Hentakan Rasa Syukur (refleksi comdev ppsdms Bandung)

“Kalo ane,cara buat membangkitkan semangat, ane ngobrol sama masyarakat, pemulung, pedagang kaki lima “ Darmadi

 

Sejujurnya pagi ini saya berangkat dengan rasa berat, bahkan ketika perjalanan sudah menginjak ½ periodenya. Hanya tidur 2 jam malam itu sungguh berdampak terhadap kondisi fisik. Tapi entah mengapa ada dorongan begitu kuat untuk tetap berangkat. Oh ya, Pagi itu saya akan berangkat menuju sebuah desa di daerah Ciparay, Bandung, sebagai bagian dari agenda Community Development PPSDMS Bandung, mengajar disana.

 

Agenda ini memang tidak dijadikan agenda wajib asrama, hanya beberapa yang mau dan sedang tidak ada agenda saja, praktis tidak semua penghuni asrama ikut, hanya 7 orang dengan 5 motor. Ciparay, sebuah daerah yang sering saya dengar, karena seorang teman berasal dari sana, dan hari ini saya baru merasakan ternyata perjalanan kesana cukup menguras tenaga, 2,5 jam perjalanan ditambah terik matahari menambah lelah tubuh.

 

Kami berangkat pukul 08.30 dan baru sampai pukul 11.00. Takjub dan kagum, sejujurnya itu kesan pertama ketika menginjak area desa itu, ini ciri khas Bandung, desa ini tepat berada di lembah sebauh gunung, alam mengajarkan banyak hal tentang keindahan !

 

Sesampainya kami di desa Ciheulang, Ciparay, kami disambut segerombolan warga (yang mayoritas ibu-ibu) dengan Beragam kalimat bahasa sunda (dan saya sama sekali tidak paham maksudnya -_-). 2 tahun lebih di Bandung ternyata tidak serta merta membuat saya mahir –bahkan untuk sekedar mengerti- bahasa Sunda. Meskipun, setelah bertanya teman, ternyata ibu-ibu itu mengatakan kata-kata yang sangat lucu. “aduh ini pada ganteng-ganteng mau kemana”.😀

 

Kami berkumpul di masjid desa untuk melakukan briefing dan kenalan dengan warga terlebih dahulu, oiy, kami disini hanya mengikuti arahan pak tatang (saya akan ceritakan kemudian, siapa beliau).

 

Perkenalan itu cukup-sangat membuka kembali nurani rasa syukur, kondisi di desa ini ditengah geografisnya yang sangat indah dan masih tergolong dekat dengan jalan utama, sesungguhnya sangat miris. Entah, saya bingung bagaimana menafsirkannya, apakah pendidikan berakibat ekonomi, atau ekonomi yang berakibat pendidikan. Anak-anak disini sangat minim yang melanjutkan ke pendidikan tinggi, SMA pun minim, bahkan anak SMP kelas 3 yang 1 bulan lagi akan UN pun belum paham perhitungan. Segalanya bermula pada paradigma, urgensi pendidikan, didaerah ini dan sepertinya di mayoritas Indonesia, urgensi pendidikan masih belum tertanam, ini sebenarnya terbentur kondisi ekonomi keluarga, sekolah berarti menghabiskan uang yang bisa digunakan untuk keperluan lain dan kehilangan 1 SDM yang seharusnya bisa menjadi penghasil uang. Padahal, meminjam kata-kata Anis Baswedan, pendidikan adalah katalisator kemajuan sebuah bangsa, hal ini tercermin dari bagaimana pesatnya perkembangan Indonesia diawal kemerdekaan yang sejalan dengan pesatnya perkembangan institusi pendidikan.

 

Paska briefing kami membagi diri menjadi bebrapa kelompok berdasarkan jenjang pendidikan anak-anak itu (SD, SMP dan SMA). Fazri-Ale Mengajar SD kelas 5, Agus-Endang-Arip SD kelas 6, dan saya-Candra SMP-SMA. Masing–masing menggunakan metode tersendiri dalam mengajar ; Arip-Endang-Agus menyesuaikan dengan tipikal anak SD menggunakan metode tebak-tebakan, Endang-Ale mengkolaborasikan tebak-tebakan latihan soal, dan Saya-Candra membagi penjelasan konsep-Latihan soal dengan berpatokan buku panduan menuju UN. Kami mengajar hingga pukul 2, dan diakhiri dengan foto bersama.
Comde ciparay

 

Sesunggguhnya perjalanan itu mengajarkan banyak hal.

 

 

Tidak ada alasan untuk mengeluh, dan kebiasaaan bertemu masyarakat harus terus dibiasakan, meminjam istilah Darmadi ‘Ini jalanmembangkitkan rasa syukur-Semangat kita, bahwa masih banyak orang yang ‘dibawah’, kita (saya) memiliki segala fasilitas mengembangkan diri, mau sampai kapan kita khianat nikmat.Dan jangan pernah menganggap masalah yng kita hadapai sebagai masalah terberat, mereka diluar sana, memiliki masalah yang jauh lebih besar dari kita.

 

Hanya sebuah catatan kecil. (11 Maret 2013)

 

“Kami ingin agar bangsa ini mengetahui Bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri

Betapa berat rasa dihati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini, sementara kami hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusaan”

3 thoughts on “Hentakan Rasa Syukur (refleksi comdev ppsdms Bandung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s