta partai-partai sangat menonjol. Di satu sisi partai-partai ini memang berfungsi sebagai wadah dalam pencerdasan dan aspirasi politik, namun disisi lain, munculnya partai-partai dengan kepentingan dan ideologi yang berbeda secara tidak langsung menciptakan sekat-sekat antar sesama anak bangsa. Akibatnya, persatuan yang digalang selama perjuangan melawan musuh bersama menjadi kendor dan tidak dapat dibina menjadi kekuatan konstruktif sesudah kemerdekaan.

 

2.periode 1959-1965 (Masa Demokrasi Terpimpin)

kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut pasti korup. Adagium itu adalah gambaran dari demokrasi paca demokrasi parlementer, pada fase ini, Soekarno mendeklarasikan dirinya sebagai presiden seumur hidup, dan saat itu pula Dwi tunggal runtuh, karena Bung Hatta memilih mundur dari jabatan wakil presiden karena menilai konsep yang dibawa Soekarno sudah jauh menyimpang dari cita-cita rakyat. Salah satu kelemahan dari sistem demokrasi terpemimpin ini adalah tidak adanya proses check and balance. Karena peran presiden sangat dominan sementara partai politik praktis menjadi kurang berfungsi..

 

3.periode  1966-1998 (Masa Demokrasi Pancasila Era Orde Baru)

Demokrasi pancasila merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan system presidensial. Landasan formal periode ini adalah pancasila, UUD 1945 dan Tap MPRS/MPR dalam rangka untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap UUD 1945 yang terjadi di masa Demokrasi Terpimpin, dalam perkembangannya, peran presiden semakin dominant terhadap lembaga-lembaga Negara yang lain. Melihat praktek demokrasi pada masa ini, nama pancasila hanya digunakan sebagai legitimasi politik penguasa saat itu sebab kenyataannya yang dilaksanakan tidaka sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

4. periode 1999- sekarang (Masa Demokrasi Pancasila Era Reformasi)

32 tahun dalam kungkungan rezim, akhirnya pada 21 Mei 1998, rakyat Indonesia dengan dipimpin oleh mahasiswa, melakukan sebuah gebrakan perubahan, memaksa Soeharto dan kroni-kroni nya turun dari tampuk kekuasaan. Setelah rezim berhasil diruntuhkan, peranan partai politik kembali menonjol sehingga demokrasi dapat berkembang. Pada fase-fase awal periode ini, posisi pemerintah masih belum stabil, sehingga beberapa kali terjadi pergantian pemerintahan dalam waktu yang singkat. Era ini ditandai dengan kembali di impelemntasi kannya UUD pasal 28, yaitu kebebasan berpendapat, pers kembali tumbuh subur.

 

Demokrasi masa kini Indonesia

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berbagai isu-isu korupsi yang menghinggapi para petinggi partai, hingga terkadang terpikirkan apakah sistem demokrasi saat ini adalah yang terbaik ?

Saat ini dapat dikatakan kita sedang memasuki tahap transisi reformasi, artinya kita masih mencoba-coba dan memilah-milah segala kondisi yang terbaik bagi keberjalan bangsa ini.

Perkebangan yang ada setelah fase awal-awal demokrasi sudah menunjukkan perbaikkan-perbaikkan, sistem check and balance pada fase ini sudah cukup baik, karena fungsi lembaga hukum yang sudah semakin meningkat. Fase ini juga ditandai dengan tumbuh suburnya Lembaga Swadaya Masyarakat. Ujung tombak pengelola pemerintahan masih saja di dominasi oleh tokoh-tokoh lama.

 

 Demokrasi Masa depan Indonesia (pemilu 2014)

Salah satu diri khas demokrasi adalah adanya Pemilihan Umum, karena pada momentum ini terjadi proses pergantian kekuasaan, dan pada proses pemilihan umum inilah biasanya perubahan-perubahan itu terjadi. Paska reformasi, Indonesia telah beberapa kali melakukan proses pemilihan umum, 2004 dapat dikatakan sebagai sebuah garis start dalam kita mengimplementasikan proses demokrasi yang sesungguhnya, Karena pada periode inilah rakyat dalam memilih presiden dan wakil presidennya secara langsung, dengan Presiden Susilo Bambang Yudhono dengan kendaran politik nya (Demokrat) yang masih tergolong baru, dapat mengalahkan sosok Megawati yang masih saja mengandalkan ketokohan Soekrano.

5 tahun kemudian kita kembali melangsungkan pesta demokrasi ini, dengan segala perbaikkan dan penyempurnaan –meskipun belum semua masalah terselesaikan- pesta demokrasi ini memunculkan wajah-wajah lama dengan kendaraan politik baru, Wiranto dengan Hanura, Prabowo dengan Gerinda. Sebagai partai baru kedua partai ini dapat dikatakan cukup sukses mengikuti proses pemilu ini, karena jumlah suara yang cukup signifikan. Namun, nyatanya posisi Demokrat sebagai partai penguasa masih belum tergantikan, SBY kembali terpilih sebagai presiden untuk kali kedua.

3 tahun sudah pemilu 2009 lewat, menginjak tahun 2012 ini, artinya pemilu 2014 tinggal 2 tahun lagi. Banyak kalangan menaruh harapan besar pada pemilu 2014 nanti, selain karena SBY tidak dapat mencalonkan dirinya lagi, mereka menilai 2 pemilu sebelumnya merupakan masa transisi dalam keberjalanan bangsa kita, karena pemegang kekuasaan yang ada adalah residu zaman Orde Baru. Harapannya tahun 2014 nanti waktu untuk tokoh-tokoh muda unjuk gigi, rakyat membutuhkan sebuah pemikir baru dengan ide-ide segarnya. Belum lagi berkaca pada beberapa prestasi Indonesia tahun-tahun terkahir. World Bank (Bank Dunia) dalam laporan tahunan 2011 nya mengatakan Indonesia, Brasil, India, China dan beberapa Negara lainnya akan menjadi penopang ekonomi dunia pada tahun 2045. Tahun 2011 lalu pun kita kembali mendaptkan sebuah predikat Negara tempat investasi. Selain itu, ditengah badai krisis di tahun 2008 kita masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi kita di atas 5% dengan GDP sebesar USD3000.

Jika ditahun 2011 lalu survey IndoBarometer menunjukkan masyarakat menyatakan kondisi di saat Orde baru lebih baik daripada kondisi saat ini, maka saya berani mengatakan mereka semua salah, meraka hanya berpikir dalam satu persfektif saja, sudah banyak sekali perubahan dan kemajuan yang telah kita toreh semenjak menginjakkan kaki di alam reformasi, meskipun sama-sama kita sadari segalanya belum sempurna, dana masih membutuhkan perbaikkan di segala sisi secara parallel. Dan sudah seharusnya menyongsong pemilu 2014 nanti, kita harus terus menanamkan optimism akan perubahan Indonesia. Kita pun sama-sama berharap, 2014 adalah waktunya tokoh-tokoh muda maju, sudah saatnya Indonesia dipimpin oleh tokoh-tokoh dengan ide-ide segar. Biarkan tokoh-tokoh lama menepi dan cukup focus pada tugasnya sebagai Negarawan.

Indonesia, BISA !!

One thought on “Demokrasi Indonesia, Dulu, Kini dan Nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s