Coal Bed Methane, Alternatif Baru Sumber Energi Indonesia

Hingga kini sumber energi Indonesia masih sangat bergantung terhadap sumber energi fosil, terutama minyak bumi. Mirisnya, produksi dan konsumsi yang tidak berbanding linier menyebabkan Indonesia harus mengimpor minyak sejak beberapa tahun silam. Akibatnya kenaikkan harga minyak di kancah global berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Selain itu, energi fosil juga merupakan penyumbang gas CO2 yang merupakan gas rumah kaca dan penyebab pemanasan global. Oleh karena itu, sudah seharusnya Indonesia beralih ke sumber energi yang tidak hanya berlimpah tetapi juga ramah lingkungan. Salah satu energi alternatif yang dinilai memenuhi kriteria itu adalah Coal Bed Methane (CBM) atau Gas Metana Batubara.
CBM adalah gas alam yang didominasi oleh gas metana yang terbentuk dan teradsorpsi dalam batubara, yang membedakan CBM dengan gas alam pada umumnya adalah CBM berasosiasi dengan batubara, sebagai reservoir maupun source rocknya.
Dari sisi dampak lingkungan, Coal Bed Methane dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber energi fosil seperti minyak bumi, karena CBM memiliki kandungan hidrokarbon yang lebih rendah yakni Propana dan Butana. Bahkan penggunaan CBM di Jicheng China menunjukkan, selain lebih ramah lingkungan karena menghasilkan sedikit emisi karbondioksida dan tidak menghasilkan timbal, CBM pada kendaraan bermotor juga lebih irit 50 persen dibandingkan dengan bensin.

 

Blog Contest "Sobat Bumi"

Dari segi kelimpahan, Hasil studi Advanced Resources International Inc. (ARII) menyatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya Coal Bed Methane sebesar 453 TCF yang tersebar di 11 cekungan batubara yakni : Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4 TCF) ,(Sumatera Tengah (52,5 TCF), Cekungan Tarakan Utara (17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang (0,8). Jumlah ini merupakan tiga kali lipat dibanding sumber daya gas alam Indonesia.

Sementara hingga kini, tentu menjadi pertanyaan, mengapa dengan potensi sebesar itu, penggunaan CBM sebagai sumber energi masih sangat minim? menurut penulis setidaknya ada 3 kendala yang menyebabkan pengembangan CBM di Indonesia masih sangat minim.

 

Yang pertama adalah tumpang tindih lahan, Tumpang tindih lahan masih menjadi kendala utama pengembangan CBM, terutama tumpang tindih pemakaian lahan dengan PKP2B/ KP Batu Bara. Menurut  Pedoman Pengembangan CBM yaitu dalam hal PKP2B/KP Batu Bara terlebih dulu melakukan eksploitasi di lahan tersebut, maka KKKS CBM dapat menggunakan sebagian lahan eksploitasi tersebut untuk lokasi lokasi pemboran eksplorasi, atau fase pilot percontohan CBM dengan luas sesuai kebutuhan standar teknis, keselamatan dan lingkungan. Dalam hal KKKS CBM terlebih dahulu melakukan drilling atau membangun infrastruktur pada lahan tersebut, maka PKP2B/KP Batu Bara tidak diperbolehkan untuk mengekploitasi batu bara pada lahan tersebut atas dasar pertimbangan keteknikan, keekonomian, HSE dan sebagainya.

 

Yang kedua adalah Investasi awal yang besar. Bp Migas melansir investasi yang dibutuhkan untuk melakukan eksploitasi satu sumur berkisar  1-2 Juta USD.dengan produksi gas yang relative sedikit per sumurnya, maka menjadi konsekuensi bagi investor untuk besar dalam mengeluarkan dana, hal inilah yang menjadi kendala fundamental pengembangan CBM, ditengah masih baru nya pasar CBM, tentu para investor harus berpikir dua kali untuk menginvestasikan dananya dalam industri ini. Yang ketiga adalah terbatasnya Infrastruktur. Meskipun relative berhubungan dengan industri migas, infrastruktur dan peralatan penunjang pengembangan Coal Bed Methane cenderung berbeda dengan industri Migas, sehingga dibutukan effort lebih bagi investor dalam mengembangkan industri ini, yakni dengan cara mengimpor peralatan CBM ini dari Negara lain. Selain itu, infrastruktur ini juga berkaitan dengan kurangnya data evaluasi seperti data well, seismic dan coal properties.

 

Meskipun memiliki beragama tantangan dalam pengembangannya, fakta lapangan menunjukkan pengembangan CBM memiliki prospek yang cerah, bahkan pemerintah melansir hingga Oktober 2012 sudah ditandatangani 24 KKS WK CBM. Selain itu, tentu kita harus bijak, terus menerus menggantungkan diri pada penggunaan energi fosil akan sangat rentan mempengaruhi perekonomian nasional, karena status Indonesia sebagai net importer, maka sudah seharusnya pemerintah berusaha untuk terus melakukan diversifikasi energi, salah satu nya adalah dengan mengembangkan CBM ini.

2 thoughts on “Coal Bed Methane, Alternatif Baru Sumber Energi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s