Merantaulah Nak!

Sumber : http://tattyelmir.wordpress.com

 

Pada saat kumpul-kumpul keluarga Forum Indonesia Muda (FIM) di rumah kami sembari buka puasa bareng Ramadhan lalu, kami berdiskusi perihal diaspora pemuda Indonesia dengan menghadirkan Iqra Anugerah, mahasiswa cemerlang kita di luar negeri. Iqra yang saat ini baru berusia 21 tahun, telah mengantongi 1 ijazah S1 dan dua ijazah S2.

Gelar sarjana diperolehnya di Hubungan internasional  Ritsumaken Asia Pacific University di Jepang. Kemudian dia melanjutkan master di kampus yang sama untuk studi Asia Pasifik. Setelah itu Iqra terbang ke Ohio Amerika untuk menyelesaikan gelar master kedua di Ohio University untuk bidang ilmu politik.  Dan kini tengah menjangkau program doktor di Northern Illinois University di Chicago untuk bidang ilmu politik. Luar biasa untuk anak muda sebayanya bukan?

Iqra pemuda kita yang hebat itu tentu punya mimpi membangun negeri dengan segudang minat dan bakat, sebagaimana ‘anak berbakat’ lain. Tapi sayangnya  kali ini  saya sedang tidak membahas Iqra, saya justru mau berbagi semangat, perihal poin utama diskusi kami petang itu tentang diaspora pemuda Indonesia. ( Ow…Yang masih penasaran dan ingin berkenalan dengan si ganteng Iqra yang shaleh, multi talenta, sensitif  dan rendah hati itu silakan kunjungi blognya dihttp://iqraanugrah.wordpress.com/ ) hehee

 

Baiklah kembali ke topik, mengapa kami memilih bahasan obrolan ngabuburit  perihal diaspora Indonesia ? Tak lain dan tak bukan tentulah untuk memacu semangat anak muda potensial ini untuk merantau ! Hal yang juga disampaikan suami saya ketika mengisi acara Ramadhan lalu di ITB.

 

Jauh sebelum kongres Dispora Indonesia di Los Angeles tanggal 6-8 Juli lalu, saya dan suami beserta kawan-kawan  sudah lama punya mimpi, bagaimana agar para pemuda yang hebat-hebat ini bisa   “Merantau” jauh, untuk memperoleh pengalaman dan pendidikan yang bermutu di luar negeri. Lalu sebagian kembali pulang membangun negeri, dan sebagian lagi tetap merantau, berserakan di bumi Allah, lalu membangun komunitas yang ‘berdaya’, dan kelak memunculkan kekuatan baru dengan  brand name ‘Indonesia hebat’ di mana-mana, sebagaimana  keberhasilan perantau Jepang dan China di seluruh dunia.

 

Kami percaya, salah satu upaya untuk membangun Bangsa, tentu menyuburkan bibit-bibit unggul yang ada. Ya pemuda hebat itu sendiri. Merekalah yang kelak akan mewakili kaum cerdik pandai, yang akan membangun kekuatan sosial, politik, budaya dan ekonomi di masa depan.

 

Sejarah juga mencatat, ternyata sebagian besar (Jika tidak dapat dikatakan semua) dari para pejuang kemerdekaan dan pahlawan negeri ini, ternyata adalah pemuda-pemuda “Perantau” yang mengasah kepekaan nasionalisme beserta segenap intelektualismenya di negeri orang. Bahkan tak sedikit yang merantau justru ke tanah dan atas sponsor penjajah. Namun hebatnya mereka tidak tunduk dengan kekuasaan penjajah, justru membesarkan gelombang pemberontakan terhadap penjajah.

 

KEUTAMAAN ORANG MERANTAU :

  1. Tangguh.

Orang merantau akan menghadapi banyak tantangan dan kegetiran hidup. Tak ada yang bisa membantu, jika dia tidak berjuang mengokohkan ‘kaki’ mereka sendiri. Karena itu para perantau di seluruh dunia terkenal sebagai kaum yang tangguh, gigih, ulet dan pekerja keras. Semakin ketat persaingan, maka akan semakin kuatlah daya saing. Semakin keras tantangan, maka kian kuatlah daya tahan. Dan di berbagai negara, penggerak roda perekonomian yang sukses didominasi kaum perantau.

 

2. Berilmu.

Dengan meninggalkan ‘sarang’ akan banyak ilmu, keterampilan  dan pengalaman diperoleh. Berbekal ke tiga hal itulah para pemimpin biasa mendapat inspirasi untuk membangun Bangsa dan mempelopori aneka ragam kebajikan.

 

3. Lebih bijak.

Tak ada yang bisa membantah, orang-orang yang banyak berjalan ke luar rumah, akan banyak pula dapat menghirup udara segar. Ini tentu ‘kata-kata bersayap’ untuk menunjukkan bahwa perantau pasti lebih berwawasan luas, sehingga dapat berpikir lebih luwes. Para perantau dipandang lebih bisa memahami perbedaan dan lebih bijak dalam menatap permasalahan. Biasanya jarak jelajah kaki, dan jarak pengetahuan serta jarak pandang mata hati, punya korelasi yang signifikan. Begitu pula dalam menatap permasalahan bangsa, perantau bisa lebih jernih, tidak terkontaminasi oleh berbagai kepentingan transaksional yang mungkin terjadi jika berdekatan dengan objek dan subjek masalah.

 

4. Lebih Terampil.

Dengan melihat beragam gaya hidup  maka secara tak sengaja akan terbentuk ‘kultural transfer’.  Pola pembiasaan yang menjadi peradaban, otomatis akan terakumulasi segala kelebihan masing-masing budaya. Dengan demikian memacu kreativitas perantau mengadopsi segala keunggulan, sehingga mereka lebih cepat menjadi manusia yang berkualitas dan terampil.

 

5. Mandiri.

Biasanya di tanah kelahiran yang digadang-gadang kaya dengan sumber daya alam, segala sesuatu sudah tersedia dengan nyaman. Apalagi jika terpaku pada lagu “Kolam Susu” Koesplus. “Tongkat    dan    batu bisa jadi tanaman”. Jadi buat apa bersusah payah menanam?, toh semua tinggal memetik. Tapi tidak demikian dengan perantau, dengan ketiadaan yang melayani, yang menggaransi, membuat orang terlatih untuk mandiri. Tidak tergantung pada apa dan siapapun. Kemandirian ini, kelak menjadi modal dasar membangun kepercayaan diri dan harga diri.

 

6. Lebih Nasionalis.

Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang hampir selalu menyertakan hati dalam setiap gerak langkahnya, maka watak sentimental perantau adalah “Rindu Kampung Halaman”. Lalu berbekal rasa rindu inilah akan lahir rasa cinta yang lebih dalam, dan penghargaan yang tinggi terhadap ranah kelahiran, akar kehidupan, yaitu tanah air pusaka. Percayalah, peringatan hari kemerdekaan RI akan jauh lebih terasa ‘patriotik melankolik’,  jika kita sedang tidak berada di tanah air. Lagu Indonesia Raya dan Syukur terasa lebih menghujam kalbu jika dinyanyikan di rantau jauh.

 

MERANTAU ? BELAJARLAH DARI SUKU MINANG.

Suku Minang adalah suku terdepan dalam sejarah perantauan Bangsa ini. Tengoklah di seluruh dunia, hampir selalu ada orang Minang. Di Seremban Malaysia, lebih dari separoh penduduknya (50,9%)  adalah orang Minang. Keberadaan orang Minang ini tidak sulit dideteksi. Cari saja restoran Melayu/Indonesia (dengan menu utama masakan Minang). Biasanya pemiliknya (paling tidak pendirinya)  adalah orang Minang. Sebagian besar  mereka dengan ‘pede’ melabel produknya dengan nama yang merepresentasikan  “Restoran Padang”.

 

Bahkan di Melbourne saya menemukan restoran Padang yang ternyata dimiliki orang Vietnam. Selidik punya selidik, ternyata pemilik dan pendiri pertama restoran tersebut adalah orang Minang, lalu menjualnya kepada orang Vietnam. Di Washington, saya pernah diajak seorang kawan untuk menikmati tom yam atau dom yam yang konon terlezat se District  Columbia. Saya mendapat kejutan dengan hadirnya sepiring pisang goreng ‘hadiah’ dari si pemilik restoran. Usut punya usut, ternyata pemiliknya adalah orang Minang yang beristerikan orang Thailand. Di Selandia baru, saya pernah bertemu mahasiswi kedokteran di Canterbury University yang ternyata orang tuanya adalah perantau ‘awak’ di sana.  Di Belanda saya bahkan pernah mengalami pengalaman pahit, bertandang ke sebuah restoran yang bernama salah satu nama serupa restoran terkenal  di tanah air, namun ternyata ada menu rendang dan sate dengan bahan daging babi. Dan ternyata pemilik terkini adalah warga setempat yang juga tergoda meneruskan kesukseskan bisnis orang ‘awak’ di sana.

 

Merantau, bagi orang Minang adalah suatu keharusan yang sejak kecil ditanamkan kepada anak laki-laki. Peribahasa “Sayang anak dilacuik, sayang kampuang ditinggakan”, selalu ditiup-tiupkan di berbagai kesempatan. Kebiasaan orang Minang jaman dulu, Anak laki-laki dibuat ‘tidak betah’ hidup di kampung halaman. Mereka tidak mendapat ‘space’  dalam “Rumah Gadang”, dan harus tidur di “Surau”. Sebelum akhil baliq, dibekali ilmu bela diri, dan kearifan tentang “Jo nan ampek”, sebagai bekal merantau. Mungkin karena itu pula lahir kebiasaan  menyerahkan kepemilikan semua harta pusaka kepada kaum perempuan.  Sehingga lahirlah sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau pola“Matrilineal” yang menjadi adat turun temurun dan telah menjelma menjadi sesuatu yang unik di negeri ini, dan langka di dunia.

 

Beberapa tahun lalu saya pernah menghadiri acara “Gebu Minang” yang diinisiasi oleh Radio Republik Indonesia. Dan sungguh mencengangkan,  di sana saya bertemu dengan ratusan manula yang sudah puluhan tahun hidup di berbagai pelosok dunia, dan konon kembali merajut rindu kampung halaman lewat sebuah acara di Radio publik tersebut, yang dipancarkan ke berbagai negara.

*****

 

Bicara masalah diaspora pemuda, pastinya kita bicara tentang masa depan Bangsa. Begitu juga sebaliknya.  Menyoal “Diaspora Indonesia” yang kini menjadi topik hangat bagi pemuda perantau di Amerika gara-gara salah seorang keturunan Minang (Yang kini menjadi dubes di sana ehm) tengah menggebu-gebu mewacanakannya, saya ingin sharing dan menggaris bawahi rentetan pertanyaan  pak BJ Habibie dalam sambutan tertulisnya di Congress of Indonesian Diaspora. Pertanyaan itu layak menjadi renungan kita bersama menutup obrolan ini;

 

  1. Bagaimana nasib masyarakat. Yang tanpa disadari mengkonsumsi produk negara lain ?
  2. Bagaimana sumberdaya manusia dapat berkembang dan menjadi unggul jikalau karya dan produksinya tidak dibina sedini mungkin dan harus bersaing dengan produksi masyarakat lain yang telah menikmati insentip pembinaan dan pengembangan oleh masyarakatnya sendiri?
  3. Bagaimana membiayai proses pembudayaan dan pendidikan sumberdaya manusia, jika modal sumberdaya alam sudah dikuasai oleh jaringan investor negara lain ?
  4. Bagaimana daya saing dan produktivitas sumberdaya manusia dapat ditingkatkan jikalau lapangan kerja untuk produksi barang konsumsi domestik tidak diperhatikan oleh Masyarakatnya sendiri?
  5. Dapatkah kita biarkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat konsumen dan bukan masyarakat produsen produk manifaktur?
  6. Dapatkah kita biarkan masyarakat Indonesia terus menkonsum produk hasil karya nilai tambah masyarakat lain, karena karya nilai tambah sendiri tidak cukup diperhatikan dan dibina?
  7. Sadarkah kita bahwa dalam produk impor tersembunyi “jam kerja“ masyarakat lain?
  8. Akankah kita biarkan terus ketimpangan kita dalam “Neraca Jam Kerja“, karena kita terlalu berorientasi pada Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran saja?

*****

 

Semoga berbagai pertanyaan pak Habibi tadi, dapat dijadikan renungan anak muda, untuk kelak menyelesaikan “PR” Bangsa kita yang bejibun itu. Dan 8 poin pertanyaan tadi diharapkan dapat menjadi  pijakan  kawula muda ketika akan menuju bahkan ‘tengah berpikir’ untuk merantau guna membangun Indonesia yang punya harga diri di mata bangsa lainnya.

 

Saat akan menutup tulisan ini, mendadak saya teringat akan 3 syarat merantau, yang didoktrinkan orang Minang kepada anak remajanya yang akan merantau, yakni mencari boos/majikan yang baik/sukses, tidak berbuat salah/genit,  dan tidak mencuri sebagai akhlak perantau. Namun sekarang  3 syarat merantau itu telah menjadi plesetan dan  olok-olok orang Minang sendiri, menjadi ;

  1. Induak samang cari dahulu, kok dapek jando kayo (Induk semang cari dahulu, kalau bisa janda kaya)
  2. Jan digaduah bini urang, kecuali suko samo suka. (Jangan ganggu istri orang, kecuali suka sama suka)
  3. Jan mancilok, kecuali kalau tapaso (Jangan mencuri, kecuali kalau terpaksa)

 

Sekarang tiba-tiba  saya terbahak,  terbayang lagi wajah salah seorang anak psikologis kami di FIM,  yang  juga menjadi mahasiswa rantau di negeri orang. Dia bilang sekarang ada 4 syarat sukses orang Minang merantau. Yang terakhir adalah “Jan pernah pulang, kalau alun ka-tigo-tigonya” ( Jangan pernah pulang kalau belum mengerjakan ketiga-tiganya) hehehe

 

Ah anak muda…ada-ada saja  :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s