Hari ke 6 : Dr. Franz dan Galata Tower

Yeah, my main destination is Galata Tower. Setelah 3 hari lalu hanya berhasil melihatnya, hari ini saya tekadkan diri untuk mengunjunginya. Puas melihat Yenii Camii, saya langsung menyebrang jalan dan menuju Galata Bridge, jembatan penghubung antara Old Istanbul (Istanbul lama) dengan daratan Galata. Area Galata Bridge adalah area yang sangat ramai, karena disini seperti pelabuhan, banyak perahu yang menawarkan perjalanan menuju Istanbul bagian Asia, atau bahkan sekedar menikmati indahnya Selat Bosphorus. Keramaian lalu lalang ‘pelabuhan’ ini nampaknya berefek domino, dibagian bawah galata bridge inipun ramai resto dan warung makan, meskipun harganya jelas tidak cocok untuk backpacker seperti saya🙂 . Selain itu, area galata bridge ini juga dekat dengan terminal, maka tak heran, area ini begitu padat pada saat  rush hours.

1

Sebelum langsung menuju Galata Tower saya singgah sejenak di atas Galata Bridge, menikmati semilir angin laut dan pemandangan Selat Boshporus. Oiy, Galata Bridge dipartisi menjadi 3 bagian, kedua sisi paling pinggir adalah untuk para pejalan kaki dan juga pemancing ‘ilegal’, bagian tengah untuk trem dan diantaranya adalah jalur untuk mobil. Seperti sudah saya jelaskan pada tulisan ini (klik), bahwa pada saat kepemimpinan Romawi dan saat penyerangan Konstantinopel (Istanbul) oleh Muhammad Alfatih, Galata bridge ini adalah tempat dimana rantai galata membentang. Jembatan ini adalah pembatas antara Golden Horn dan Selat Bosphorus. Rekonstruksi sejarah!

Fenomena lain yang menarik dari Galata bridge adalah tentang para pemancing ini. Galata bridge adalah jembatan 24 jam, aktivitas diatas jembatan ini tidak pernah mati. Para pemancing ini salah satu penyebabnya, konon mereka memancing 24 jam atau silih berganti. Edan ! para pemancing ini beragam, mulai dari pemancing kecil hingga mereka yang benar-benar niat membawa pancingan sebesar gaban. Lihat saja foto ini.

2

Berjalan-jalan di Istanbul adalah sesuatu yang menyenangkan, percampuran budaya eropa-asia, gedung-gedung bersejarah, udara yang cukup bersahabat, infrastruktur pejalan kaki yang cukup nyaman, nice !

Saya berjalan menuju Galata Tower hanya mengandalkan insting, dari kejauhan terlihat jelas pongahnya menara Galata itu, makin mendekat, gedung-gedung, perumahan dan pertokoan akan menenggelamkan kekokohan Galata Tower. Memasuki gang-gang, menaiki anak tangga, sesekali bertanya, akhirnya saya sampai juga di Galata Tower, yeah ! Dan harus hanya katakan, cukup butuh tenaga untuk mencapa tower ini, karena jalannya sangat curam.

3 4

Tinggi menjulang dan sangat besar, itulah gambaran Galata Tower, sangat sulit untuk sekedar narsis menjadikan tower ini sebagai background, saking besar dan tingginya.

Galata Tower dibangun persis di lereng Galata, dengan tinggi 61 meter, Tower ini menawarkan pemandangan yang menjanjikan dari atas puncaknya, dari menara ini kita dapat melihat Golden Horn, Boshphorus dan Laut Marmara.

Galata Tower ibarat Monas, pengelola tower ini menyediakan fasilitas bagi pengunjung yang ingin menginjakkan kaki di puncak tower ini. Saya pun tertarik. Semangat menggebu, siapa yang tidak mau melihat pemadangan indah dari atas menara bersejarah ini. Berjalan memasuki pintu Galata Tower, langkah saya terhenti, beh, harganya tidak cocok dengan kantong saya, haha, 13 TL, akhirnya saya mengurungkan niat itu, mungkin lain kali.

Puas mengabadikan gambar Tower raksasa ini, saya putuskan untuk pulang. Menyusuri rute yang sama persis ketika menuju Galata hingga saya sampai diatas Galat Bridge. Bedanya, Ketika pulang ini saya lebih memilih untuk melewati sisi lain dari Galata Bridge. Dan saya tidak langsung memutuskan untuk menuju terminal, tapi sedikit kembali menikmati pemandangan laut dari Galata ini, memandangi aktivitas global. Menikmati romantisme perjalanan.

Hampir 30 menit saya mengamati pemandang dari atas jembatan ini, hingga tiba-tiba seorang kakek lalu lalang di sekitar saya. Sepertinya Ia juga usai berjalan-jalan di sekitar istanbul. Sesekali Ia tersenyum kepada saya, hingga akhirnya saya pun menyapanya. Dan kami terlihat obrolan panjang, 2 orang beda Generasi, saya taksir umurnya sudah diatas 60.

“Namanya Dr. Franz, seorang paramedik berkebangsaaan UK, Ia tinggal di Manchester. Ia sudah banyak berkunjung ke negara-negara di dunia, entah karena tuntutan profesi atau memang berlibur. Ia pun pernah ke Borneo (Kalimantan) dan Bali. Entah, banyak orang lebih mengenal Bali dari pada Jakarta, bahkan, waktu saya ke China, pemandu saya yang pernah ke Bali, baru tau kalo Bali itu bagian dari Indonesia, beh. Dr. Franz berada di Turki dalam rangka liburan, dan Ia banyak bercerita tentang perbandingan UK dengan Turki, mulai dari minimnya warga Turki yang bisa berbahasa Inggris, temperatur UK yang sangat ekstrim, pun Ia bertanya kepada saya, kenapa menggunakan Sweater. Karena menurutnya yang terbiasa berada pada temperatur ekstrim, temperatur Turki tergolong sangat panas, makanya Ia yang hanya mengenakan celana pendek dan polo shirt bingung kenapa saya menggunakan Sweater. Obrolan itu menjadi obrolan tanpa tema, ngalor ngidul kalo kata orang betawi. Kenapa saya bisa berada di Istanbul, kenapa Ia bisa berada di Istanbul. Tentang keluarga, hingga Ia bertanya apa rencana saya setelah lulus. “I will get married first and then continue my study”😀 saya jawab dengan percaya diri. Saya menganggap beliau layaknya kakek saya.”

P1130676

 

Hari menjelang sore, saya memutuskan untuk permisi pulang, sebelumnya saya meminta untuk berfoto terlebih dahulu dan meminta email beliau. Harapannya bisa menjadi jejaring Global dan mungkin saya bisa menghubungi beliau suatu hari nanti ketika akan berkunjung ke UK.

Saya langsung bergegas menuju terminal yang tidak jauh dari Galata Bridge ini, tujuannya halte Eyub Sultan, di dalam bus saya benar-benar diserang rasa kantuk, jelas saya tidak bisa membohongi tubuh, seharian berjalan kaki mengitari Istanbul dengan cadangan makanan seadanya, tanpa sadar saya tertidur…

“Eyub Sultan Eyub Sultan..”
tiba-tiba penumpang sebelah saya berusaha membangunkan saya, antar sadar dan tidak, saya bergegas, berdiri dan langsung keluar bus, hampir saja saya kebablasan -_-, beruntung tadi saya sempat memberitahu penumpang sebelah saya, meskipun dengan bahasa isyarat seadanya.

Malam hari menjelang, tiba-tiba di depan KJRI Istanbul terdengar keramaian, ternyata mereka adalah para pendemo yang sedang mendemo kebijakan Erdogan tentang Taman Gezi. Para pendemo di Istanbul sangat unik, mereka menggalang massa dengan berkeliling kota dengan menggunakan mobil, dan mereka yang mendukung aksi itu akan keluar dari rumah membawa botol dan sejenisnya dan membunyikannya dengan sendok. Yang lain, bahkan saking niatnya, melakukan hal yang sama dari beranda/jendela apartemen mereka. Dan disini saya semakin sadar, betapa berlebihannya media, banyak dari kami yang ditelpon orang tua dari Indonesia, karena media mengabarkan Istanbul sedang rusuh. BERLEBIHAN, wong kami disini aman-aman saja, bahkan seharian ini saya berkeliling Istanbul, aman. Ya, meskipun ada himbauan dari Pihak KJRI untuk tidak mendekati area taman Gezi, sekedar itu.

6 5

Menjelang malam saya menyempatkan diri untuk meng-email Dr. Franz, menjalin silaturahim..hehe Dan ternyata Ia membalasnya, Ia mengundang saya untuk makan malam, kami janjian untuk besok sore ketemu di Yenii Camii. Dan salah satu episode cerita paling menghebohkan dalam hidup saya pun akan terjadi esok hari, stay tune🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s