Catatan Latgab : No Reason

Mimpi kita dimulai ketika “dimulai”

IMG_1666

 
Tahun 1952 sebuah universitas di Amerika melakukan sebuah riset dan hasilnya hanya 3% dari mahasiswa yan telah memiliki mimpi sisanya 97% tidak memiliki mimpi. Beberapa tahun kemudian, didapat sebuah hasil yang cukup mengejutkan, penghasilan mahasiswa 3% itu lebih besar dari 97% mahasiswa lain.

Hal ini membuktikan seseorang yang memiliki visi (mimpi) cenderung akan lebih berhasil, karena adanya visi(mimpi) tersebut menjadi penuntun kehidupan seseorang yang bermimpi. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana ketika kita bermimpi, tetapi tidak tercapai ? dalam menyusun sebuah mimpi, setidaknya diperlukan sebuah konsep yang terukur.

Hal ini dapat berpijak pada kata Dream itu sendiri, diman kata itu dapat pecah menjadi : Detail, Risk, Excite, Ahead dan Motivasi. Artinya pertama seseorang harus, pertama, menyusun mimpinya secara detail, terperinci dan jelas. Kemudian yang kedua adalah risk, artinya seorang pemimpi harus berani mengambil resiko dari mimpi yang dicanangkannya. Lalu ia juga harus menyusun konsepnya secara excite (bahagia). Keempat, Ahead mengartikan ia harus menyusun mimp berjangka panjang dan berpandangan futuristic dan terakhir seseorang harus memiliki motivasi dari mimpi yang ia canangkan.
Selain memiliki kelima konsep tersebut, seorang pemimpi juga harus menambah pemahaman mimpinya dengan 2 hal : Alasan dan trigger dari mimpi tersebut. Tentang alas an, seseorang harus benar-benar paham mengapa Ia bermimpi tentang sesuatu hal, konsep 5W dan 1H harus benar-benar dapat dijelaskan dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s