Kepahlawanan Seorang Sudirman

“Anak-anakku, tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran Tanah Airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga.” (Panglima Besar Jenderal Sudirman).

 

SOEKARNO sudah menyuruh Sudirman untuk tetap diam di kota (Yogyakarta), istirahat, dan melakukan pengobatan. Saat itu, kesehatannya sedang tidak baik, karena tuberculosis yang menjangkiti paru-parunya kian parah. Tapi ia menolak. Kondisi negerinya juga tidak berbeda dengan kondisi tubuhnya. Belanda datang dan melakukan agresi militer kedua, menyandera para pemimpin bangsa, Soekarno, Hatta, dan Syahrir.

 

Dia lebih memilih bergerilya, berpindah dari satu hutan ke hutan lain, dari satu gunung ke gunung lain, menyulut semangat para tentara untuk terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bagi Sudirman, gerilya adalah cara menunjukan pada dunia eksistensi Indonesia. Dengan gerilya, dunia menjadi tahu TNI itu ada dan secara tidak langsung menunjukan Indonesia adalah sebuah negara, bukan kumpulan kaum ekstrimis.

 

Sudirman tidak peduli dengan kesehatan tubuhnya. Baginya, kemerdekaan bangsa adalah nomor satu. Itu tahun 1948. Satu tahun kemudian, 1949, berkat usaha dan kerja kerasnya, dunia internasional sadar, Indonesia sudah merdeka, maka sudah seharusnya Belanda berhenti melakukan intervensi terhadap kehidupan bangsa ini.

 

Melalui Konferensi Meja Bundar, Indonesia akhirnya sepenuhnya diakui, baik de facto maupun de jure. Namun sayang, dia tidak bisa menikmati hasil jerih payah perjuangannya. Beberapa bulan pascahengkangnya Belanda, tepatnya 29 Januari 1950, Sudirman meninggal dunia. Mengutip Gatot Subroto “Pak Dirman sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yg telah beliau perjuangkan”. Ya, dialah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

 

Nilai Seorang Sudirman

Jenderal Sudirman tidak meninggalkan warisan harta, Dia mewariskan hal yang lebih besar dari itu, nilai-nilai kepahlawanan. Setidaknya menurut saya, terdapat tiga nilai kepahlawanan yang dapat kita contoh dari sosok Jenderal Sudirman.

 

Pertama adalah nasionalisme tanpa pamrih. Di tengah penyakit tuberculosis yang kian parah menggerogoti paru-parunya, seharusnya Jenderal Sudirman dapat memilih untuk tinggal di ibu kota dan melakukan pengobatan terlebih dahulu. Namun, dia menolaknya. Kecintaan pada Tanah Air menghapus rasa sakit tuberculosis itu dari tubuhnya, Ia terus berjuang, bahkan hingga memaksa untuk ditandu dan ikut bergerilya keluar masuk hutan dan gunung, hanya demi memastikan dia bergabung dalam rombongan yang berjuang mengusahakan hengkangnya penjajah dari bangsa yang dia cintai, tanpa mengharap apapun, kecuali Belanda keluar dari negerinya.

 

Kedua adalah kesederhanaan. Pasca perjanjian Roem Royen, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memintanya untuk kembali ke ibu kota (Yogyakarta), karena dari hasil perundingan itu diputuskan Indonesia dan Belanda menghentikan permusuhan. Namun Sudirman tidak percaya, hingga akhirnya ketika Sri Sultan mengirim surat, barulah dia mau kembali ke ibu kota. Ketika tiba di ibu kota, Sri Sultan memberikan pakaian kebesaran, namun dengan bijak dan santun Jenderal Sudirman menolaknya.

 

Beginilah nilai kesederhanaan yang diwariskan Jenderal Sudirman kepada kita. Sebagai seorang pemimpin, dia tampil apa adanya, Dia tidak ingin ada sekat antara dia dan rakyatnya.

 

Ketiga adalah visioner. Seperti dijelaskan sebelumnya, taktik perang gerilya adalah cara Sudirman untuk menunjukkan eksistensi TNI pada dunia. Dengan demikian, eksistensi TNI sebagai lembaga formal negara menunjukkan kehadiran sebuah negara. Inilah bagaimana nilai visioner yang disampaikan Sudirman kepada kita.

 

Dewasa ini kita benar-benar merindukan sosok pahlawan layaknya Jenderal Sudirman. Cinta Tanah Air, menjunjung nilai kesederhanaan, dan berpikir jauh kedepan. Seorang bijak berkata, sosok manusia sukses abad 21 adalah mereka yang belajar dari masa depan (learn from the future).

 

Semoga di tengah euforia peringatan Hari Pahlawan ini akan muncul pahlawan-pahlawan baru layaknya seorang Jenderal Sudirman.  Atau akan lebih bijak jika kita berusaha menanamkan nilai-nilai yang diajarkan Jenderal Sudirman pada diri kita masing-masing.  Seperti dituturkan Anis Matta, “Pahlawan.. Jangan menanti kedatangannya. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain”.

 

Tulisan ini dimuat di Kampus.okezone.com, Lebih lengkap klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s