Berkaca Dari Bangkok

Kecrek itu terus bergerincing, nadanya sumbang, anak itu terlihat semangat menabuh melodi jalanannya siang itu. Badannya kumal, nampaknya ia tidak mandi beberapa hari atau memang tidak ada kamus mandi dalam kesehariannya. Matahari sudah melewati fase puncaknya, perlahan mulai bergerak ke Timur.

fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. (UUD 1945 pasal 34)

Susah payah memori otak saya menarik ingatan itu, era SMP dulu, pelajaran KWN. Saking minimnya implementasinya. Atau memang pasal itu sudah diamandemen? Coba liat saja, pergi saja ke kolong-kolong jembatan, terminal bis, atau naeklah commuter line jakarta. Realita itu memang kejam!
Ini bus ekonomi, jangankan berharap sejuknya AC, semriwing angin hasil putaran dinamo kipas pun tidak ada, yang ada, sepoi-sepoi angin jalanan. Tidak! Bukan itu masalahnya, tapi ini tentang waktu, bus ini baru bergerak pukul 14.30, satu jam paska saya menaikinya!!

Coba dibuat survei kecil-kecilan, kenapa akhirnya banyak orang lebih memilih menggunakan Kendaraan Pribadi dibandingkan angkutan umum. Saya haqqul yakin, terbuangnya waktu akibat ngetem pasti menjadi salah satu penyebabnya.

Berkaca pada Thailand

Pembahasan ini mungkin tidak apple to apple, karena yang saya bandingkan adalah Bangkok dan Bandung. Bukan Ibukota dengan Ibukota. Tapi tak apalah.

Kondisi di Salah satu terminal di Kota terbesar ketiga Indonesia itu sungguh sangat berbeda dengan kondisi transportasi massal di Kota Bangkok. Ya, Alhamdulillah 3 minggu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota itu. Dan satu hal yang akhir saya kagumi dari negara itu adalah sistem Transportasi massalnya.

MRT dan BTS, itulah 2 transportasi massal yang dimiliki Bangkok dan belum dimiliki Indonesia. jakarta baru memiliki tiang-tiang pancang monorel yang terbengkalai, entah kapan akan kembali mulai dibangun. Ini bukan persoalan gagah-gagahan teknologi, tapi ini tentang bagaimana akhirnya pemerintah dapat mengelola sebuah sistem transportasi terintegrasi yang akhirnya dapat mengurai permasalahan-permasalah klasik seperti kemacetan.

BTS adalah skytrain, sebuah sistem kereta dengan jalur khusus yang disokong tiang-tiang pancang. Dengan menggunakan BTS Anda dapat berkeliling tempat-tempat vital di Bangkok dan dengan menaiki BTS ini Anda juga dapat melihat pemandangan Bangkok dari ketinggian jalur BTS itu. Selain sistem pembayaran yang mudah, yakni dengan memasukkan koin-koin mata uang Bath sesuai rute yang Anda pilih. BTS juga sangat tepat waktu, nah ini yang mahal.

Sementara itu MRT adalah kereta bawah tanah, pertama kali menggunakan MRT ini, saya amat terpukau dengan infrastrukturnya. Menuruni tangga berjalan, saya disuguhi sebuah infrastruktur modern yang bahkan tidak kalah dengan infrastruktur bandara Soekarno Hatta. Rapih, bersih, modern, dan pastinya tidak ada calo.

Kedua sistem transportasi massal itu tidak saja (sedikit) mengurai masalah kemacetan, tetapi keduanya akhirnya mengajarkan masyarakat berbagai budaya positif, mulai dari budaya disiplin mengantri, kebersihan, tepat waktu hingga sebuah mindset global sistem transportasi massal. Lebih jauh lagi, kemudahan transportasi sebuah negara adalah salah satu magnet penarik para pelancong asing. Salah satu faktor pertimbangan seorang turis mengunjungi sebuah negara adalah bagaiaman sistem transportasinya, mudahkah? Itulah (mungkin) yang membuat Bangkok ramai dikunjungi turis, detik.com bahkan melansir Bangkok ditahun 2013 ini diprediksi menjadi kota dengan kunjungan turis terbanyak.

Dari Daily Mail, Senin (27/5/2013), riset menunjukan Bangkok menjadi destinasi nomor satu dalam jumlah kunjungan wisatawan. Ibu kota Thailand ini mengalahkan posisi kota populer lainnya seperti London, Paris, Singapura, dan New York.

Diperkiran wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Bangkok mencapai 15.980.000 orang tahun 2013. Sementara data BPS Jakarta menunjukkan Wisatawan mancanegara ke Jakarta adalah sebagai berikut :

Januari 13: 167.392 kunjungan | Februari`13: 187.429 kunjungan | Maret`13: 192.108 kunjungan | April`13: 168.986 kunjungan | Mei`13: 185.485 kunjungan | Juni`13: 217.309 kunjungan | Juli`13: 195.073 kunjungan

Jika angka itu tetap stabil atau tidak ada perubahan drastis hingga akhir tahun, maka jumlah wisawatan asing yang akan berkunjung ke Jakarta kurang dari 1.2 juta orang. Sangat jauh dari Bangkok.

Sejatinya Indonesia tidak kalah dari Thailand, dalam berbagai macam hal, Indonesia lebih baik. Atau bahkan dalam semua hal kita lebih baik. Hanya butuh angin segar dari political will pemerintah. Saya yakin, hal-hal positif dari negara-negara tetangga seperti ini sudah diketahui oleh pemimpin-pemimpin kita, hanya tinggal eksekusi saja. Tentu Anda tidak butuh kembali “study banding” dengan uang negara untuk melihat hal itu kan? Bravo Indonesia!

a  e d

Terminal Bis Cicaheum, Sabtu 21 September 2013

Disempurnakan di asrama tercintah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s