(Masih) Meraba Indonesia

Cahaya matahari kian pudar, langit mulai tampak pekat, matahari perlahan kembali ke peraduan.

 

Allahuakbar…Allahuakbar..
AllahuAkbar..Allahuakbar..

 

Tiba-tiba adzan maghrib bersahut-sahutan. Segera mengambil air wudhu dan bergegas turun  ke mushola depan kosan saya. Mushola itu tampak tua, cat tembok mulai pudar, atap ternit berkabang-kanbang, bahkan di satu sisi berwarna hitam, tanda air terpendam.

 

Selesai shalat maghrib, membaca tilawah. Saya kembali asyik melanjutkan membaca buku ini, Meraba Indonesia. Bercover merah berpadu warna langit sore membuat nya sangat menarik. Buku ini yang menjadi teman saya 2 hari ini. Sejak pertama kali membacanya, jujur, saya jatuh cinta. Bahasa, kata, dan penampilan buku ini sungguh sangat memikat. Pantas Andy F. Noya mengatakan “Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan”.

 

Saat ini saya tidak sedang ingin merensi buku ini, toh, memang saya belum mengkhatamkannya.

Kolonialisme ala Pala dan Mutiara Hitam dari Timur. Entah angin apa yang membawa saya membuka halaman itu, bagian akhir dari buku ini. Seperti saya jelaskan di posting-an sebelumnya, buku ini merupakan catatan perjalanan 2 orang wartawan mengelilingi Indonesia. Catatan ini diruntut berdasarkan rute perjalanan, Jawa, Sumatera, Selat malaka, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Ende Flores dan Kembali ke Jawa.

 

Selembar demi selembar membaca buku ini, saya semakin tahu, saya sedikit sekali bersyukur. Potret masyarakat pedalaman yang jauh dari geliat perkotaan menjadi menu sebagian besar buku ini. Ahmad Yunus menuliskan realita masyarakat pesisir Indonesia dengan sangat jelas, susah akses air bersih, penerangan ala kadarnya, akses pendidikan dan kesehatan susah, perompak berplat merah, harga sembago melangit dan segudang masalah lainnya.

 

Soekarno menyusun Pancasila jelas bukan untuk menambah bahan ujian Kewarganegaraan murid SD,  1 Juni kita memperingatinya, tapi kita lupa bagaimana realisasinya, potret buram negeri ini masih menjadi keseharian, meminjam kata-kata Ahmad Yunus, pemerintahan kita masih seperti Hindia Belanda, birokratis dan sentralistik. Agenda Politik kita berstandar Pulau Jawa, lalu kita pukul rata, seolah Jawa menggambarkan Indonesia. Kebijakan-kebijakan dibuat bersifat daratsentris, padahal laut kita membentang lebih luas dari daratan. Dampaknya kekayaan potensi kepulauan kita belum bisa dimaksimalkan, yang identik dengan kehidupan masyarakat pesisir adalah potret kemiskinan dan serba kesusahan.

 

Pada bagian Kolonialisme ala Pala dan Mutiara Hitam dari Timur. Ahmad Yunus menceritakan dinamika perjalanannya di daerah timur Indonesia, Maluku dan Papua. “Timika menjadi jantung dan magnet Papua. Banyak penumpang turun disini. Mereka mencari rezeki dari tetesan pertambangan emas Tembagapura, Freeport McMoran Copper & Gold. Inc”. Tulis Yunus.

 

Lalu Ia pun menambahkan “Freeport pun menjelma menjadi salah satu perusahaan tambang terbesar Amerika Serikat. Namun keberlimpahan alam ini tak berbanding lurus dengan kemakmuran masyarakatnya”.

 

Deg, jelas potongan kalimat-kalimat itu menghujam saya yang berlabel mahasiswa Teknik Pertambangan. Catatan itu seolah menambah daftar panjang buruk nya citra perusahaan tambang di Negeri ini. Perusakan ekosistem, Rehabilitasi lahan yang tidak berjalan, ketimbangan dengan kondisi masyarakat sekitar, hingga konflik yang berlarut-larut.

 

Masih hangat ingatan UU No. 4 tahun 2009 yang beberapa hari lalu saya baca :

Bab II Asas dan Tujuan
Pasal 2

Pertambangan Mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan :

a. manfaat, keadilan dan keseimbangan;
b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
c. partisipatif, transparansi dan akuntabilitas;
d. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Jika mau diperdalam lagi, akan kita temukan betapa klise dan utopis nya UU ini, sama halnya dengan janji SBY untuk pembangunan bandara di Miangas 2005 silam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s