Hari 1 Turki : Seputar Negeri 2 Benua

Jam 13. 30 waktu turki kami tiba di bandara Internasional Attaturk Istanbul. Salah satu Bandara Internasional Turki selain bandara Sabiha Gokcen, tetapi tetap Attaturk adalah yang utama. Nama Bandara ini diambil dari nama Presiden Pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Attaturk, dimana Attaturk sendiri berarti “Bapak Bangsa Turki”. Bagi sebagian orang Mustafa Kemal Attaturk adalah tokoh reformasi Turki dan bagi sebagian lain, Ia adalah tokoh sekurelisme Turki.

Di bandara ini, paska mengurus pembayaran Visa, oiy, bagi warga Indonesia, sejak petengahan 2010 kita cukup membeli visa di bandara Turki ketik kita datang (Visa On Arrival).

Stiker VoA Turki

Stiker VoA Turki

Loket Pembelian Voa Turki

Loket Pembelian Voa Turki

 

Jadi tidak perlu mengurus Visa di Indonesia. Harganya USD 25, dan hanya bisa di bayar dengan mata uang dollar atau Euro, jadi siapkan antara kedua mata uang tersebut. Paska mendapatkan stiker visa, mengurus passport (passport control) dan mengambil bagasi. Kami langsung menuju exit gate. Karena sesuai info yang kami dapat, kami akan dijemput oleh kawan-kawan PPI (entah PPI turki atau Istanbul). Melewati Exit gate, ternyata kami tidak melihat tanda-tanda kawan-kawan PPI yang akan menjemput kami, hingga setelah meewati exit gate seorang bertampang bule menyapa kami dan bertanya beberapa hal. Ternyata beliau adalah pak husein perwakilan KJRI (Konsulat jendral Repubik indonesia) yang memang bertugas menjemput kami. Beberapa saat kemudian datang Mas bayu dan Oky yang ternyata juga dari KJRI.

Perjalanan kami berlanjut menuju KJRI, namun karena rekan-rekan KJRI harus mengunjungi beberapa tempat dahulu, jadi kami tidak langsung menuju KJRI.

Selama perjalanan kami di suguhi landskap Kota Istanbul yang secara umum masih belum terlalu berbeda dengan jakarta, gedung, jalan beton, dan bangunan rumah-rumah. Meskipun yang unik dari Istanbul adalah topografinya yang cenderung sangat bervariasi, dari dalam mobil saya bisa melihat pemukiman penduduk yang berada di area yang lebih tinggi dari jalan tol kami.

Selama perjalanan mas Oky banyak bercerita hal-hal seputar Turki, karakter masyarakatnya, hal-hal yang harus kami perhatikan, hingga cerita bagaimana hubungan Turki dengan Indonesia.

Berikut beberapa hal seputar Turki yang perlu Anda tahu, versi mas Oky..hehe

  • Jangan bertanya umur kepada wanita, pamali !

Kalo kata mas Oky, kalo kamu mau menikah dengan wanita Turki, jangan bertanya umurnya, kalo bahasa Indonesia nya pamali coy. Nikah, nikah aja, nahloh..haha

  • Tidak usah mengajak shalat secara langsung kepada orang yang belum kita kenal dekat
  • Totalitas Menunjukkan Jalan

Ini salah satu karakter warga Turki yang bagi saya sangat luar biasa. Menurut Mas Oky, jika kamu tersesat di Turki, jangan segan-segan untuk bertanya, pasti warga Turki akan dengan senang hati menjawabnya, bahkan tak jarang mereka akan mengantarkan Anda hingga tempat tujuan, wow !

 

Ditengah obrolan kami, seorang pedagang kaki lima melewati depan mobil kami, seketika mas Oky menawarkan untuk mentraktir kami membeli jajanan yang awalnya kami kira Simit (sejenis Roti Turki), ternyata itu bukan simit, meskipun dari kejauhan memang terlihat seperti simit. Makanan ini terbuat dari semacam ketan, rasanya cukup mirip kue cincin yang banyak di Indonesia.

Yang unik adalah, di tengah transaksi jual beli kue itu, mas Oky terlibat obrolan seru dengan sang Penjual, tapi tentunya saya hanya planga plongo, karena mereka berbicara dengan bahasa Turki. Oiy, orang turki terkenal kurang baik dalam penguasaan bahasa asing (inggris), jadi jangan terlalu berharap bisa mengajak mereka berbicara bahasa Inggris.

Paska membeli kue itu 3 buah, masing-masing berharga 1 Turki Lira. Kami bertanya kepada mas Oky, apa yang dibicarakan tadi. Ternyata oh ternyata, si bapak penjual ingin mengembalikan Uang kami, alias gratis. Tahu alasannya? Karena kami dari Indonesia.

Beruntungnya kita orang Indonesia, dimata orang Turki Indonesia memiliki citra positif, karena ketika di perhelatan haji, masyarakat Indonesia terkenal sering menolong warga asing, termasuk Turki dan citra itu terbawa ke masyarakat Turki. Selain itu, warga Turki terkenal menganggap warga Asia itu spesial, karena warna kulitnya yangs sawo matang.

Setelah itu perjalan berlanjut menuju KJRI Istanbul, tempat kami akan menginap. Disana tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, selain beberes dan mengistirahatkan tubuh, setelah perjalanan panjang 16 Jam.

 

Tampak Depan KJRI Istanbul

Tampak Depan KJRI Istanbul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s