Masih Adakah Alasan untuk Tidak Mendukung Palestina?

LEDAKAN-ledakan itu terus bendentum. Langit ramai lalu lalang pesawat pembawa kebencian yang terus melepaskan misil-misilnyatanpa dosa. Sementara di bawah sana korban terus berguguran. Anak-anak Palestina tanpa dosa itu harus menghadapi kenyataan kebiadaban zionisme. Sudah lebih dari 100 korban jiwa pascaserangan Israel itu. Jakarta, Berlin, Den Haag, New York, hingga Paris menyuarakan kecaman. Tapi Israel bergeming. Bagi mereka, pembantaian warga Palestina adalah tujuan utama. Visi keserakahan mendirikan negara Israel di atas tanah Palestina setahap demi setahap mereka lakukan, dengan dalih apa pun. Serangan itu jelas tidak seimbang. Infanteri Israel yang disokong Washington tentu tidak sebanding dengan kondisi Gaza yang dikurung tembok raksasa. Jangankan peralatan militer, kebutuhan harian saja sangat minim. Akhirnya pesawat tempur itu hanya dilawan dengan batu.

Hati saya ngilu, masih saja ada yang bertanya, “Ngapain sih dukung Palestina?” Sebagai sebuah bangsa (Indonesia) maupun individu manusia, menurut saya setidaknya terdapat lima poin mengapa kita harus mendukung Palestina.

Pertama, amanat konstitusi. Sejak sekolah dasar, kita hafal di luar kepala, potongan awal pembukaan UUD 1945 menyatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Konstitusi adalah landasan dasar bangsa Indonesia, maka pernyataan itu secara tidak langsung adalah pernyataan bangsa secara komunal yang menolak penjajahan di dunia, pun begitu dengan penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kedua, rasa kemanusiaan. Ini terkait nurani, bagaimana kita tergerak melihat sebuah kejahatan kemanusiaan, harusnya semua manusia merasakannya. Merasakan kepedihan masyarakat Gaza, kehilangan anak, istri, suami dan segenap kerabat mereka. Tidakkah kita miris melihat darah bertebaran di kota Gaza, anak-anak tak berdosa meninggal dengan luka yang menganga di sekujur tubuhnya? Rasa kemanusiaan adalah rasa yang tidak tersekat batas negara. Siapa pun mereka, apa pun latar belakangnya, jika rasa kemanusiaan itu terkoyak, jiwa dan raga akan tergerak melawannya.

Ketiga, ukhuwah islamiyah. Banyak sekali aspek penting dari Palestina yang berhubungan dengan perkembangan Islam. Dua di antaranya adalah keberadaan Masjidil Aqsa dan tanah kelahiran Imam Syafii. Masjidil Aqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam, dan Palestina adalah tanah kelahiran Imam Syafii, seorang imam mahzab yang pemikirannya digunakan oleh mayoritas muslim di Indonesia. Maka sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia membela Palestina, karena persaudaraan aqidah tidak pandang teritori negara.

Keempat, politik luar negeri. Dalam pergaulan internasional, sejak awal fase kemerdekaan, Indonesia sudah mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bebas berarti Indonesia bebas menyatakan sikap tanpa intervensi negara mana pun, aktif bermakna Indonesia senantiasa aktif dalam menyelesaikan permasalahan global. Maka demikian pula dengan konflik Israel-Palestina ini, Indonesia harus aktif dalam mencari solusi. Bukan hanya berpaku tangan.

Kelima, fakta sejarah. Secara de facto, 17 Agustus 1945 Indonesia sudah resmi merdeka. Namun untuk mewujudkan kemerdekaan secara de jure, setidaknya Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara lain. Dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, M. Zein Hassan Lc, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia sekaligus pengarang buku tersebut menyebutkan bahwa dukungan untuk kemerdekaan Indonesia pertama kali disampaikan oleh Mesir dan Palestina. Dukungan Palestina itu diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina. Dahulu Palestina pernah berjasa ketika kukungan kolonialisme berusaha kembali mencengkram negeri ini. Meminjam kata-kata Soekarno “Jasmerah (Jangan Sekali-sekali meninggalkan Sejarah)”, maka bukankah kita belajar dari sejarah itu? Di mana kita ketika Palestina terguncang hari-hari ini?

Dengan lima poin yang sudah saya paparkan di atas, masih adakah alasan untuk tidak mendukung Palestina? Di mana rasa kemanusiaan kita? Di mana rasa nasionalisme kita? Di mana ukhuwah islamiyah kita dan lupakah kita pada jasa Palestina di awal kemerdekaan bangsa ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s