Refleksi Warga Negara Gagal

Langit Indonesia kembali di hiasi awan kelabu, Fund For Peace, sebuah lembaga survei internasional mengeluarkan sebuah berita yang mengejutkan, ibarat sudah jatuh tertimpah tangga, setelah hampir beberapa pekan bumi pertiwi dihantam berita korupsi yang melanda petinggi partai penguasa, Fund For Peace merilis hasil survei yang menempatkan Indonesia dalam klaster Negara terancam gagal. Hasil Survei Fund For Peace menempatkan Indonesia di posisi 63 dari 177 negara.

 

Berita ini seolah kembali mengingatkan kita dengan hasil survei yang dikeluarkan Indo Barometer satu tahun lalu, survei yang diambil dengan jumlah responden sebanyak 1200 orang dengan tingkat kepercayaan 95% itu menunjukkan presiden Soeharto menjadi sosok Presiden yang paling disukai masyarakat dengan dengan presentase 36,5%, disusul SBY (21,9%) dan Soekarno (9,8%). Setali tiga uang dengan hasil itu, masa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto dianggap lebih berhasil (40,9%) dibanding kondisi saat ini (22,8%). Ironis, hasil survei itu mengartikan masyarakat lebih senang tinggal di era dimana pemerintah bertindak otoriter, kebebasan berpendapat dikekang dan korupsi menjalar dimana-mana. Dibanding dengan era reformasi dimana Kekuasaan pemeritah sangat dikontrol, rakyat bebas berpendapat dan korupsi terang benderang mulai dibasmi.

 
Kedua berita itu jelas merupakan pukulan berat bagi elit pemerintah. Maka tak heran beberapa elit pemerintah langsung merespon dengan berbagai opini. Armida Salsiah Alisjahbana, Kepala Bapennas menilai Indonesia tidak pantas di cap sebagai Negara gagal 2012, karena dari 12 indikator yang diuji, 6 baik, 4 stagnan dan 2 buruk. Di lain pihak, Denny Indraya, Wakil Menteri Hukum dan HAM mengatakan
“Tidak fair menilai Indonesia menuju negara gagal dengan hanya mendasarkan pada peringkat kita yang turun hanya satu di tahun 2012, tanpa melihat bagaimanakah peringkat kita cenderung terus membaik di tahun sebelumnya sejak tahun 2005. Demikian pula, tidak fair menyatakan kita menuju negara gagal, tanpa melihat bahwa skor indeks negara gagal kita justru terus membaik, sehingga di tahun 2012 ada pada skor 80,6 yang merupakan skor terbaik Indonesia sejak indeks negara gagal dirilis di tahun 2005”

 
Jika melihat dari perkembangan ekonomi Indonesia dua tahun terakhir, 2 berita itu memang ibarat guntur di siang bolong, sangat bertolak belakang, bahkan dalam sebuah laporan berjudul Global Development Horizons, bank dunia memprediksi Indonesia, bersama China, Brazil, India, Rusia, dan Korea Utara pada 2025 akan tumbuh menjadi negara kuat baik secara ekonomi politik sebagai pengganti dari dominasi negara-negara maju di utara seperti Eropa dan Amerika Serikat.

 

Terlepas dari itu semua, Survei Fund For Peace dan Indo Barometer harusnya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh stake holder yang ada. Utamanya bagi pemerintah, laporan itu kembali mengingatkan untuk kembali fokus pada agenda pembangunan bangsa dan mengesampingkan kepentingan golongan. Sejatinya masih terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus sama-sama harus kita selesaikan, bahkan data bank dunia menyebutkan, 50 juta masyarakat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan dan 100 juta lainnya berada dalam kondisi hampir miskin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s