Catatan Perjalanan : Bandung-Surabaya

Derit kereta terus berbunyi, hantaman rel-roda besi semakin menghilangkan keheningan malam.Ular besi inisiasi Belanda ini terus membawa isi perutnya menuju peraduan.

Perjalanan Kami dimulai pukul 17.00, on time, Alhamdulillah, ini budaya yang harus dijaga. Stasiun Bandung menjadi first point kami. Oh ya, hari ini kami akan melakukan perjalanan menuju Surabaya, Stasiun Gubeng. Begitu tiket berukuran 9×19 cm itu menjelaskan. Sejatinya kami datang terlambat dalam agenda Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) FSLDK di Universitas Airlangga ini. Acara sudah dimulai hari ini, apa daya, kesibukan akademik ditambah keterbatasan ketersediaan transportasi memaksa kami baru berangkat sore itu.

Pekat malam semakin datang, menutupi segala keindahan nusantara dari kiri dan kanan jendela muram itu. Jam Biologis membawa kami terlelap dalam alam mimpi.

01.00 Jogja

“Gudeg-Gudeg, gudeg-gudeg” tiba-tiba saya terbangun, ternyata sudah sampai Jogja, Jawa Tengah. Dan suara pedagang gudeg itulah yang membangunkan saya. Gudeg memang merupakan salah satu makanan khas Jogja, maka tak heran mayoritas pedangan kaki lima distasiun ini menjual makanan yang terbuat dari nangka muda itu. Beberapa saat kemudian kereta kembali melanjutkan perjalanan, dan saya pun kembali tertidur……

“Ketan-Ketan, Berem-berem, nasi pecel, getuk-getuk”

Haha, entah mengapa saya selalu terbangun oleh suara penjual makanan, sebelumnya karena gudeg, kali ini karena, ketan, brem, nasi pecel, getuk, lebih beraneka ragam dari persinggahan di stasiun di Jogja tadi. Oiy, saya sudah sampai Madiun. Ketika saya mencoba googling, ternyata memang nasi pecel merupakan salah satu makanan khas Madiun, yang membuat saya kesal, kenapa waktu itu saya tidak beli ya? Ehm…
Padahal tidak setahun sekali bisa melewati jalur kereta lintas provinsi seperti ini…

 

Pekat malam mulai menghilang, jam di tangan kiri saya menunjukan pukul 5.25. kereta sejenak melepas lelah dan mengeluarkan isi perutnya. Madiun, entah apa nama stasiunnya ini, hanya kata madiun yang samar-samar terlihat dari buramnya jendela kereta ini.

Paska madiun, kereta kembali mengeluarkan isi perutnya di stasiun Jombang, Kota Santri ! Jombang memang terkenal sebagai kota santri, karena banyaknya pondok pesantren di Kota ini. Dari peta yang saya lihat, sebentar lagi saya akan sampai stasiun Gubeng Surabaya. Yeah!

Perlahan matahari menampakan kegagahan dirinya, pekat malam sempurna hilang. Hamparan kuning padi menjadi dominan paska stasiun Jombang itu, entah apakah ini representasi tata guna lahan Jombang atau bukan. Ular besi terus melaju, aroma udara pagi bercampur bau khas persawahan menyusup lubang kereta, penumpang lalu lalang menuju toilet.

Pukul 07. 30 kereta kami tiba di stasiun gubeng, stasiun yang rapi, itu kesan pertama saya, meskipun tidak seramai Gambir di Jakarta, stasiun ini cukup terlihat modern dan bersih. Tapi, ya, karena memang sudah di Surabaya, Temperatur sangat tidak bersahabat dengan kondisi tubuh saya yang sejak kecil teridentifikasi Keringetan, duh!

 

Yak, segitu dulu cerita perjalanan St. Bandung-St. Gubeng (Surabaya) kali ini, ehm, lain kali saya harus mencicipi kuliner setiap stasiun, salam Backpacker !!

 

Oiy, yang mau lihat, seperti apa bentuk-rupa gudeg Jogja & Nasi pecel Madiun, Ini dia..🙂

 

Gudeg Jogja (sumber : wego.coi.id)

IMG_1080

 

Nasi Pecel Madiun (sumber : nasipecelmadiun.com)

nasi pecel

 

 

Nah, kalo ini Foto saya di Stasiun Gubeng, kerenkan ? #abaikan #gapenting haha

644338_4689790324518_1909525522_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s