Inspirasi Hari 2 Turki : Merasakan Shalat Pertama Kali di Kota 2 Benua

Awan gelap masih menggantung di langit Istanbul, baru saja adzan selesai berkumandang. Meskipun Maghrib di Kota ini baru berkumandang pukul 20.40, untuk adzan shubuh waktunya tidak terlalu berbeda, sekita pukul 04.30 adzan sudah berkumandang. Memasuki hari kedua di Kota ini, saya memutuskan untuk merasakan secara langsung bagaimana shalat bersama masyarakat Turki. Setelah meminta tolong Mr. Jamal (penjaga KJRI Istanbul) membukakan pintu, kami bergegas menuju Dugmeciler Camii, masjid terdekat dengan KJRI Istanbul.

 

Kesan pertama memasuki masjid ini, aneh ! tidak ada orang sama sekali, padahal sebelumnya sayup sayup kami mendengar adzan shubuh, kenapa masjid ini tidak ada orang? Dalam kebingungan itu tiba-tiba seorang warga Turki datang, tapi beliau sangat ‘dingin’ berjalan terus hingga beliau duduk di shaf terdepan, sambil memegan tasbih ditangan kanannya. Dari gerakan bibirnya terihat beliau sedang sangat khusu berdzikir kepada Sang Maha Pencipta. Desain masjid ini cukup unik, unik karena berbeda dengan masjid kebanyakan di Indonesia. Sebelum memasuki ruang utama, terdapat 3 pintu, setelah pintu pertama dipojok kanan terdapat rak sepatu, papan pengumuman dll, setelah pintu kedua terdapat ruangan, tempat shalat, entah saya juga tidak tahu mengapa dipisahkan dengan ruang utama. Pencahayaan ruang utama mengandalkan sebuah lampu gantung di tengah ruangan, di pokok kanan terdapat tempat khusus, nampaknya untuk khutbah. dan terdapat Tempat untuk orang yang ingin shalat sambil duduk di belakang.

 

Yang unik dari masjid ini, di dinding sebelah kanan terdapat banyak sekali gantungan yang digunakan untuk menggantung tasbih. Sesuatu yang tidak biasa di Indonesia. setelah sang bapak duduk di shaf pertama, saya pun ikut duduk, di shaf kedua, mengamati sekitar dan menunggu, entah, menunggu dalam ketidakpastiaan. Hampir 30 menit lamanya saya menunggu dan tidak ada gerak-gerik shalat akan segera dimulai? Apa jangan-jangan shalat sudah selesai sebelum saya datang? Saya berusaha menghilangkan kebosananan dengan bolak-balik mengganti cara duduk, melihat lebih detail interior masjid. Jamaah perlahan semakin ramai, namun sayang tidak satupun anak muda Turis terlihat, semuanya terlihat sudah “bapak-bapak”. Yang unik dari penampilan mereka, semua dari mereka menggunakan peci dan kaus kaki, dengan tangan kanan memegang tasbih.

 

Akhirnya setelah menunggu lebih dari 40 menit, seseorang dibelakang melantunkan iqamah. Tapi iqamah di masjid, dan di Turki sepertinya  berbeda dengan iqamah di Indonesia, kalimat iqamah dinegeri ini sama dengan adzan. Hal berbeda adalah, di Turki, pelafalan “Amiin” tidak dikeraskan, karena memang berbeda mahzab dengan Indonesia.

Bagian dalam Dugmeciler Camii

Bagian dalam Dugmeciler Camii

Bagian dalam Dugmeciler Camii
Bagian dalam Dugmeciler Camii

 

3 thoughts on “Inspirasi Hari 2 Turki : Merasakan Shalat Pertama Kali di Kota 2 Benua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s