Refleksi Buku Meraba Indonesia #CatatanMahasiswa

Dan Mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat
(Soe Hok Gie)

Sore ini Allah mentakdirkan saya untuk kembali mengenal Indonesia, bahasa kerennya wawasan kebangsaan. Berawal dari rasa bosan, saya memutuskan untuk kembali ke tempat itu, Rumah Buku, Salah satu tempat yang sering sekali saya kunjungi jika saya sedang bosan, suntuk, galau, dan kawan-kawannya. Entah sekedar membaca untuk mencari inspirasi dan semangat, atau malah justru membelinya.

 
Dan akhirnya setelah keliling-keliling toko itu, saya menemukan beberapa buku yang menarik, Bagaimana Proses menjadi Pemimpin Politik karya Bang Alfan Alfian, Meraba Indonesia, Buku Paket Kompas tentang Perang Eropa, Notes From Qatar, dan Buku Paket Kompas tentang Jerussalem. Akhirnya dengan berbagai analasis instan dan mempertimbangkan kondisi dompet (hehe) saya hanya membeli Meraba Indonesia dan Bagaimana Proses Menjadi Pemimpin Politik Buah Karya Bang Alfan Alfian (khusus untuk yang ini, sebenarnya termasuk dalam salah satu buku yang sudah lama ingin saya beli).

 

Don’t judge the book from the cover, adagium itu rasanya tidak cocok untuk menggambarkan mengapa saya tertarik membeli buku Meraba Indonesia, cover buku ini jelas sangat mentereng dan menarik. Dan Pandangan pertama memang begitu menggoda , akhirnya saya mencoba mengenal lebih dalam buku ini, dan ahaa, 1 hal lagi yang menambah alasan mengapa saya tertarik membeli buku itu, tokoh yang memberikan testimoni dan kata-kata yang beliau berikan di belakang buku ini. Taukah Anda siapa dia? Anies Baswedan, pasti bukan nama asing bagi Anda. Anies membelikan statement singkat tapi cukup menarik bagi saya, “Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangannya ketika menjelajah garis depan republik ini.


Membaca resensi singkat di cover belakang buku ini, kita akan dapatkan penjelasan bahkan buku ini adalah Catatan 2 orang wartawan kawakan yang mengelilingi Indonesia selama 1 tahun dengan menggunakan sepeda motor, mereka menamakan perjalanan mereka, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Yang menarik dari buku ini adalah didalamnya disertakan CD dokumentasi Ekspedisis Zamrud Khatulistiwa ini.
Sesampainya di kosan saya langsung membuka buku ini dan mutar CD dokumentasi nya. Hasilnya, terharu, sedih, gelisah, semangat dan jleb (menohok). Kata-kata Soe Hok Gie diakhir video ini menjelaskan banyak hal. “Dan Mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.

 

Rasanya malu sekali, banyak dari kita yang sering kali berbicara Indonesia, Indonesia dan Indonesia, seolah tahu bagaimana kondisis seluruh Indonesia, jangan-jangan yang kita gunakan hanyalah asumsi, dengan menyamaratakan kondisi kita (di kota) dengan mereka di pelosok-pelosok sana. Atau itu sekedar penggunaan totem pro parte ?

Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi pelosok-pelosok Indonesia.

 

Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Kita
Tanah Air Pasti Jaya Untuk Selama-lamanya

 

*oiy, mau tau lebih jauh tentang ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, kunjungi web nya di http://zamrud-khatulistiwa.or.id/ atau beli buku nya aja.🙂

-27 Mei 2012-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s