Guangzhou-Indonesia Serupa tapi tak (belum) sama

Beberapa saat lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu kota terbesar di China, Guangzhou, kunjungan ke ibukota propinsi Guangdhou ini adalah kunjungan ke-3 terhadap kota-kota di China, setelah sebelumnya Beijing dan Changsa.

Dibandingkan dengan Beijing dan Changsa, kondisi cuaca Guangzhou relatif mirip dengan Indonesia. Ketika saya berkunjung, Negeri Tirai Bambu ini sedang dalam musim semi, dengan temperatur di Kota Beijing antara 2-13 derajat Celcius, Changsa 4-14 derajat Celcius dan Guangzhou 15-25 derajat Celcius.

Alur Kunjungan Beijing-Changsa-Guanngzhou secara tidak langsung memberikan sebuah pelajaran berharga tentang kondisi geografis Indonesia. Beijing dan Changsa dengan suhu yang ‘ekstrem’, jelas bukan hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia seperti saya yang biasa menikmati iklim tropis.

Layaknya sebuah Ibukota, Beijng adalah tempat dimana Anda akan melihat gedung-gedung menjulang tinggi, jalan-jalan minim tumbuhan (maklum, cuaca tidak mendukung), mobil dimana-mana, kumpulan manusia yang siap memenuhi jalan-jalan di pagi dan jam pulang kerja. begitulah kondisi Beijing sebagai pusat pemerintahan. Dan ketika saya melihat kondisi Beijing dengan cuaca ‘ekstrem’ nya itu, ada hal yang terpikir.

Kita (Indonesia) beruntung, dengan iklim tropis, tumbuhan dengan mudah tumbuh di berbagai sudut negeri ini, tanpa menanam pun, tumbuhan dengan mudah tumbuh subur dan berkembang. maka benarlah kta-kata koes Plus dalam lirik lagu Kolam Susu nya. Tanah Kita Tanah Surga Bung !!

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jalan cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupmu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Changsa adalah kota yang dari segi cuaca tidak jauh berbeda dengan Beijing, namun dari segi mobilitas penduduk, Chagsa relatif lebih sepi, namun di kota ini pemerintah China sedang menginiasai pembangunan beberapa pusat industri. Wow. Bahkan di kota ini saya mengunjungi salah satu perusahaan industri Hidropower yang baru berkembang.

Menaikki kereta Shinkasen dari Changsa menuju Guangzhou, sesampainya di Kota Guangzhou, yang saya lihat adalah sebuah kota dengan kondisi alam yang mirip dengan Indonesia, tumbuhan dimana-mana, matahari terik menerangi, udah hangat ala Negara tropis dll. Di awal Guide kami menjelaskan sebutan lain untuk Guangzhou adalah kota Bunga, karena Bunga tumbuh dan bermekaran subur di Kota ini, untuk kita masyarakat Indonesia, tumbuhnya bunga adalah hal yang biasa, apa istimewanya?! Disetiap sudut jalan dengan mudah kita melihat bunga tumbuh, tapi bagi mereka itu adalah hal luar niasa, karena tidak semua kota di negeri ini memiliki iklim sebagus Guangzhou, sehingga bunga bisa dengan mudah bermekaran, maka itulah mereka sangat bersyukur akan hal itu, sehingga menamai Guangzhou sebagai kota Bunga.

Selain itu, Guangzhou adalah sebuah kota yang dapat mengkombinasikan keuntungan iklim dan keuntungan geografisnya. Karena iklm subtropis dan letaknya yang strategis, pemerintah China telah menetapkan Guangzhou sebagai salah satu daerah pusat perekonomian modern sejak tahun 1992. Guangzhou yang berada di bagian selatan China dan yang merupakan bagian dari provinsi Guangdong ini berperan sebagai pintu gerbang perekonomian bagian tenggara negara China, yang menghubungkan China dengan Jepang, Makao, Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia dengan tidak lebih dari 6 jam waktu tempuh udara.

Dalam sebuah kesempatan Farewell Banquet, perwakilan Guangzhou dalam sambutannya mengatakan, jika menjadi sebuah Negara, Guangzhou adala Negara ekonomi terbesar ke-18 di dunia. Ia juga menyebutkan bahwa Guangzhou adalah kota dengan ekonomi terbaik di China, pertumbuhan ekonomi 12%.

Sejujurnya, mengunjungi Guangzhou membuat saya bergumam, Guangzhou dan Indonesia memiliki banyak sekali kesamaan, terutama dalam hal cuaca dan geografis, subtropics dan strategis, tapi mengapa kita belum bisa seperti Guangzhou, apa perlu kita mengganti sistem kita menjadi komunis ? tidak kan ?!

Kita serupa, tapi kita (belum) tidak sama.

“……..Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikkan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari  Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali” (QS. Huud : 88)

Referensi :

http://www.bappenas.go.id/blog/?p=93

4 thoughts on “Guangzhou-Indonesia Serupa tapi tak (belum) sama

  1. bukan hanya krn melihat dari geografis dan iklim sudah bisa bilang mirip, namun sistem bermasyarakat dan budaya juga berpengaruh

  2. siip, sepakat, cuma maksud saya dengan kondisi iklim yang seperti ini, harusnya memberikan kita ruang lebih untuk berkembang, layaknya Guangzhou.

    oiy, berarti kalo menurut kamu, ada yang salah dengan sistem bermasyarakat dan budaya indonesia atau gimana ?🙂

  3. ada yang salah dengan “din” demokrasi nya ^^
    keragaman budaya merupakan sebuah fitrah untuk Indonesia. bagaimana membuat fitrah itu berjalan dengan semestinya adalah tugas kita🙂
    justru merupakan hal yang aneh jika kita menyalahkan keragaman budaya dan mengingikan ke-universal-an budaya. karena hal itu tidak mungkin🙂 sekali lagi, keragaman merupakan fitrah.
    semangat untuk Indonesia ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s