Dilema PKS

Beberapa waktu lalu, salah satu buku yang ramai diperbincangkan dalam ranah sosial-politik adalah buku karangan Burhanudin Muhtadi, Direktur Komunikasi Lembaga Survei Indonesia yang berjudul Dilema PKS, buku ini menerangkan kondisi PKS saat ini yang dianggap sedang mengalami dilema apakah tetap mempertahankan konsep sebagai partai ideologis atau lebih menjadi partai electoralis.

 

Judul buku karangan Burhanuddin tersebut rasanya sangat cocok dengan kondisi PKS saat ini dalam Pilkada Jakarta. KPU DKI Jakarta telah mengumumkan hasil Pilkada Jakarta, PKS yang mengusung Hidayat-Didik harus puas diposisi ketiga dibawah Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Maka berdasarkan UU No.29/2007 pasangan Hidayat-Didik tidak dapat melanjutkan ke putaran kedua Pilkada Jakarta, karena berada diposisi ketiga.

 

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, kemanakah suara PKS akan diarahkan?
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari petinggi maupun kader PKS kemana suara PKS akan diarahkan, namun melihat dinamika selama proses hingga pelaksanaan PIlkada DKI Jakarta ini, kita dapat menarik 2 kemungkinan opsi. Yang pertama adalah PKS akan mengarahkan suaranya ke pasangan Jokowi-Ahok. Semangat perubahan dan ketidakpuasan dengan kinerja pasanagn inkumben dengan cara mengajukan pasanagn Hidayat-Didik merupakan salah satu alasannya. Selain itu, Internal PKS terkenal dengan dominasi kalangan aktivitis muda yang haus akan perubahan, maka tentu memilih pasangan inkumben yang dinilai kurang maksimal dalam 5 tahun belakang tidak sesuai dengan semangat yang ada. Namun, opsi ini terkendala dengan ideologi yang dianut PKS, selama ini PKS dikenal sebagai partai berlandaskan islam dengan semangat dakwah. Bisa dikatakan PKS sangat tidak mendukung adanya sebuah pemikiran sekuler (memisahkan agama dengan Negara) dan pluralisme. Dan inilah yang menjadi bumerang bagi pasangan Jokowi-Ahok, karena beberapa saat sebelum pencoblosan Pilkada dimulai, santer di perbincangkan media pernyataan Ahok yang memisahkan antara ayat konstitusi dan ayat suci. Pernyataan itu kontan saja menimbulkan kecaman di kalangan kader PKS.

 

Opsi kedua PKS akan melabuhkan suaranya kepada pasangan Foke-Nara, hal ini karena konstituen PKS di Jakarta adalah islam fanatik, mendukung ahok yang bukan seorang muslim dan dampak pernyataan sekuler ahok tentu lebih membuat nyaman kader PKS untuk memilih Foke-Nara, meskipun pada kenyataannya majunya Hidayat-Didik secara tersirat adalah bukti tidak puasnya PKS terhadap performa Foke 5 tahun masa kepemimpinannya.

 

Sampai saat ini, masing-masing calon sudah mulai kembali bergerilya untuk menyongsong putaran ke 2, utamanya bagaimana merayu PKS agar melabuhkan suaranya kepada mereka. Jokowi sendiri paska drilisnyanya hasil quick count, langsung bergerak dengan mengontak lima pesaingnya, dan salah satu yang merespon adalah kubu Hidaya-Didik, setelah itu Jokowi  langsung meluncur menuju markas tim Hidayat-Didik di Jalan Warung Buncit untuk membicarakan masuknya PKS dalam pemenangan Jokowi-Ahok.
Sementara itu, tim Foke juga tidak mau ketinggalan, dipimpin oleh Makmun Amin dan Ipang Wahid yang merupakan anggota tim sukses Foke-Nara, kubu ini mulai melakukan pendekatan kepada kubu PKS.

 

Di internal PKS sendiri, seperti dikutip dari beberapa sumber, Hidayat Nurwahid mengatakan kemana suara PKS akan dialihkan akan dibahas dalam Majelis Syura pada rapat paska pengumuman resmi KPU Jakarta. Sementara itu, Triwisaksana, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta sekaligus kader PKS mengatakan ada 3 opsi yang bisa dijalankan oleh PKS, pertama opsi berkoalisi dengan pasangan nomor 1, opsi berkoalisi dengan pasangan nomer 3, dan yang ketiga opsi netral.
Memilih Jokowi ataupun Foke dengan segala plus minusnya jelas bukan sebuah pilihan yang mudah bagi PKS, hasil syuro yang selama ini dinilai menjadi penyatu suara pun belum tentu dapat menyamakan suara sampai ke kader akar rumput. Belum lagi PKS harus memikirkan dampak pilihan ini pada posisinya di 2014 nanti. Kondisi ini mirip dengan apa yang dituliskan Burhanuddin Muhtadi, Dilema PKS.

2 thoughts on “Dilema PKS

  1. ehm, masalahnya setiap langkah PKS saat ini gak jauh dari hal electolaris dik.
    dan memang karena sebuah partai, hal ini yang dilakukan adalah gimana menggaet konstituen sebanyak-banyaknya.

    meskipun masing2 punya tujuan berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s