Kepedulian

“Kau tahu Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian. Opamu memilih peduli, maka dengan seluruh kesusahan, dengan keterbatasan yang dia miliki, dia tetap memutuskan menolongku yang sakit parah diatas kapal nelayan itu, meskipun itu bisa menyulitkan bahkan membahayakan dirinya sendiri. Dengan kepedulian dia bersedia membagi jatah makanannya yang sedikit, memberikan air minum yang susah payah didapat. Dengan kepedulian dia bersedia merawatku siang-malam, berhari-hari. Apa untungnya bagi Opamu saat itu? Tidak ada. Tetapi panggilan hatinya membuatnya melakukan semua itu. Enam puluh tahun kemudian, sepotong kejadian tersebut memberikan perbedaan. Kita tidak tahu apa yang terjadi hari ini kalau opamu memilih tidak peduli. Aku sakit keras, sekarat, tidak ada pertolongan berarti hanya soal waktu tubuh dinginku dilempar ke lautan.

 

“Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, seperti yang dilakukan opamu terhadapku, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.

 

“Selalulah menjadi seperti opamu, Nak. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung”.

 
Epilog Novel Negeri di Ujung tandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s