UN harus dievaluasi !

Segala bentuk permasalahan UN tahun ini pada dasarnya hanya ujung dari persoalan pendidikan Indonesia, substansi permalahan Ujian Nasional bukan pada ketidaksamaan waktu pelaksanaan atau buruknya kualitas lembar jawaban Ujian Nasional. Lebih dari itu, permasalahan Ujian Nasional adalah tentang sistem pendidikan yang akan menghasilkan manusia-manusia penerus keberjalanan bangsa ini kedepannya.

 

Wajah pelaksanaan Ujian Nasional yang mulai dilaksanakan sejak 2007 silam ini bisa jadi adalah wajah Indonesia kedepannya, saya tidak menekankan pada masalah penundaan pelaksanaan Ujian Nasional itu, tetapi bagaimana Ujian Nasional hanya mengukur calon penerus bangsa ini dengan kalkulasi kemampuan intelektual kognitif. Padahal sama-sama kita sadari faktanya Indonesia tidak pernah kekurangan manusia cerdas, hanya minim manusia cerdas bermoral.

Pun jika ingin berkaca pada banyak negara maju, nyatanya mereka sama sekali tidak pernah membatasi siswanya dengan Ujian serentak bertajuk Ujian Nasional. Finlandia, yang dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik, ‘menyerah’kan sistem evaluasi siswa kepada masing-masing guru, dengan tidak ada sistem ranking, Finlandia paham bahwa setiap murid unik, memiliki bakat dan minat yang berbeda, maka sistem evaluasi coaching individu dengan sang guru adalah jalan terbaik.

Di Amerika, yang notabene terdiri dari Negara bagian pun tidak mengenal istilah Ujian nasional, sistem pendidikan di Negara Adidaya ini memiliki konsep individual quality, kualitas invidulah yang menentukan kesuksesan siswa, tidak berpatok pada kualitas sekolah ataupun wilayah. Memang tiap Negara bagian memiliki ujian terukur, tetapi ujian ini tidak bersifat wajib bagi tiap sekolah, tiap sekolah di ‘biarkan’ mengatur sistem ujiannya sendiri, hal ini karena setiap sekolah unik dan berbeda.

Sistem yang lebih menarik diterapkan di Selandia baru, siswa level SMA di Negara ini hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib, yakni Matematika dan Bahasa Inggris. Selebihnya adalah pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan cita-cita masing-masing. Bagi yang ingin menjadi dokter silahkan mengambil pelajaran Kimia dan Biologi, bagi penyuka Fisika dan Kimia akan diarahkan menjadi engineer, sedangkan pencinta ilmu ekonomi bisa mengambil Statistik dan Akuntansi. Dengan menerapkan sistem pendidikan semacam ini, siswa di Selandia Baru akan belajar sesuai minatnya, dan hasilnya negara kecil ini bisa menjadi penghasil susu dan makanan terbaik di dunia.

 

Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menggariskan,“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa…” sementara bagaimana Ujian nasional dapat membentuk watak siswa, faktanya karena ketidaksiapan pelaksanaannya, UN cenderung mendorong berbagai pihak menghalalkan segala cara untuk mendapat label “lulus”.

Pakar Pendidikan Columbia University, Linda Hammond (1994) pun Berpendapat bahwa nasionalisasi ujian sekolah tidak bisa memberi kreativitas guru. Sekolah tidak bisa menciptakan strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta kemajuan teknologi. Sistem pendidikan top down oriented, tak bisa menjawab masalah yang ada di daerah-daerah berbeda.

 

Maka, sudah seharusnya perlaksanaan Ujian Nasional dievaluasi, sudahkah dalam beberapa tahun pelaksanaanya ini UN menghasilkan anak-anak bangsa cerdas berkarakter yang siap mengemban estafet kepemimpinan bangsa ini. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s