Hari 6 Turki : Backpacker Keliling Istanbul

Siang itu benar-benar terik, matahari nampak sangat percaya diri menampakkan dirinya. Siang itu tanggal 3 Juni, beberapa rombongan PPSDMS 2 Bandung harus sudah kembali menuju peraduan, Indonesia. Salah satunya kang Deden Amwar, setelah berdiskusi cukup lama, saya akhirnya yang mengantarkan beliau menuju Aksaray, tempat dimana metro menuju bandara Attaturk berada. Sebenarnya, gak penting nganterin kang Deden, yang penting itu Istanbul Cardnya wehehe *piss kang* *kabuuurr*

Perjalanan menuju Aksaray kami lakukan dengan menggunakan Otobus dari Eyub Sultan, kami turun di daerah Aksaray dan langsung menuju area metro. Sampai Aksaray tugas saya selesai, setelah kang Deden melewati gate area metro, saya bebas. Entah kemana. Akhirnya saya memutuskan untuk backpacker sendiri, tujuan pertama Bozdogan (Valens) Aqueducts dan Sehzade Camii. 2 Tempat yang sering sekali saya lewati ketika menuju area Istanbul University.

Celingak-celinguk disamping metro, akhirnya saya memutuskan untuk menyebrang, berhubung matahari sudah sepenggala naik dan kebetulan tidak jauh dari pool metro terdapat sebuah mesjid, maka saya memutuskan untuk shalat dhuha terlebih dahulu, sekaligus melihat interior masjid ini. Semakin memasuki area masjid itu, saya baru tahu nama masjid itu adalah Murad Pasa Camii. Interiornya, ehm, sepertinya saya khatam interior masjid Istanbul, persis tidak jauh berbeda dengan Blue Mosque. Biar lebih jelas, saya perlihatkan melalui foto saja ya…

 

2 1

 

Istanbul memang Kota 1001 Masjid, setelah berjalan beberapa saat dan bertanya-tanya arah dengan bahasa tubuh, maklum, minim sekali warga Istanbul yang paham english, saya menemukan sebuah masjid lagi, Pertevniyal Valide Sultan Camii. Tapi sayang masjid ini sedang dalam proses renovasi, sehingga saya tidak bisa masuk kedalamnya.

3

Sambil melanjutkan perjalanan, saya mengambil beberapa gambar menarik, check this out.

4 5

Cukup lama berjalan, saya memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu di sebuah taman. Hal lain yang menjadikan Istanbul bersahabat dengan para backpacker adalah taman ini. Istanbul kaya akan taman kota. Belum lagi udaranya yang cukup sejuk bagi para backpacker ASEAN. Bahkan dalam perjalanan ditengah terik matahari ini saya menggunakan sweater.

Tempat selanjutnya yang saya kunjungi adalah sebuah monumen. Entah, tidak ada keterangan yang cukup jelas monumen apa ini. Bahkan penduduk Turki yang saya temui disana pun tidak bisa menjelaskan history dari monumen ini. Padahal monumen ini menurut saya cukup unik dan menarik loh, lihat saja foto ini.

 6 7

 

Bozdogan (Valens) Aqueducts, Tembok Raksasa Pengangkut Air

Dibangun ditahun 375 M atas perintah Roman. Wow, sudah sangat tua, bersejarah ! Digunakan untuk mentransportasikan air dari Hutan Belgrade ke Nymphaion (monumental Air mancur) di beyazid Square. Tingginya 64 m diatas permukaan laut. Panjang aslinya 1 km tapi sekarang hanya tersisa 800 m. Arsitekturnya yang unik dan keberadaaannya di tengah kota menjadikan Bozdogan Aquaducts ini sangat menarik untuk dikunjungi atau mungkin sekedar latar untuk narsis berfoto😀.

Yang menarik dari Istanbul adalah objek wisata di Kota ini berdekatan, sehingga kita cukup jalan kaki untuk menjelajahinya. Sehzade Mozque tepat berada disamping Bozdogan (Valens) Aqueduct, paska melihat-lihat dan mencoba mengamati Bozdogan (Valens) Aqueduct ini dan setelah putus asa tidak tahu bagaimana cara naik ke atas tempat Bozdogan (Valens) Aqueduct,hiks,  akhirnya saya memutuskan langsung menuju Sehzade Mosque. Di salah satu taman menuju Sehzade Mosque, seorang penjual teh menyapa saya, dia bukan penjual teh biasa, setidaknya penampilannya menyiratkan demikian, atau emang penjual teh di istanbul begini, edan! Nih fotonya.. *penjual teh aja ganteng*

8

“Indonesia? malaysia?”

Tanpa basa basi dia langsung menembak..

“Indonesia” langsung saya jawab.

Seperti sudah saya jelaskan diawal, sepertinya warga Turki cukup akrab dengan wajah ASEAN, dan sepertinya cukup banyak warga Indonesia dan Malaysia yang berkunjung ke Istanbul, pastinya karena sejarah Istanbul dan demografi kedua negara ini yang notabene mayoritas muslim.

Si penjual teh dengan gesture nya menawari saya untuk meminum teh itu, awalnya saya tertarik, tapi tiba-tiba saya teringat kejadian beberapa hari lalu, saat saya di traktir Eren, satu cangkir teh kecil dihargai 10 TL atau 50ribu lebih, beh, akhirnya saya mencoba menahan diri pasti ujung-ujungnya entar gue disuruh bayar, ehm..

 

Sehzade Mosque

Sehzade mosque, atau juga Sehzadebasi Mosque, dibangun pada tahun 1543 hingga 1548,  atas perintah Kanuni Sultan Sulaymen yang dipersembahkan untuk sang anak (Sehzade Mehmet) yang meninggal pada usia muda. Masjid ini dibangun orang Mimar Sinan, salah satu arsitek terkenal pada zaman itu, arsitek yang juga menukangi pembangunan Blue Mosque. Sehzade Mosques adalah kompleks masjid, didalamnya terdapat madrasah dan sekolah. Dalam hal bentuk, layaknya masjid lain di kota ini, Sehzade Mosque berbentuk persegi dengan Kubah medium berukuran 18.42 meter. Masjid ini memiliki 3 gerbang masuk. Seperti masjid Istanbul lainnya, masjid ini juga memiliki air mancur sebagai ikon khasnya, indah !

Niat awalnya saya hanya melihat-lihat Sehzade camii ini, tapi ternyata, karena telah berjalan-jalan cukup jauh, akhirnya saya tertidur sebentar di masjid ini, mau bagaimana lagi, suasananya, sepi, lengan dan adem..hehe

9 10

My next destination is Galata Area. Yap di hari ketiga kemarin saya sempat melewati area Galata Bridge, tapi sayang, karena memang tujuannya hanya transit, saya belum sempat meng-explore area ini, padahal dari kejauhan saya melihat 2 masjid Unik. Maka ketika hari ini saya memiliki kesempatan, langsung saya menuju kesana.

 

Sulaymen Camii, what a big mosque

11  13 33

Sebelum menuju tujun utama Galata Tower, saya memutuskan untuk singgah di 2 masjid yang sejalur dengan rute perjalanan saya hari ini. Sulaymen Camii ini salah satunya. Sulaymen Camii adalah satu dari 2 masjid yang saya lihat 2 hari lalu, satu masjid selanjutnya adalah Yenni Camii. Megah, Luas, Adem dan Ramai, itu gambaran masjid ini, atau mungkin itu deskripsi masjid-masjid yang saya temui di Kota ini. Masjid selalu bersanding dengan wahana keramaian, atau masjid yang justru membuat geliat ekonomi berkembang. Nampaknya tesis kedua lebih cocok. Karena masjid Istanbul adalah warisan sejarah, bangunan kokoh ini adalah saksi bisu sejarah Turki atau bahkan dunia. Maka tak heran, masjid-masjid di istanbul menjadi tujuan wisatawan dunia, khususnya bagi mereka penikmat khazanah islam masa lalu. Tak ubahnya masjid lain yang sudah saya ceritakan, Sulaymen Camii, mirip, persis sama Blue Mosque. Meskipun, tetap, saya tidak pernah bosan menginjakkan kaki, atau hanya sekedar mengambil wudhu dan rehat sejenak di dalamnya, kontemplasi ! Hal yang membedakan Sulaymen Camii dengan masjid-masjid sebelumnya adalah masjid ini ramai anak-anak ketika saya menginjakkan kaki di tempat ini. Mata biru, rambut bule, muka unyuu, aahhh, mereka lucu banget, serius, liat nih fotonya..

20 12

 

Perjalanan masih panjang, selesai rehat dzuhur di Sulaymen Camii, saya bergegas menuju Yenii Camii, yang semakin mengenaskan adalah logistik saya semakin menipis. Hari ini adalah hari kere atau memang perjalanan Istanbul ini adalah perjalanan kere, saya sangat berusaha meminimalisir pengeluaran, untuk tidak membuat kantong makin ringsek. Pun hari ini, saya hanya bermodal 2 biskuit yang saya beli di supermarket pagi tadi dan 1 botol air minum di botol kesayanagan itu.

Perjalanan menuju Yenii Camii ini tidak mudah, hanya berbekal satu peta dan minimnya warga Turki yang bisa berbicara bahasa english, akhirnya saya terjebak dalam gang-gang sempit, menurun, tapi ramai, kiri dan kanan adalah pertokoan, dan sepertinya ini area mahasiswa, karena banyak semacam tukang fotokopi, wah..oh, ternyata saya memasuki area Istanbul University. Pantas !

14 15

Tiba-tiba saya sudah berkerumun dalam sebuah pasar, ramai sekali, dan perlahan tercium aroma rempah-rempah, wujudnya mirip grand bazar, hanya pasar ini lebih kecil. Gantungan kunci, warna-warni rempah-rempah, pajangan, pakaian, semuanya nampaknya ada disini, dan setelah bertanya-tanya sebentar, harganya pun lebih murah daripada grand bazar.Spice Bazar, itu nama tempat itu yang kemudian saya lihat di ujung tembok jalan pasar ini. Pasar ini langsung terhubung dengan Yenii camii, tempat yang ingin saya kunjungi. Entah, sepertinya memang pasar di Istanbul ini sepertinya didesain dekat dengan masjid, seperti Grand Bazar dan Suliman Camii juga.

 

Yenii Camii, Masjid di Persimpangan Keramaian

Tepat berada di persimpangan keramaian, Yenii Camii atau kadang disebut juga sebagai New Mosque.Menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid paling strategis dan jarang sepi pengunjung. Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah mengapa masjid ini disebut masjid baru (new mosque) padahal, jika melihat sejarahnya, masjid ini dibangun pada 1597, setengah abad lalu, wow. Saya berusaha mencari berbagai referensi, namun, ternyata belum ada yang bisa menjelaskan asal usul New Mosque bagi Yenii Camii ini. Apakah mungkin karena ia dibangun setelah tetangga dekatnya Sulaymen Camii? Entahlah. Melihat sejarah pembangunan beberapa masjid Turki akan kita dapati satu kesamaan, masjid-masjid ini dibangun dengan satu aktor intelektual yang sama, Mimar Sinan. Pun begitu dengan Yeni Camii, Ia lahir dari rahim pemikiran Mimar Sinan, tepatnya murid Mimar Sinan, yakni Daud Aga.

17 16

Hari semakin siang, Kawasan Eminonu tempat dimana Yenii Camii ini berada sangat ramai, orang-orang silih berganti mondar-mandir, burung merpati menjadi hiburan ramai pengunjung, saya diburu waktu. Tidak banyak waktu yang saya habiskan di masjid dengan 2 menara ini, saya langsung bergegas menuju tujuan akhir, Galata Tower.

 

Continued…

8 thoughts on “Hari 6 Turki : Backpacker Keliling Istanbul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s