Bung Hatta Sang Peramal Masa Depan

Bung Hatta Siapa yang tidak kenal sosok satu ini? pasti Anda semua mengenalnya kan ? Salah satu proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Pria Kelahiran 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi Sumatera Barat ini sejak kecil bukan lah anak yang terlalu istimewa, kegiatannya tak ubahnya anak seumurannya di Daerah Sumatera Barat, pagi hingga siang hari sekolah, sore hari bermain bola dan malam hari mengaji di langgar. Meskipun ketika masa kecilnya orang-orang tua di bukit tinggi menyebutnya anak cie pamaenan mato yang artinya anak yang pada dirinya terpendam kebaikkan dan perangainya mengundang rasa sayang.
Kegelisahan selalu menjadi pemicu munculnya jiwa-jiwa kepahlawanan, kata-kata itu mungkin yang dapat menggambarkan bagaimana semangat memperbaikki bangsa terbentuk dalam diri Bung Hatta. Dalam buku berjudul Hatta, Jejak Yang Melampaui Zaman, penerbit Tempo menuliskan. “Persentuhan terhadap ketidakadilan yang di tebarkan oleh kolonial Belanda sudah bermula dari peristiwa-peristiwa dalam keluarganya saat Ia masih kanak-kanak.  Kerabat kakeknya, Rais, ditangkap oleh pemerintah karena mengkritik seorang pejabat Belanda yang melakukan perbuatan tidak senonoh dalam surat kabar Utusan Melayu.

Yang lebih menarik dari sosok bung Hatta adalah pemikiran-pemikirannya selain karir kepemimpinannnya yang bisa dikatakan mulus, karena ia terus menjaga Idealismenya. Salah satu kata-kata bung Hatta yang membuat saya takjub adalah tulisannya yang terbit pada 1962, ia mengatakan, “Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya…Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokkan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakkan daerah” Meskipun menggunakan gaya bahasa zaman itu, tapi rasanya bukan hal sulit untuk mencerna makna kata-kata itu. Padahal pemikiran Bung Hatta dituliskan pada 1962, 4 dekade silam, tapi pada kenyataannya, tulisan itu menggambarkan kondisi saat ini. Mari coba kita coba telaah kalimat demi kalimat.

“Pembangunan tak berjalan sebagimana mestinya”  Lihat saja berapa banyak program pembangunan yang tidak berjalan atau berjalan lambat, sudah begitu banyak risalah-risalah pembangunan yang di buat, namun implementasi lapangan jauh dari kata ideal. Sejauh mana implementasi MP3EI? Sejauh mana program pembangunan daerah-daerah tertinggal berjalan sukses? Belum lagi ketika kita berbicara pembangunan dalam konteks pembangunan sosial (manusia).
“Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa” sudah 14 tahun reformasi bergulir, tapi seolah kondisi masih tetap seperti ini, kita tertatih, satu versi mengatakan kita sudah memasuki masa demokrasi, versi lain mengatakan kita sedang transisi menuju demokrasi. Bahkan beberapa waktu lalu, Indo Barometer merilis hasil survei yang mengejutkan, mayoritas responden menyatakan bahwa era orde baru lebih baik dibandingkan era reformasi pasca 1998. Bagi-bagi kue kekuasaan seolah masih menjadi yang lebih disajikan daripada memikirkan nasib anak bangsa yang terlantar.

“Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakkan daerah” Kondisi mogoknya karyawan Freeport beberapa bulan lalu bisa jadi merupakan gambaran potongan kalimat Hatta itu, otonomi daerah pertama kali dimulai ketika UU no 22/1999 dan UU no 25/1999 sebagai payung hukung pelaksanaannya diterbitkan. Artinya pelaksanaannya sudah berjalan kurang lebih 13 tahun. Namun faktanya, benih-benih separatisme masih saja sering muncul, kita harus introspekasi, otonomi kita memang belum maksimal, Jawa masih menjadi sentral segala ukuran.

Dari potongan pemikiran hatta itu, ada 2 kemungkinan yang dapat kita simpulkan, pertama, kondisi Kita sebagai sebuah Negara-bangsa (nation state) saat ini tidak beranjak dari 4 dekade silam. Kedua, Bung Hatta berhasil meramal masa depan Indonesia dari pemikirannya 40 tahun lalu.
Nyatanya Hatta tidak hanya menyisahkan pemikiran tentang kondisi Indonesia saja, tapi Ia juga menawarkan solusi bagaimana menyelesaikan kondisi demikian, lebih lanjut hatta menulis “ Demokrasi dapat berjalan baik, jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, membuka jalan untuk lawannya: diktator”.

-Pengagum Hatta-

@dennyrezak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s