Tilang, Tilang aja !

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Bung Karno)

 

Pagi Penuh Inspirasi, saya ingin menamainya demikian, pagi ini saya dan teman-teman asrama berkesempatan berbagi dengan bang Shofwan Albanna, salah satu contoh sukses Pemuda Indonesia. Aktivis, Intelektual, Penulis. Materi pagi ini adalah salah satu bagian dari agenda rutin asrama kami, nama besarnya Diskusi Paska Kampus. Meskipun bertema Diskusi Paska Kampus, materi yang disampaikan tidak melulu tentang kampus, bahkan bang Shofwan pagi ini bercerita tentang Perubahan Global, Peradaban. Tulisan ini tidak sedang ingin meresume materi bang Shofwan, insyaAllah saya akan meresumenya kemudian, tulisan ini hanya ingin bercerita sesuatu, kisah pagi ini.

 

Paska materi, bang Shofwan harus kembali lagi ke Depok, tempat beliau tinggal. Ditengah perjalanan, beliau berkata, untuk hidup, Jogja (kampung halamannya) lebih enak, tapi untuk menghidupi, depok lebih enak. Ngerti kan maksudnya?

 

Saya yang dalam Dialog Paska Kampus ini diamanahkan sebagai Liaison Officer (LO), kembali harus menjalankan tugas, mengantar bang Shofwan menuju Leuwi Panjang, kebetulan beliau ingin pulang dengan Bus. Jarak tempuh Asrama- Leuwi Panjang sekitar 20-30 menit dengan motor,  karena satu dan lain hal akhirnya saya meminjam motor teman saya.

 

Jalanan masih ramai pagi menjelang siang itu, bahkan Simpang Dago pun masih macet. Dan inilah Bandung, panas matahari bercampur hawa sejuk memunculkan sensasi unik, khas. Melewati jalan Dago, saya memutuskan menyalakan lampu sen kanan, melewati depan ITB. Inilah Jumat, persis didepan ITB berjejer Pasar Kaget Jumat, Ramai. Intuisi para pedagang ini mungkin mengatakan, dimana ada massa, disitu ada peluang rezeki, maka berdirikan Pasar kaget sekitar Masjid Salman ITB ini, meskipun saya sendiri tidak tahu kapan pertama kali berdirinya. Yang pasti, Jumat membawa keberkahan bagi mereka.

 

Melewati depan ITB, motor saya alihkan menuju Unisba, hasil tanya-tanya dengan beberapa teman menganjurkan lewat jalur ini saja. Inilah saya, meskipun sudah 2 tahun merantau di Bandung, saya masih belum hafal jalan menuju Leuwi Panjang, malah cukup sering saya harus berputar-putar di sekitar Masjid Raya, karena tidak tahu arah, Membingungkan !

 

Perjalanan ini cukup asik, hiruk pikuk kehidupan masyarakat Bandung tidak terlalu membosankan, udara disini pun tidak –untuk tidak mengatakan belum- sepekat Jakarta. Pada perjalanan ini, saya hanya mengandalakan instuisi lapangan ditambah rambu-rambu jalan, dimana rambu jalan menunjukkan arah Leuwi Panjang, disitulah saya bergerak. Hingga paska sebuah perempatan, rambu menunjukkan tanda Lurus terus = Leuwi Panjang. Beberapa saat melewati perempatan itu, seorang polisi menyuruh kami minggir. Padahal seinget saya, lampu sudah hijau, jadi tidak ada alasan Polisi ini menyuruh saya minggir. Selidik punya selidik, ternyata saya melewati Verboden, entah saya yang tidak melihat atau memang tidak ada tandanya.

 

“Surat-suratnya ?” Polisi itu meminta

Buru-buru saya mengeluarkan STNK dan mengambil SIM dari dompet. “ini pak”

“Tinggal dimana?” polisi itu bertanya

“Tubagus Ismail pak, Dago”

 

Sebelumnya bang Shofwan dari belakang saya juga menjelaskan bahwa saya ingin mengantarkan beliau ke Leuwi Panjang.

“STNK saya tahan ya, karena udah melanggar Verboden bla bla bla..”

“Oh yaudah gak apa apa pak”

 

Percakapan itu pun terjadi, saya pun pasrah, mau gimana lagi. Meski saya sendiri tidak tahu kalau itu Verboden.

Namun, tiba-tiba Polisi mengembalikan STNK dan SIM utuh, tanpa menyita salah satunya, “nih, lain kali, liat-liat ya”

 

Sejurus kemudian saya sudah memutar balik menuju arah ‘sebenarnya’ Leuwi Panjang, dengan sebelumnya basa basi pada pak polisi itu.

 

Kejadian ini seketika menarik memori saya beberapa bulan silam. Tepatnya dekat ITB, biasa, dekat pertigaan gerbang belakang ITB biasanya cukup sering dilakukan razia. Tanda-tandanya jelas, siang hari dan Jalan macet. Mereka memberhentikan hampir seluruh motor, memeriksa kelengkapan surat-surat dan SIM pengemudi. Pun begitu dengan saya. Naasnya, hari itu saya tidak bawa SIM, bukan karena tertinggal, tapi karena sedang ditahan, satu minggu lalu ketika sedang di Jakarta saya melanggar Verboden, walhasil SIM saya di tahan (dengan sebelumnya Polisi menawarkan ‘damai’ ditempat). Tapi saya kekeh, “yaudah, tilang saja Pak”.

 

Dan lebih naas lagi, saya tidak bawa surat tilangnya hari itu, ketinggalan di kosan! Saya berusaha menjelaskan kepada pak Polisi itu,

“SIM saya sedang ditahan pak, tapi saya lupa bawa surat tilang nya bla bla bla……”

“waduh, gak bisa gitu dek, kalau gini saya harus nilang kamu bla bla bla..…”

“oh yaudah gak apa apa pak, tilang aja” saya menjawab.

Polisi itu terus menjelaskan kalau STNK saya ditahan, saya akan repot, sidang lama dll. Sebenernya intinya saya tahu, arahnya jelas ; ‘damai’ di tempat, atau bahasa kasarnya, Pak Polisi itu minta saya bayar dia agar saya bisa bebas. Cih !

 

Tapi saya tetap kekeh “ Udah gak apa apa pak, Tilang aja” cukup lama kami berbincang, tetapi kemudian akhirnya pak polisi itu mengembalikan STNK saya. Mungkin dia Frustasi ! haha.

 

Kejadian-kejadian ini satu-persatu terhubung, mengingatkan saya atas jawaban bang Shofwan atas pertanyaan saya pagi ini. Dunia memuji Indonesia, Pertumbuhan Ekonomi yang terus menunjukkan angka yang luar biasa dan Bonus Demografi yang akan kita dapatkan di tahun 2030 menjadi tolak ukur beberapa ahli dan lembaga dunia berani mengatakan Indonesia akan memainkan peran penting di kancah Global di beberapa tahun lagi, tapi kita yang berada di dalam merasakan langsung suara penderitaan itu, kemiskinan, putus sekolah, kelaparan, busung lapar, kekumuhan dll. Kontras !

 

Dimana Prediksi itu? Ilusi.

 

Bang Shofwan menjawab dengan sebuah analogi, bahwa Prediksi para ahli dan Lembaga itu adalah Balon Udara, sementara kenyataan yang kita lihat dilapanagan ; korupsi, kemiskianan dll adalah pemberat yang mengikat balon udara itu. Kita harus melihatnya secara proporsional, jadikan Balon udara itu sebagai semangat optimisme dan jadikan penghambat itu sebagai pelecut semangat, bahwa masih banyak PR kita, tugas kita memutuskan pemberat itu.

 

Republik ini tidak dibangun diatas tangan para bedebah, republik ini dibangun atas tangan-tangan para pejuang dengan darah dan nyawa mereka. Bahkan Sudirman terus bergerilya dengan hanya 1 paru-parunya. Tulisan ini hanya ingin bercerita, saya yakin Anda paham bagaimana kesimpulannya kan ?😀

 

Ah sudahlah, insyaAllah saya akan segera resume materi bang Shofwan pagi ini. Tunggu ya !

 

“Ketika seorang wanita dari Fatimah Al Makhzumiyah putri dari kepala suku Bani Makhzumiyah melakukan pencurian, sebagian sahabat menginginkan Rasulullah memperlunak hukuman baginya, bahkan sebelumnya mendapat amnesti dari Usamah bin Zaid. Namun Rasulullah dengan suara lantang dan marah mengatakan: “Wahai sekalian manusia , sesungguhnya kehancuran umat dahulu disebabkan oleh perlakuan diskriminatif dalam bidang hukum. Jika yang mencuri itu orang-orang lemah dan rakyat kecil, maka mereka langsung menegakkannya. Namun jika yang mencuri kalangan elite, mereka membiarkannya. Demi Allah, andaikan Fatimah anak Muhammad (anakku sendiri) melakukan pencurian, maka akan kupotong langsung tangannya. (Hadits Riwayat Imam Bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s