Hari 5 Turki : Pierre Loti, Keindahan Turki dan Rekonstruksi Sejarah Penaklukan Konstantinopel

“Serangan terus dilancar dari ke seluruh penjuru kota, Konstantinopel benar-benar sudah diujung tanduk. Sejak sampai didekat Konstantinopel  diawal April 1453 M dan melangsungkan shalat Jumat akbar pada 6 April 1453 M, Alfatih langsung mengatur pasukannya untuk mengepung Konstantinopel dari segala sisi. Beliau terjun langsung memantau sisi barat tembok Konstantinopel, Sulaymen Bey memblokade area masuk selat Bosphorus di Laut Marmara dan benteng Rumeli Hisar tetap kokoh menjaga area masuk Bosphorus dari arah Laut Hitam. Namun serangan yang begitu masif sepanjang April 1453 M itu belum menunjukkan hasil signifikan. Kokohnya pertahanan Konstantinopel menjadi salah satu kendala penaklukan kota ini. Satu-satunya bagian terlemah Kota ini adalah Teluk Golden Horn (Teluk Tanduk Emas), namun sayang, usaha memasuki area Golden Horn terus gagal diganjal rantai penghancur yang membentang di area perairan Galata.

21 April 1453 M. Difase akhir bulan april ini, berkaca pada hasil pengepungan yang belum maksimal, Alfatih menyampaikan sebuah ide brilian, memindahkan kapal-kapal pasukannya melalui jalan darat, Galata. Tidak butuh waktu lama untuk mengeksekusi ide itu, semua panglima sepakat, malam itu juga jalur pemindahan kapal dibuat : tanah diratakan, papan-papan mulai disusun, minyak dan lemak diolesi demi kelancaran pemindahan kapal. Pagi hari, 22 April, penduduk kota Konstantinopel terbangun oleh lengkingan takbir, 70 kapal berhasil dipindahkan malam itu, kini titik terpenting Konstantinopel  yaitu Golden Horn sudah berhasil dikuasai, episode kesuksesan penaklukan Ibukota Byzantium ini semakin mendekati akhir.”

 

Tiba-tiba pikiran saya jauh berkelabat menuju lorong waktu hampir 6 abad silam. Rekonstruksi sejarah, sore itu saya menyaksikan langsung saksi biru area strategis penaklukan Konstantinopel : Golden Horn.

***

Paska menggelar International show dadakan kami bergegas kembali menyusuri area Eyub Sultan Camii, disana Eren masih menemani. Ditengah kebingungan hendak kemana, Eren menawari kami pergi ke sebuah tempat, saya tidak paham, hanya mengikuti kemana Ia melangkah. Ternyata Ia mengajak kami ke puncak tertinggi area Eyub Sultan Camii ini, tempat itu dikenal sebagai Pierre Loti. Nama Pierre Loti diambil dari seorang Novelis berkebangsaan Prancis. Entah, Eren pun tidak tahu bagaimana kisahnya hingga nama sang Novelis ini bisa dipatenkan menjadi nama tempat ini, sebuah sumber hanya mengatakan bahwa sang Novelis sering mengunjungi tempat ini.

Untuk menuju Pierre Lotti, ada 2 cara yang dapat dipilih : jalan mendaki atau menggunakan kereta gantung seharga 3 TL. Saya rekomendasikan Anda untuk jalan kaki saja😀, selain hemat, perjalanan menuju Pierre Lotti pun tidak jauh, cukup 10-15 menit.

Jalan menuju Pierre Loti

Jalan menuju Pierre Loti

15 menit berjalan kaki sambil mengobrol, akhirnya kami sampai di Pierre Lotti. Satu kata yang dapat menggambarkan view tempat ini adalah Luar Biasa ! Dahsyat ! *loh kok 3 kata (?).

Pemandangan Istanbul dari Pierre Loti

Pemandangan Istanbul dari Pierre Loti

Pemandangan Istanbul dari Pierre Loti

Pemandangan Istanbul dari Pierre Loti

Dari tempat ini kita dapat melihat pemandangan Istanbul dengan begitu Indah. Dan didepan kami Golden Horn menampakkan dirinya dengan sangat angkuh, indah. Inilah selat yang menjadi penentu penaklukan Konstantinopel 1453 M lalu. Dan dari tempat itu pikiran saya mencoba untuk merekonstruksi sejarah. Benar kata seorang bijak “salah satu cara paling baik mempelajari sejarah adalah dengan mengunjungi tempat bersejarah itu langsung”.

Di area Pierre Loti ini tersedia sebuah teropong yang dapat Anda gunakan untuk melihat lebih detail keindahan Istanbul, cukup dengan memasukkan koin 1 TL, Anda dapat menikmati pergerakan manusia dibawah Istanbul sana dengan sebuah rasa berbeda.

Puas menikmati view keindahan Istanbul, Eren mengajak kami bergerak lagi ke area kafe dan disana kami ditraktir cai alias teh. Harganya, ehm, mungkin karena area turis, satu cangkir teh dihargai 2 TL alias 10 ribu.

Teropong di Pierre Loti

Teropong di Pierre Loti

Cai (teh), dikit banget dan mahal

Cai (teh), dikit banget dan mahal

Hari berangsur sore, kami harus segera kembali menuju KJRI, perjalanan ini ditutup dengan sesi narsis di pelataran air mancur Eyub Sultan Camii.

Di depan Eyub Sultan Camii

Di depan Eyub Sultan Camii

2 thoughts on “Hari 5 Turki : Pierre Loti, Keindahan Turki dan Rekonstruksi Sejarah Penaklukan Konstantinopel

  1. Pingback: Hari ke 6 : Dr. Franz dan Galata Tower | Making a Giant Leap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s