(Day 28) Tan Malaka dan Pembelajaran untuk Pemuda Indonesia

Namanya Ibrahim, lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka, buah lahirnya Ia di tanah Minang. Mohammad Yamin menyebutnya Bapak Republik, Bung Karno menyebutnya sebagai sesorang yang mahir dalam revolusi. Kapan Ia lahir? Ehm, Sebagai seorang buron dengan 23 nama samaran, agaknya cukup sulit mengetahui waktu pasti kelahiran bung ini. Tapi lazimnya, 2 Juni 1897. Yang menarik dari tokoh ini adalah, bagaimana Ia akhirnya menghasilkan karya-karya orisinil yang bahkan hingga sekarang menjadi acuan ; Naar de Republiek Indonesia (1925), Madilog (1943), Memoar Dari Penjara ke Penjara (1948), Massa Actie (1926) dll. Selain tentu hidupnya yang berpindah-pindah di 11 negara dan kisah tragisnya dibedil tentara republik yang Ia cita-citakan.

Massa Kecilnya dihabiskan layaknya kebanyakan anak Minang di masanya ; berenang disungai, bermain layang-layang dan bermain sepak Bola. Diusianya yang ke-7 Ia melanjutkan pendidikannya di Fort de Kock –sekarang Bukit Tinggi- inilah tanah rantau pernah Ibrahim kecil. Di Fort de Kock ini juga Ia pertama kali mengenal budaya penjajahnya, bahasa Belanda. Oktober 1913, atas bantuan Horensma –guru di Fort de Kock- Ibrahim remaja merantau ke Belanda, disinilah rantau kedua yang dikemudian hari menyemai pemikiran politik sang Bapak Republik.

Seperti sudah saya  singgung di awal, Tanah Belanda menjadi wahana penyemaian kesadaran politik seorang Ibrahim.  Tepatnya di pondokan keduanya di Jacobijnestraat, disini Ia bertemu Herman Wouters dan Van der Mij  –Seorang Pengungsi Belgia yang mengungsi dari serbuan Jerman- Pergumulan pemikiran akibat pertemuan dengan dua pelarian itu akhirnya mengenalkan Tan Malaka pada kondisi dunia, yang akhirnya mengenalkan nya dengan satu kata sakral ; Revolusi.

Melalui perkenalannya ini juga akhirnya Ia mengenal Haria De Telegraf dan Het Vol. Yang pertama adalah harian anti Jerman dan yang kedua adalah harian beraliran antikapitalisme dan imperialisme, cocok dengan kondisi Hindia Belanda (Indonesia).

Membaca kisah Tan Malaka kita akan mendapati kisah seorang buron dan Nomaden tulen, bahkan Tak jarang kisahnya dijadikan mitos, karena Tan Malaka dianggap dapat berpindah dari satu tempat ke tempat dengan hanya sekali kedipan mata.

Setelah dari Belanda, 1919 Ia pulang ke Indonesia (Deli, Sumatera Utara), lalu Ia pindah lagi ke Semarang, Jakarta, Belanda, Jerman, Rusia, Kanto, Filipina, Singapura, Thailand, Shangha, Hongkong, Burma  hingga akhirnya Ia kembali ke Indonesia.

***

Membaca Biografi tokoh-tokoh besar, entah mengapa kita akan selalu dapati benang merah yang sama. Ya, mereka sejak muda sudah mengenal dunia lain diluar Republiknya. Tan sejak 16 Tahun sudah harus merantau ke Belanda, Bung Hatta di awal usia 20-nya juga melanjutkan studi nya di Belanda, pun begitu Syahrir.

Dalam konteks lebih jauh, bahkan akan kita dapati bagaimana sejak usia 12 Tahun Nabi Muhammad sudah diajak pamannya Abu Thalib ke Syam.

Pada diri mereka, pergulatan di tanah rantau akhirnya menghasilkan pergulatan pemikiran, refleksi dan beragam pemikiran yang akhirnya membawa kebijaksanaan dan pemikiran baru. Yang nantinya membuat mereka menjadi tokoh-tokoh. Dari kisah mereka, kita (pemuda Indonesia) harusnya mengambil pelajaran berharga, bagaimana seharusnya sejak muda kita belajar untuk mengenal dunia lain, pergi dari tanah air ini, mengambil pelajaran dari negara-negara tujuan tersebut, layaknya Tan, Hatta dan Syahrir.

Seperti perkataan Imam Syafii.

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia ‘kan keruh menggenang.

 

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu. (Rhenald kasali)

 

Referensi :

  • Seri Buku Tempo Tan Malaka
  • Madilog
  • Sirah nabawiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s