Membangun Manusia Jakarta

Tanggal 11 Juli 2012, Jakarta akan kembali melaksanakan pesta demokrasi keduanya, meskipun berstatus hanya Pemilihan Kepala Daerah, namun pelaksanaan Pilkada Jakarta kali ini sangat mempengaruhi suhu dan kondisi perpolitikan Nasional.

 

Status sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan menyebabkan Pilkada Jakarta menjadi barometer perpolitikkan tanah air. Berbeda dengan 5 tahun lalu, dimana hanya terdapat 2 pasangan calon, tahun ini terdapat 6 pasangan calon yang akan bertarung ide dan gagasan untuk melanggengkan jalannya menjadi Jakarta 1. Selain bertambahnya jumlah kontestan, Pilkada kali ini juga menawarkan hal baru berupa majunya2 pasangan calon jalur independen.

 
Terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah bagaimana program-program dan visi yang diajukan tiap calon menunjukkan kualitas dan itikad baik untuk memperbaiki Jakarta 5 tahun kedepan. Namun, sayangnya jika kita telusuri satu persatu, sama sekali tidak ada calon gubernur (cagub) yang memiliki program pembangunan hulu, semua hanya fokus pada bagaimana memperbaiki hilir.

 

Yang saya maksud disini adalah tidak ada sama sekali calon yang mengusung program pembangunan Sumber Daya Manusia yang merupakan pokok (muara) masalah yang ada pada tubuh Jakarta, semua calon lebih bangga memiliki program membangun infrastruktur kota yang sejatinya bukan merupakan pokok masalah. Sebagai contoh, penyebab banjir Jakarta adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat dalam mengelola lingkungan, terutama kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai, bukan karena kurang lebarnya sungai yang ada.

 

Todaro (Seorang pakar ekonomi ) pernah mengatakan, sebagian besar pakar pembangunan sepakat, sumber daya manusia dari suatu bangsa-bukan modal fisik atau sumber daya material-merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan. Pernyataan Todaro itu jelas mentafsirkan bahwa untuk mencapai pembangunan sosial dan ekonomi yang optimal yang paling utama adalah melakukan pembangunan SDM.

 
Hal ini semakin dipertegas oleh pernyataan Kishore Mahbubani, Dekan National University of Singapore (NUS) sekaligus pengarang buku Asia Hemisfer Baru Dunia, beliau menjelaskan bahwa 2 kunci kokohnya peradaban barat adalah education dan science and technology. Dimana objek keduanya adalah manusia. Kemajuan barat bukan ditopang karena megah dan mewahnya infrastruktur kota yang mereka miliki, namun karena pendidikan manusianya sangat baik.

Ditengah segala tantangan yang semakin kompleks dalam memimpin Jakarta, intervensi politik yang diprediksi akan semakin menguat menjelang pemilihan presiden 2 tahun mendatang dan pendeknya waktu memimpin.
Para calon harus mencoba mengevaluasi kembali program-program yang mereka canangkan, benarkah solusi yang mereka tawarkan adalah pokok permasalahan Jakarta saat ini atau malah sebaliknya.

 

Tulisan ini dimuat di opini detik.com klik disini.

2 thoughts on “Membangun Manusia Jakarta

  1. telat sih emang mengomentari tulisan lo ini. tapi gue nggak setuju kalo lo blg nggak ada 1 pun kandidat yg mencoba mnyuguhkan perbaikan dr sisi SDM. coba evaluasi pasangan Faisal-Biem. Mereka menentang pembangunan 6 fly-over seperti yg dijanjikan pasangan lain (gue lupa siapa). dalam setiap kampanyanya, mereka selalu menekankan pada ‘masyarakat jakarta yg lebh baik’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s