Industri Tambang dan Insentif PROPER

Salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan untuk menilai tingkat perhatian dan pengelolaan Lingkungan pada sebuah perusahaan atau industri adalah Proper award. Proper (Penilaian Peringkat Kinerja Penaatan dalam Pengelolaan Lingkungan) adalah program yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan hidup sejak 1995 adalah pemeringkatan tingkat perhatian sebuah perusahaan terhadap lingkungannya dimana proses penilaiannya berdasarkan 4 parameter, yakni : udara, air, limbah B3 dan Lahan (khusus industri tambang). Pemeringkatan Proper dibagi menjadi 5, dimana kriterianya dibagi berdasarkan warna. Hitam, Biru, Merah, Hijau Hingga Emas, berurutan dari yang terburuk hingga terbaik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa industri Tambang adalah sebuah industri yang merusak lingkungan, karena industri ini mengubah rona lingkungan sebuah daerah. Maka pertanyaan apakah industri tambang merusak? Jawabannya ya. Tetapi yang menjadi perhatian adalah bagaimana industri ini kemudian meminimalisir dampak kerusakan lingkungan yang dihasilkannya. Good Mining Practice adalah sebuah postulat yang harus senantiasa dipegang oleh para pelaku industri tambang, yakni melakukan kegiatan tambang sesuai tahapan ideal industri ini. Mulai dari penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, persiapan penambangan, penambangan, pengangkutan, pengolahan, pemasaran hingga bagaimana kegiatan paska tambang, juga dalam UU No 4 thun 2009 disebutkan ada tahapan reklamasi selama proses pertambangan berlangsung.

Dengan diadakannya penilaian Proper, masyarakat, pemerhati lingkungan, dan semua pihak yang ingin mengetahui kinerja perusahaan tambang khususnya dalam kaitannya dengan lingkungan dapat menjadikan proper ini sebagai acuan. Apakah perusahaan tersebut sudah taat pada atauran yang berlaku atau belum.
Kementrian Lingkungan hidup dengan jelas memaparkan parameter untuk tiap peringkat warna sebagai berikut.

Kriteria PROPER Lingkungan

Kriteria PROPER Lingkungan

Dari bagan tersebut kita harus mengapresiasi perusahaan yang mendapat peringkat hijau dan emas. Karena mereka yang mendapatkan kedua kriteria tersebut berarti sudah melaksanakan kegiatan melebihi penilaian (beyond compliance). Sebuah perusahaan yang mendapatkan peringkat hijau berarti mereka tidak saja memenuhi ketentuan lingkungan yang ada, tetapi mereka juga peduli terhadap kondisi masyarakat sekitarnya dengan melaksanakan kegiatan community development. Pun begitu dengan perusahaan yang mendapatkan kriteria emas, berarti perusahaan ini sudah sangat baik dalam hal pengelolaan lingkungan, etika berbisnis hingga tanggung jawab sosial perusahaan.

Proper 2013
Beberapa hari lalu pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup sudah merilis hasil proper 2013. Dari 1812 perusahaan yang dipantau Kementrian Lingkungan Hidup mengumumkan 1792 hasil penilaian proper perusahaan. Hasil Proper 2013 menunjukkan.
17 Perusahaan mendapat Hitam, 611 Perusahaan mendapat Merah, 1039 mendapat biru, 113 mendapat Hijau dan 12 Perusahaan mendapat Emas. Kabar baiknya dari 17 perusahaan yang mendapatkan Proper kriteria Hitam, tidak ada sama sekali perusahaan tambang didalamnya. Di sisi lain, 2 perusahaan tambang yakni : PT. Semen Indonesia Tuban dan PT Bukit Asam Tanjung Enim berhasil menggondol kriteria emas. Hasil ini merupakan sebuah peningkatan, karena sejak 2006-2011 setiap tahunnya perusahaan 1 tambang nangkring di kriteria hitam, bahkan 2012 4 perusahaan mendapatkan kriteria hitam tersebut. Pun begitu pada kriteria Emas, perusahaan tambang baru berhasil “duduk” di peringkat Emas pada tahun 2012 yakni : PT Adaro Indonesia Kalimantan Selatan.

Tidak dapat dipungkiri, hari-hari ini konsep majas pras pro toto (sebagian unsur/objek untuk menunjukkan keseluruhan objek) berlaku dalam industri tambang, artinya jika satu perusahaan tambang buruk dalam pengelolaan lingkungan, maka penilaian masyarakat terhadap industri tambang juga buruk. Maka menjadi keharusan terhadap seluruh insan tambang untuk menyadari hal itu, agar stigma buruk terhadap industri tambang dapat hilang, karena industri inilah salah satu tulang punggung perekonomian bangsa ini, pun harus sama-sama kita sadari potensi industri ini begitu besar, industri tambang harus mampu menjadi penggerak ekonomi remote area dimana mereka berada.
Majulah pertambangan untuk pembangunan !

Tulisan ini juga di publish di Kompasiana ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s