CCS (Carbondioksida Capture Storage)

Dalam salah satu artikelnya, majalah ESDM edisi 1 membahas tentang teknologi Carbon Capture Storage, sebuah teknologi yang sedang diinisiasi untuk mengurangi dampak pemanasan Global yang di sebabkan oleh CO2, NO2, CH4 dan CFC. Pemanasan global secara sederhana dapat diartikan sebagai fenomena meningkatnya suhu bumi yang disebabkan oleh terperangkapnya sebagian panas matahari yangs seharusnya dipantulkan kembali. Penyebabnya adalah meningkatnya CO2, NO2, CH4 dan CFC.

Secara sederhana CCS merupakan teknologi yang akan berperan dalam menangkap, mentransportasi dan menyimpan pada tempat tertentu, sehingga tidak terlepas bebas di atmosfer. Pada artikel ini dibahas 2 metode yang berperan dalam konsep CCS ini, yakni Post combustion dan Pre combustion. Sesuai namanya, proses yang terjadi pada Post Combustion adalah menangkap gas CO2 setelah pembakaran, sementara pre combustion menangkap Co2 sebelum pembakaran.

Setelah dilakukan proses penangkapan, CO2 akan ditransmisikan ke tempat penyimpanan, pada tahap ini CO2 dapat berbentuk padat, cair ataupun gas, disesuaikan dengan tempat penyimpanannya.

Untuk tempat penyimpanan, artikel ini membahas 3 kemungkinan tempat penyimpanan :

  1. Penyimpanan Bawah tanah
  2. Penyimpanan bawah laut
  3. Penyimpanan berbentuk mineral

Pada teknologi penyimpanan bawah tanah, CO2 akan diinjeksi dan ditempatkan kedalam bawah tanah dalam bentuk cair, dengan tekanan tinggi gas CO2 diinjeksi ke area penyimpanan dan karena tekanan itulah gas akan berubah wujud menjadi liquid. Sementara pada penyimpanan bawah laut, gas akan di transportasikan dengan kapal laut dan akan diinjeksi ke dalam sistem perpipaan bawah laut dengan kedalaman lebih dari 1000 meter. Sementara pada penyimpanan berbentuk mineral, Co2 akan di reaksikan dengan magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) sehingga akan berbentuk padatan karbonat.

Metode CCS bukan tanpa kelemahan, dalam penelitiannya, CCS ternyata memiliki kelemahan, yakni, masalah kebocoran tempat penampungan dan lamanya reaksi yang terjadi antara CO2 dengan Kalsium atau magnesium.

Alternatif lain

Mengingat urgensi penanggulangan emisi gas rumah kaca semakin mendesak, alternatif pengembangan metode CCS ternyata tidak samapai pada ketiga metode itu saja, pengembangan CCS biologi juga coba untuk terus dilakukan. Konsep CCS biologi dikembangkan dengan memanfaatkan mikroalga, dalam penelitian labolatorium mikroalga terbukti dapat menyerap 60.000 ppm Karbondioksida perharinya. Meskipun begitu, tetap saja dalam pelaksanaan nya diperlukan pengembangan mikroalga yang benar-benar tepat agar bisa melaksanakan fungsi absorpsi tersebut.

Kesimpulan akhirnya tetap cara yang paling efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca adalah dengan mengurangi penggunaan sumber energi fosil.

 

*artikel ini hanya respon terhadap majalah ESDM edisi 1, seluruh data dan kesamaan kalimat murni diambil dari artikel tersebut*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s