Karst Citatah : Menjelajah Diatas Bongkahan Laut

cropped-dsc007951.jpg

Udara siang Bandung siang itu sangat bersahabat, paska melaksanakan shalat jumat, kantuk menggelayut dan memaksa saya untuk sedikit merebahkan diri, namun, niat mengistirahatkn tubuh seketika sirna, sebuah sms masuk “Aku tunggu di Gerbang ITB”. Siang itu saya sudah memiliki janji dengan seorang teman untuk kembali menjelajah, Karst CITATAH. Sebenarnya janji itu baru dibuat jam 9 tadi pagi, yeah, kadang perencanaan yang terlalu lama justru membuatnya tidak terealisasi. SMS, sepakat, berangkat !

Menyiapkan berbagai peralatan (kamera, minum, ponco, jaket  eksplorasi) saya langsung bergegas menuju gerbang depan ITB. Setelah sedikit berbincang akhirnya diputuskan kami berangkat dengan motor Fahmi. Perjalanan itu pun dimulai, tepat pukul 13.00 Gerbang depan ITB menjadi saksi bisu perjelajahan dua orang jomblo itu..hehe

Jawa Barat dan Khususnya Bandung memang memilliki beragama objek wisata yang menarik, terutama wisata alam, atau kadang juga disebut Objek Geowisata (wisata Bumi). Area wisata yang kaya pengetahuan geologi. Sebut saja Gunung Batu, Gunung Padang di Cianjur, Gunung Tangkuban Perahu, Curug Malela hingga Karst Citatah ini. Maka sangat sayang rasanya selama tinggal di Bandung ini jika saya tidak sempat menjelajah tempat-tempat eksotis itu, Yeah!

Perjalanan ini tidak memakan waktu terlalu lama, mengambil jalur ke arah Barat (Cimahi) dan mengikuti papan penunjuk arah, kami sampai di area jalur padalarang satu jam kemudian. Deru truk pengangkut Batu Gamping menyambut kami, bergerak lambat dan tampak tertatih. Dari penampakannya, jelas truk-truk ini sudah uzur dan tidak layak untuk tetap “dikaryakan”, tapi ya beginilah kondisi penambangan di area kaya Batu Gamping Karst Citatah ini, jauh dari credo good mining practice. Belum lagi gumpalan asap hitam yang mengepul di berbagai sisi sepanjang area Padalarang ini. Entah sudah seberapa besar dampak polusi udara akibat kepulan asap ini. Debu putih serbuk gamping pun menjadi pemandangan lazim di area ini. Mengutip Her Suganda dalam bukunya Jendela Bandung, “Apakah keuntungan ekonomi jangka pendek dari daerah itu akan sesuai dengan kerugian dalam jangka panjang yang timbul karena kemerosotan lingkungan dan hancurnya salah satu halaman sejarah geologi dataran tinggi Bandung?”

Tujuan kami siang itu adalah area Gua Pawon yang masih merupakan bagian Karst Citatah Padalarang, untuk menuju kesana tidak terlalu sulit, sebuah gapura akan menjadi penunjuk jalan menuju area itu. Atau Anda bisa berpatokan pada Gunung Masigit. Menyusuri jalan setapak desa, menikmati sejuknya udara dan sunyi nya area ini adalah kenikmatan pembuka sebelum menikmati gua pawon dan garden stone di Pasir (bukit) pawon.

 

Karst Citatah

Kawasan Karst adalah istilah bagi bentang alam permukaan dan bawah permukaan pada batu gamping yang pembentukkannya dipengaruhi oleh proses pelarutan. Proto batu gamping , terutama yang berjenis reed, pada awalnya merupakan terumbu karang di pinggiran pantai yang biasanya dibentuk oleh koloni binatang koral yang mengalami proses pengendapan yang sempurna (Samodra, 2001). Kawasan karst Citatah termasuk warisan tertua di Pulau Jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog Apu hingga selatan Rajamandala, jajaran gunung batu ini terbentuk pada zaman Miosen, 20-30 juta tahun silam (KRCB, 2006). Gunung-gunung Batu gamping atau yang biasa lebih di kenal sebagai batu kapur menjadi ciri khas kawasan ini. Miris, itu mungkin gambaran perasaan ketika Anda mengunjungi kawasan ini, bukan saja terkait kerusakan lingkungan, tetapi juga tentang gairah kehidupan di kawasan ini. Jalan karya Daendels ini kini tak segagah dulu, sejak dibangunnya jalan tol Cipularang. Geliat kehidupan di kawasan ini ikut sirna, Karena kehidupan di area ini tidak lepas dari laju perjalanan Bandung-Jakarta atau sebaliknya.

Keberadaan Karst Citatah adalah bukti sejarah kehidupan bumi, khususnya Dataran Tinggi Bandung. Karst Citatah yang bercirikan batugamping yang berasal dari terumbu karang membuktikan Dataran Tinggi Bandung dahulu kala atau menurut penelitian Prof Soejono dan Prof Koesomadinata di zaman Miosen Awal (38-23 Juta tahun lalu) Bandung merupakan laut dangkal.

 

Gua Pawon, Hotelnya Manusia Purba

Melewati gapura penunjuk arah Gua Pawon, Anda cukup mengikuti jalan beraspal menuju Gua Pawon, perjalanan sekitar 5 menit dengan menggunakan motor Anda akan dengan mudah sampai di area Gua Pawon. Memarkir motor di depan saung dan pos jaga. Kami bergegas memasuki gua pawon. Area yang licin paska diguyur hujan menjaadi perhatian tersendiri bagi kami. Memasuki Gua Pawon, aroma kotoran kelelawar menyambut kami, khas dan sangat menyengat.

Dalam sejarahnya, Gua pawon diduga merupakan tempat tinggal manusia purba, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba pada tahun 2005. Ditempat ini juga ditemukan berbagai peralatan purba seperti alat menumbuk yang terbuat dari batuan andesit, pisau yang terbuat dari gamping dan perlatan lainnya yang terbuat dari obsidian ditemukan. Didalam gua, suara ratusan kelelawar menjadi teman kami, memasuki satu persatu gua sambil berimajinasi kehidupan manusia purba dulu, membuat jiwa penjelajahan saya semakin membuncah. Mengunjungi warisan bersejarah di Indonesia kadang membuat miris, bukan saja karena perawatannya yang minim, tapi juga tingkah pengunjungnya yang kadang membuat hati ngilu, corat-coretan di beberapa titik Gua Pawon ini salah satunya.

 

Garden Stone, Alam dan Kebebasan

Selesai mengeksplorasi Gua Pawon, kami menuju target selanjutnya, sejujurnya ini merupakan tujuan utama saya. Garden Stone (Kebun Batu) adalah area yang terletak di puncak Gua Pawon. Hamparan batu yang menjulang menjadi ciri khas area ini. Untuk menggapainya kami harus melewati jalan setapak yang sangat curam, belum lagi area lembab paska hujan, praktis medan makin sulit untuk didaki. Fase pertama pendakian menuju Garden Stone kami tutup dengan rasa frustasi, edan, kami salah jalan, sudah hampir sampai puncak justru kami makin menjauh dari area Garden Stone di puncak Gua Pawon itu. Saya berusaha membuka jalan, menerabs rimbunan perdu bermodal tongkat kayu, sayang, curamnya jalan ditambah kerikil-kerikil membuat eksperimen ini gagal, terpaksa kami kembali turun dan mencoba mencari jalan lain. Sampai dibawah akhirnya kami menemukan jalan yang –nampaknya- merupakan  jalan menuju Garden Stone. Kebahagiaan menemukan jalan itu di uji dengan curam dan licinnya jalan, tak jarang saya harus berhenti untuk sekedar mengambil napas dan membersihkan keringat bercampur air hujan yang mengucur. Ditengah perjalanan ini kami bertemu seorang tukang kebun yang sedang memanen hasil kebunnya, akhirnya kami tak menyianyiakan kesempatan itu untuk bertanya kepada bapak itu. 10 menit setelah bertanya, kami sampai di area Garden Stone. Sirna sudah segala lelah tubuh dan rasa frustasi dampak nyasar tadi. Keteduhan, ketenangan, keindahan, seluruh suasana di area Garden Stone ini sungguh menenangkan hati.

IMG_5782

 

Sayang, segala keindahan itu sedikit tercoreng dengan mengepulnya asap hitam di sekitar Gunung Masigit tak jauh dari area itu. Area Karst Citatah adalah salah satu area berpengetahun tinggi, dari area iniah sedikit banyak pengetahun tentang dataran tinggi Bandung dapat kita ketahui. Sayangnya area ini harus terus berjibaku dengan roda kehidupan industri tambang batu gamping yang mengelilinginya atau bukan tidak mungkin pun akan menghantamnya.

Tumpukan dan hamparan batu di area ini adalah sesuatu yang unik. Eksotis. Dan suasana ketenangan ini, ya, inilah salah satu tempat melepas penat kehidupan. Hampir satu jam kami berkeliling, mengambil gambar hingga berorasi di area ini…hehe, sayang, waktu terus bergulir dan pekat malam kian menjelang, kami harus bergegas kembali.

 

Gua Gunung Hawu, tunggu saya di lain waktu

 

Selain Garden Stone, keunikan lain dari Karst Citatah adalah Gua Gunung Hawu. Sebuah lengkungan lubang yang terbentuk secara alami di dinding batu gamping selebar lebih kurang 30 m dan tinggi 70 m. Lengkungan lubang alami yang akhirnya membentuk jembatan diatasnya ini konon hanya terdapat beberapa di dunia. Selain gua gunung hawu ini, fenomena geologi ini terdapat juga di Natural Bridge Virginia dan Arches National Monument di Utah, keduanya merupakan bagian dari Monumen Nasional Amerika Serikat. Sayangnya hari itu, saya belum berkesempatan mengunjungi tempat itu, ah, mungkin lain waktu.

Kami menutup penjelajahan hari itu dengan mengunjungi Salah satu masjid terbaik di indonesia, ya, masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan. Bukan saja arsitekturnya yang unik, pemandangan dari dalam masjid ini pun sungguh indah []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s