Sepakbola dan Martabat Bangsa #CAA

By : Widjajanto

 

Tidak dapat dipungkiri bahawa sepakbola adalah olahraga yang paling digandrungi didunia, hal ini dapat dilihat dengan masifnya jumlah penonton ketika perhelatan akbar olahraga ini digelar, entah itu skala dunia atau kawasan. Pun  begitu di Indonesia, masih lekat dalam benak saya ketika Piala Asean beberapa waktu lalu digelar, hampir semua headline media tertuju pada olahraga yang satu ini, bahkan muncul pesebakbola yang merangkap bintang iklan paska perhelatan digelar karena keahliannya mengolah si kulit bundar.

Namun, ditengah tingginya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Olahraga yang satu ini, prestasi Tim Nasional Indonesia masih belum dapat di banggakan, baik ketika berbicara lingkup ASEAN, ASIA, bahkan DUNIA. Data terakhir FIFA menunjukkan Indonesia hingga kini masih bertengger di posisi ke 153 dunia.

Sebenarnya apa yang menjadi inti masalah sehingga Tim Nasional kita kian hari kian terpuruk? Wijayanto, dalam sesi materi National Leadership Camp PPSDMS Nurul FIkri menyampaikan, setidaknya ada 2 masalah yang menyebabkan Tim Nasional Indonesia belum bisa memberikan prestasi yang membanggakan.

 

1.Regenerasi

 

Sehebat apapun kegemilangan sebuah tim, jika tidak bisa menghasilkan generasi yang lebih baik pada generasi sestelahnya hasilnya akan sama saja. Itulah yang terjadi pada Indonesia. Romantisme sejarah pesebakbolaan Indonesia bukan tidak menunjukkan kegemilangan prestasi, kita pernah Berjaya di Asia, bahkan pernah dijuluki Macan Asia. Namun, karena sistem regenerasi yang tidak berjalan dengan baik –untuk tidak mengatakannya sangat buruk- hasilnya semakin kesini Tim Nasional semakin terpuruk. Saat ini PSSI, selaku organ yang seharusnya berperan dalam hal ini, masih sibuk dalam mengurusi permasalahan internalnya. Padahal secara logika, jika sistem regenerasi berjalan dengan baik, seharusnya tidak sulit mencari bibit unggul pemain sepakbola dari 250 Juta penduduk bangsa ini.

 

2. Kualitas Kompetisi

 

Hingga kini kualitas kompetisi kini tidak jauh berbeda dengan kualitas regenerasi. Permasalahannya sama, PSSI masih berkutat pada masalah internalnya, sehingga urusan kompetisi local terbengkalai. Padahal dana APBD yang digelontorkan untuk agenda ini tidak sedikit, Wijayanto mengatakan tiap tahun dana sebesar 20 Miliar/Tim dikeluarkan dari APBD, dengan total 120 tim, maka tiap tahun dana yang dikeluarkan berjumlah 2400 Miliar atau 2,4 Triliun. Lalu bagaimana hasilnya ?

 

Memang masih sangat banyak PR bagi persepakbolaan Indonesia, Suporter, korupsi yang menjangkiti pengurus klub dan lainnya. Di akhir wijayanto menganjurkan, agar peserta PPSDMS nantinya masuk dalam struktur-struktur pengurus klub, agar kedepannya persepakbolaan Indonesia bisa lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s